Indeks Berita

Ikuti berita-berita aktifitas Muslimat Hidayatullah se-Indonesia di sini

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image
Tampilkan postingan dengan label Siaran Pers. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Siaran Pers. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 September 2020

Siaran Pers Muslimat Hidayatullah Tentang Sexual Consent


Setelah mencermati maraknya pemberitaan tentang ’Sexual Consent’ yang membuat banyak pihak tidak bisa tinggal diam, bahkan bagi sebagian lembaga atau ormas ingin turut membahas sekaligus memberi solusi bagi permasalahan yang sedang terjadi sebagai perwujudan tanggungjawab terhadap masalah tersebut, maka ijinkan PP Muslimat Hidayatullah (Mushida) memberi pernyataan sebagai berikut.

Berikut ini siaran pers Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Tentang Masalah ‘Sexual Consent’. Unduh, Klik di sini.

Selasa, 16 Juni 2020

Siaran Pers Muslimat Hidayatullah Tentang RUU HIP

Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) menyatakan penolakannya terhadap Rancangan Undang Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP).

PP Mushida meminta dan mendesak kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah untuk menghentikan pembahasan RUU HIP karena secara substantif, filosofis, yuridis mereduksi kedudukan Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara.

Berikut ini siaran pers PP Mushida terkait Rancangan Undang Undang Haluan Ideologi Pancasila. Unduh, Klik di sini.

Sabtu, 30 Maret 2019

Siaran Pers Muslimat Hidayatullah Tentang RUU PKS

Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) mengeluarkan pernyataan pers tentang Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) yang penuh polemik.

Pernyataan ini dikeluarkan PP Mushida setelah mempelajari, mencermati diktum , pasal serta menelaah ayat-ayat yang termaktub dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang berkaitan dengan nilai syariat Islam dalam berkeluarga juga norma kesusilaan serta etika yang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. 

Berikut ini siaran pers PP Mushida terkait Rancangan Undang Undang Haluan Ideologi Pancasila.

Rabu, 20 Maret 2019

Rakernas 2019, Muslimat Hidayatullah Kuatkan Tarbiyah Dakwah

Muslimat Hidayatullah yang merupakan organisasi otonom pendukung (orpen) Hidayatullah, menyelenggarakan Rapat Kerjas Nasional (Rakernas) III Tahun 2019 di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, yang dibuka pada Selasa (19/3/2019). Pada Rakernas ini, tema yang diangkat adalah “Menguatkan Mainstream Tarbiyah Dakwah Muslimat dalam Mendukung Ketahanan Keluarga Indonesia”.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida), Reni Susilowaty, mengatakan ketahanan keluarga menjadi isu sentral yang menjadi prioritas gerakan Muslimat Hidayatullah.

Karena itu, lanjut dia, target-target kegiatan Muslimat Hidayatullah tidak saja penyadaran terhadap peran penting wanita atau ibu dalam mewujudkan ketahanan keluarga, tetapi juga berupaya mempromosikan nilai-nilai agung peradaban Islam dalam membangun ketahanan keluarga yang mengintegrasikan keterlibatan anggota keluarga khususnya ayah dan masyarakat secara luas.       

“Dalam hal ini, antara wanita dan pria bukan sebagai mitra setara, melainkan sebagai mitra sinergis dalam rangka mewujudkan ketahanan keluarga yang berkeadaban dan berketuhanan dengan menjunjung tinggi ajaran agama,” kata Reny dalam keterangannya kepada media, Rabu (20/3/2019).

Reny mengatakan, penguatan tarbiyah dakwah Muslimat Hidayatullah bersesuaian dengan tuntutan zaman di mana kita menghadapi tantangan yang dinamis dengan kompleksitasnya masing-masing. Tentu hal itu merupakan rintangan yang tidak ringan.

Sehingga, lanjut Reny, fenomena tersebut mesti dihadapi dengan satu sikap kedewasaan namun tetap  dengan kewaspadaan. Seperti dalam menghadapi dinamika  gaya hidup seperti –misalnya- dengan lahirnya istilah generasi millenial dan kaitannya dengan ledakan bonus demografi  bangsa kita.

“Karena itu dalam melakukan pembinaan generasi millenial, penting juga menyertakan pengetahuan dan pemahaman keagamaan. Ini penting untuk menguatkan imunitasnya sebagai generasi muda yang memilliki prinsip yang teguh,” ujar Reny.

Pemerintah melalui Undang-undang yang ada pun, sebut Reny, telah mengamanatkan pentingnya melakukan upaya mengokohkan ketahanan  keluarga sebagaimana dinukil Pasal 48 UU No. 52 Tahun 2009, tentang Pembinaan Ketahanan Remaja dilakukan dengan memberikan akses informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan tentang kehidupan berkeluarga.

“Membangun keluarga yang berkualitas  bukan saja soal memahami kesehatan reproduksi, ketercukupan ekonomi apalagi menuntut kesetaraan antar laki-laki dan perempuan. Keluarga berkualitas adalah terbangunnya harmoni, terjalinnya hubungan yang sinergis dan tersemainya kasih sayang dalam keluarga serta tegaknya nilai-nilai luhur Islam dalam keseharian. Bahagianya dunia akhirat,” tukasnya.

Melalui Rakernas ini, Reny mengatakan, Muslimat Hidayatullah ingin terus meneguhkan kiprah dalam rangka mengokohkan ketahanan keluarga Indonesia dan menghindarkan bangsa ini dari pengaruh negatif globalisasi seperti permisifisme, feminisme, liberalisme dan sekularisme. 

“Kokohnya negeri yang kita cintai ini diawali dengan kokohnya ketahanan setiap keluarga Indonesia. Dan yang amat berperan penting di sini adalah orangtua khususnya ibu sebagai madrasatul ula, pendidik yang pertama dan utama. Bersama Mushida, insya Allah, kita tegakkan peradaban bangsa,” tukasnya.

Pada kesempatan pembukaan tersebut, Reni Susilowaty menyapa para ibu-ibu senior Muslimat Hidayatullah dan para ibu senior pengawal Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Reny berharap Rakernas III yang juga menjadi Rakernas terakhir di tahun kepengurusan 2015-2020 ini berjalan lancar.

Ketua Panitia Rakernas III Mushida, Retnowati, mengatakan, Rakernas ini dirangkai dengan dua acara yang akan dilaksanakan secara paralel, yaitu Trainng For Trainer (TOT )Sirah Nabawiyah dan Pelatihan Kepemimpinan Ummahat. Dia menambahkan, dari 33 Pengurus Wilayah, ada 3 PW Muslimat Hidayatullah yang berhalangan hadir, yakni Sumatera Barat-Riau, Sumatera Selatan dan Maluku Utara.

FOTO-FOTO:







Sabtu, 02 Maret 2019

PW Mushida Jabodebek Minta RUU P-KS Harus Selaras dengan Pancasila

DEPOK - Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Jabodebek sejalan dengan semangat Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) apabila untuk mencegah terjadinya kejahatan seksual seperti perkosaan dan pencabulan.

Namun, Mushida Jabodebek menegaskan, pengesahan RUU P-PKS harus selaras dengan Pancasila sebagai falsafah bangsa dan dan tak menjadi tunggangan untuk melegalisasi penyimpangan yang berlawanan dengan Pancasila seperti pelacuran, lesbian, gay, biseksual dan transeksual (LGBT).

Ketua PW Mushida Jabodebek, Siti Marsiti, mengatakan dalam setiap pasal dalam RUU PKS memang tak tertuang bahwa perzinahan dan LGBT tidak dilarang. Namun, ia menilai, bunyi dari Pasal 1 dan 11 RUU PKS itulah yang seolah-olah mengizinkan perzinahan dan LGBT.

"Karena ini untuk kepentingan nasional khususnya keluarga Indonesia yang peduli terhadap keluhuran peradaban bangsa, maka tentu kita perlu memberi kritik terhadap RUU PKS ini. Jangan sampai bias dan kontra Pancasila," kata Marsisi dalam keterangan persnya, Sabtu (2/3/2019).

Mengutip studi Center for Gender Studies (CGS), Marsiti menyebutkan, pengaruh feminisme dalam kampanye penghapusan kekerasan seksual dalam RUU PKS ini tampak jelas dari penggunaan kata-kata “relasi kuasa atau relasi gender” dalam definisi kekerasan seksual yang menyiratkan peperangan terhadap konsep patriarki.

Kekerasan seksual yang dimaksud para feminis merupakan bentuk dari  gender-based violence atau kekerasan berbasis gender, yaitu mencakup orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi gender. (Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual, Februari 2017).

Filosofi yang mendasari munculnya konsep kekerasan seksual adalah pandangan bahwa kebebasan sejati perempuan hanya bisa diwujudkan apabila perempuan dapat mengontrol tubuhnya sendiri, my body is mine.

CGS menemukukan bahwa salah satu elemen penting patriarki adalah kontrol terhadap aktivitas seksual dan reproduksi dari tubuh perempuan. Pandangan tersebut merupakan ciri khas “worldview” kaum feminis radikal. Apabila masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim mampu memahami ajaran dan nilai-nilai universal Islam maka mereka akan tegas menolak konsep kekerasan seksual yang ditawarkan feminisme.

Karena itu, Marsiti menyarankan agar RUU PKS dikaji ulang secara lebih konfrehensif agar selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa yang menjunjung tinggi nilai agama dan norma-norma Pancasila. Ia pun menyesalkan stigma sejumlah pihak yang menuding kritikus RUU PKS ini dilakukan oleh kelompok konservatif Islam.

"Kritik atau penolakan terhadap RUU PKS hanyalah implikasi dari gejala sosial yang mengemuka. Kenapa kritik yang sebetulnya konstruktif malah diidentifikasi sebagai konservatisme. Jadi tidak perlu paranoid," imbuhnya.

Justru, lanjut dia, adanya suara berbeda dari mayoritas masyarakat tersebut mestinya menjadi pertimbangan sebagai beleid agar RUU PKS tetap sejalan dengan nilai etika bangsa Indonesia yang Berketuhanan yang Maha Esa dan berkemanusiaan yang beradab.

Kamis, 12 Juli 2018

Seminar Negeri Serumpun: Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Beradab

KELUARGA adalah unit terkecil suatu negara. Jika ingin membangun negara, maka kita harus membangun keluarga terlebih dahulu.

Setiap anggota keluarga masing-masing mempunyai tugas dan peran yang harus dilakukan dengan cara ma'ruf dan sesuai dengan syariat sehingga keharmonisan keluarga bisa tercipta, bahkan menjadi sebuah kekuatan.

Ayah, Ibu dan Anak yang terikat dalam institusi keluarga menjadi pelaku aktif dalam membangun sebuah keluarga yang kokoh dan juga bahagia.

Seorang ayah yang cerdas spiritualnya, dia akan berusaha keras agar semua anggota keluarganya dipastikan taat dengan aturan-aturan yang telah diyakini bersama.

Begitupun sang ibu, dengan kelembutannya dia harus cerdas memanage agar ia dan seluruh penghuni rumahnya selalu dekat dengan Dzat yang telah memberi mereka hidup dan kehidupan.

Lantas bagaimana agar anak-anak mampu mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya? Inilah PR para orang tua, mendidik mereka agar bersyukur dalam setiap keadaan. Mengajak mereka agar senantiasa menjaga adab, ibadah dan akhlaknya.

Lalu, apa yang harus kita; orang tua, -khususnya sebagai seorang ibu- lakukan agar tercapai harapan menjadikan keluarga dan seluruh anggota keluarga kuat, cerdas dan berakhlakul karimah?

Salah satu jawabannya Insyaa Allah ada dalam materi seminar yang akan digelar oleh Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah.

Dalam sesi yang terdiri dari 3 pembicara, yaitu Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah Dra Reni Susilawati, M.Pd.I, Ketua Wanita ISMA Malaysia Norsaleha Mohd Salleh,Ph.D serta Guru Besar Institute Pertanian Bogor - IPB Pakar Ketahanan Keluarga yang juga Ketua GiGa (Penggiat Keluarga) Indonesia Prof Dr Euis Sunarti, kita akan mengetahui bagaimana peran ibu dalam membangun ketahanan keluarga. Dilengkapi uraian bernas tentang Wanita Bahagia, Dunia pun Terasa Sempurna, kita akan mengetahui bagaimana peran ibu dalam membangun ketahanan keluarga.

Tak kalah pentingnya kita akan mengetahui pula kiat serta tips membangun ketahanan keluarga dari berbagai aspek kehidupan. Di akhir sesi, kita akan mendapatkan inspirasi sekaligus pelajaran berharga dari uraian singkat tentang bagaimana konsep parenting Nabawiyah menjawab persoalan dan permasalahan keluarga ke depan.

Penasaran, kan?

So, don't miss it! Seminar Negeri Serumpun "Membangun Ketahanan Keluarga Menuju Indonesia Beradab", tanggal 29 Juli 2018 di Auditorium Perpusnas Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Narahubung: 081346609254 (Zahratun Nahdhah)

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage