Indeks Berita

Ikuti berita-berita aktifitas Muslimat Hidayatullah se-Indonesia di sini

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2016

Muslimat Hidayatullah Gowa Terus Mendidik Generasi di Bollangi

MUSHIDA.ORG, BOLLANGI - Pengurus Muslimat Hidayatullah Gowa, Sulawesi Selatan, terus melakukan kerja-kerja keummatan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saat ini mereka merintis TK Yaa Bunayya Bollangi masih dalam perintisan.

Perjuangan mereka terbilang tidak sederhana. Gedung TK yang digunakan sekarang untuk proses belajar adalah milik salah satu warga Villa Pattalassng Indah yang berbaik hati meminjamkan untuk dipakai dengan batas waktu yang tidak disebutkan.

"Jika ditanya sampai kapan kami bisa pakai jawabnya pakai saja dulu nanti kalau saya mau pakai rumahnya pasti saya kasih tau, ini jawaban pemilik rumah yang sangat unik menurut saya," kata Pengurus PD Mushida Gowa, Ummu Najwa Salsabila, belum lama ini.

Ummu Najwa mengatakan, pihaknya pun sebagai tenaga pendidik tentunya punya perasaan yang unik juga dan mensyukuri hal tersebut. Kendatipun sering merawasa was-was kalau-kalau rumah untuk pendidikan tersebut akan digunakan pemiliknya.

Namun kondisi tersebut tak membuat mereka patah arang. Justru itu menjadi suatu tantangan tersendiri bagi mereka untuk terus memberikan kemampuan semaksimal mungkin memanfaatkan fasilitas gratis tersebut sebaik-baiknya agar bernilai amal di sisi Allah Ta'ala dan berbuah pahala bagi mereka dan pemilik rumah.

"Alhamdulillah TK Yaa Bunayya Bollangi sudah ada kegiatan fun cooking secara rutin," katanya.

Muslimat Hiadyatullah yang beralamat Jalan Bollangi, Desa Timbuseng, Kecamatan Pattalassang, Kabupaten Gowa, telah menjalankan kegiatan PAUD tersebut sejak 8 bulan lalu dengan peralatan seadanya tapi cukup memuaskan.

"Alat-alat peraga yang kami gunakan sebagian terbuat dari dari kardus kardus bekas yang dibentuk secantik mungkin ada juga sebagian sumbangan dari teman-teman," kata Ummu Najwa.

Dia menyebutkan, jumlah anak didiknya dari awal membuka berjumlah 10 orang. sebanyak 2 orang sudah tamat satunya melanjutkan pendidikan di SD Islam dan satunya lagi di SD Negeri  tidak jauh dari tempat tinggal sekarang.

"Alhamdulillah tahun ajaran baru kami mendapat tambahan anak didik empat orang jadi jumlah semuanya sebanyak 12 orang. Tapi kadang yang aktif hanya 10 orang," pungkas Ummu Najwa Salsabila berbesar hati. (ybh/hio)

FOTO DOKUMENTASI:










Selasa, 04 Oktober 2016

Kiprah Mushida sebagai Ketua LGTKI di Towuti Luwu Timur

FOKUS garapan mushida dibidang pendidikan salah satunya adalah mengawal dan mengembangkan pendidikan PAUD yakni TK/RA.


Bukan karena kebetulan atau karena tidak ada pekerjaan yang lain, tetapi secara fitrawi, pendidikan PAUD bagi seorang wanita terutama yang telah menyandang gelar sebagai Ibu atau berstatus seorang Istri, keterlibatan di pendidikan PAUD sangat membantu untuk menggali potensi kepengasuhan seorang Ibu dalam memahami karakter anak didik.

Para Ibu akan sangat akrab dengan pekerjaan kepengasuhan terutama para ummahat di Mushida yang telah memiliki platform kepengasuhan seoarang Ibu yang berlandaskan pada Al Qur’an dan Sunnah dan wajib untuk didakwahkan.

Menyadari potensi fitrawi tersebut, Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (PD Mushida) Luwu Timur yang telah mengelola pendidikan PAUD yakni TK dan TPA berupaya menghimpun diri melebur bersama-sama dengan TK/RA Islam lainnya dalam lembaga Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Islam (IGTKI) se-Kecamatan Towuti.

Tidak tanggung-tanggung, Mushida bukan sekedar bergabung tetapi juga menjadi penggerak IGTKI melalui penunjukan Ibu Dra. Hj. Armawati Ibrahim sebagai Ketua IGTKI dari delapan sekolah TK/RA yang bergabung didalamnya antara lain; TK Ash Shiddiqiyah, TK Babul Jannah, TK Asy Syifa, TK Al Khaeriyyah, TK Al Kautsar, TK Karya Mufidah.

IGTKI yang dibentuk sejak tahun 2012/2013 sangat membantu para guru untuk mengembangkan sekolah masing-masing disamping sebagai wadah silaturrahim dan mempererat ukhuwah diantara para guru.

Amanah sebagai Ketua IGTKI dimanfaatkan oleh Ibu Arma dengan mengadakan kegiatan yang sarat dengan muatan pendidikan dan dakwah seperti ; manasik haji bagi siswa (i) TK/RA yang juga melibatkan TPA, Seminar Pendidikan dan Pelatihan Guru.

Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap tahunnya dengan melibatkan semua TK/RA dan juga TPA se-Kecamatan Towuti.



Melalui kegiatan-kegiatan di IGTKI, mushida memperkenalkan diri dengan ke-khas-an ciri tarbiyah dan dakwahnya. Ide-ide tentang pendidikan Islam bagi anak usia dini diperkenalkan melalui kegiatan seminar-seminar yang juga melibatkan pemateri-pemateri dari tokoh-tokoh penggiat pendidikan dan dakwah di Mushida seperti Ibu Ida S. Widayanti, Ibu Irawati Istadi, dan Ibu Shabriati Azis.

Di tahun keempat ini IGTKI telah menggelar seminar pendidikan, manasik haji yang melibatkan siswa (i) TK/RA dan TPA dan juga pelatihan guru PAUD se Kecamatan Towuti yang melibatkan ketua PW Mushida Sul-Sel, Ibu Aqilah sebagai pemateri.

Pada pelatihan guru PAUD yang diadakan oleh IGTKI tanggal 27 Agustus 2016 di kampus Hidayatullah Soroako yang lalu, IGTKI menghadirkan Ibu Aqilah yang juga ketua PW Mushida Sulawesi Selatan yang membawakan materi Metode pengajaran di TK dan membahas tentang metode sentra sebagai salah satu metode dalam mengajar di TK/RA yang dapat diaplikasikan.

Metode ini telah lama disosialisasikan di TK dalam binaan Mushida sebagai salah satu metode yang efektif untuk mengelola kelas di TK/RA.

Para guru TK/RA yang tergabung dalam IGTKI sangat antusias mengikuti materi dan memberikan respon yang positif selama pelatihan berlangsung. Materi ini telah memberikan ilmu dan pengalaman baru pada guru-guru untuk dikembangkan disekolah masing-masing.

Tantangan-tantangan dakwah mengiringi kiprah Ibu Arma dalam menggerakkan IGKTI seperti persaingan dengan TK yang platformnya berbeda yang hampir seimbang didaerah tersebut.

Begitu juga dengan menghadapi karakter guru-guru dalam binaannya utamanya dalam membangun kultur Islami dan konsistensi dalam menampakkan budaya pergaulan dan sikap antar sesama guru dalam bingkai akhlaqul karimah.

Namun, baginya hidup ini memiliki irama yang kadang silih berganti harus kita lalui. Layaknya irama-irama lagu yang bagi para seniman mengelompokkannya dalam banyak ragam irama musik seperti jazz, pop, rock, dangdut, bahkan keroncong begitulah beliau menjalani kiprahnya yang baginya kadang tenang, lembut, namun juga terkadang berhadapan dengan situasi perjuangan yang keras dan berliku. Semua harus dilalui sebagai sebuah perjuangan untuk meraih janji syurga-Nya.

Bagi beliau, berdakwah tidak semudah membalik telapak tangan, Allah akan selalu menguji hambanya untuk memberikannya kekuatan-kekuatan. Melalui ujian-ujian dakwah maka kita akan selalu mendapatkan kualitas iman yang meningkat jika dapat melalui ujian-ujian tersebut.

Prinsip ini didapatkan beliau selama berjuang mulai awal di lembaga perjuangan Hidayatullah. Tempaan hidup yang digelutinya selama di lembaga sejak sebelum menikah hingga menikah dan sampai hari ini dilaluinya sebagai sebuah karunia Allah yang tidak ternilai harganya.

Pengalaman beliau menjadi pembina santri putri hingga pengasuh dan juga sebagai istri telah banyak memberikan ibrah untuk tidak berhenti dalam berjuang.

Kesan perjuangan ketika di berada di Gunung Tembak yaitu harus berjuang bangun sholat lail mulai jam 12 malam karena juga harus menyiapkan makanan sahur bagi ratusan santri waktu itu bersama-sama dengan pembina-pembina lainnya, bahkan setelah menikah pun masih bergelut dengan urusan dapur santri.

Bagi beliau, hidup ini perlu dinamis, tidak monoton, sehingga ketika harus ditugaskan ke suatu tempat, beliau enjoy-enjoy saja, dengan mengucapkan bismillah, beliau menjalankan amanah.

Saat ini, beliau kembali menjalankan amanah di Kampus Madya Masamba, bersama-sama dengan suami, Ustads Drs. H. Ahkam Sumadyana, MA. Kedua pasangan Murobbiyah ini ditugaskan sebagai Dewan Pembina di Masamba.

Keberadaan beliau juga telah menularkan semangat perjuangan yang luar biasa bagi para anggota mushida lainnya di Masamba.

Meskipun sesekali masih harus bolak-balik Masamba–Luwu Timur, tetapi beberapa kegiatan rutin di Kampus Madya Masamba telah dijalaninya beberapa bulan terakhir seperti; mendampingi halaqoh sebagai murobbiyah, mengajar di SD Integral yang baru dibuka, dan mendampingi pengurus Mushida Masamba dalam merealisasikan program-programnya. Intansurullaha Yansurukum. */Kiriman PD Muslimat Hidayatullah Luwu Timur

Senin, 01 Agustus 2016

DPD Mushida Depok Berkomitmen Tingkatkan Kualitas PAUD

Dewan Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, menyatakan komitmennya untuk terus melakukan revitalisasi dan moderasi konsep guna meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Depok.

Program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Kelas Bermain Taman Kanak Kanak (KB-TK)  yang dikelola oleh Muslimat Hidayatullah Depok di bawah koordinasi Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Depok, Jawa Barat, berupaya menjadi yang terdepan dalam kegiatan kependidikan dan kepengasuhan yang berlandaskan pada pembangunan karakter anak.

Hal itu disampaikan Kepala Sekolah PAUD-TK Yaa Bunayya Hidayatullah Depok, Ruspayanti, S.Pd.I, saat menyampaikan sosialisasi dalam acara orientasi wali murid di Gedung Aula SD Integral Hidayatullah Depok, Jawa Barat, Sabtu (30/07/2016).

“Dengan visi tak sekedar pintar tapi juga mencerdaskan jiwa, kita ingin menjadi lebih baik dan terdepan dalam kependidikan dan kepengasuhan anak usia dini,” katanya.

Ruspayanti menjelaskan, sistem pendidikan yang tepat pada anak usia pra sekolah sangatlah mempengaruhi perkembangan kepribadian hingga dewasa kelak.

Ditegaskan dia bahwa setiap anak adalah individu yang unik. Setiap anak memiliki kebutuhan akan minat, tahap perkembangan, dan gaya belajar yang berbeda. Mereka berhak untuk mengembangkan potensinya tanpa membedakan jenis kelamin, kondisi fisik, latar belakang budaya dan sebagainya.

“Nilai spiritual, cinta, kasih sayang, hormat, kesetaraan adalah nilai-nilai esensial bagi perkembangannya. Ini beberapa aspek yang sangat penting diperhatikan para pendidik di PAUD-TK Yaa Bunayya Hidayatullah Depok,” imbuh dia.

Karean spesialnya setiap anak, Ruspayanti mengingatkan anak hendaknya dipandang sebagai individu yang utuh dan memiliki potensi yang baik. Maka dari itu, kata dia, PAUD-KB-TK Yaa Bunayya sangat memperhatikan seluruh potensi yang ada seperti potensi spiritual, potensi social, kognitif, bahasa, fisik motorik dan seni sebagai hal yang sama pentingnya untuk dikembangkan.

PAUD-KB-TKA Yaa Bunayya Hidayatullah Kota Depok memiliki misi menyelenggarakan pendidikan yang integral sehingga melahirkan generasi yang siap memikul amanah Allah, cerdas, kreatif, mandiri dan berwawasan global. Berdakwah melalui pendidikan, dan mengutamakan kasih sayang dan keteladanan dalam proses pendidikan.

Misi selanjutnya, tambah dia, menciptakan lingkungan pendidkan anak yang islamiah, ilmiah dan alamiah. Serta meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan menjadi manusia yang berkarakter integral.

Lebih jauh Ruspayanti mengemukakan bahwa PAUD-KB-TKA Yaa Bunayya Hidayatullah Kota Depok memiliki target output yang beraqidah kuat, cerdas emosi, berakhlaq mulia, berwawasan ilmu, sehat fisik dan terampil, berkebiasaan yang baik, dan memiliki kepedulian sosial.

Untuk menunjang visi, misi, dan target-targetnya tersebut, PAUD-KB-TKA Yaa Bunayya Hidayatullah Kota Depok memiliki sejumlah penunjang pelaksanaan kurikulum dan membuka wawasan anak agar lebih luas kami juga menyelenggarakan program-program.

Diantara penunjang tersebut adalah belajar membaca Al Qur’an secara klasikal dan individual, rihlah/tadabur alam, ketersediaan perpustakaan, pengenalan profesi, bakti sosial, praktek wudlu dan sholat, ekstra kurikuler, peringatan hari besar islam, dan kegiatan pentas seni.

PAUD-KB-TKA Yaa Bunayya Hidayatullah Kota Depok juga menyelenggarakan sejumlah sentra yaitu Sentra Persiapan (merangsang kemampuan sistematisasi, klasifikasi), Sentra Balok (melatih sistematika berfikir), Sentra Seni (merangsang motorik halus dan kasar dan estetika), Sentra Main Peran Besar dan Main Peran Kecil (kemampuan berfikir obyektif), dan Sentra Bahan Alam (mendukung tahap perkembangan sensorimotor).

“Semoga Allah Ta’ala memberikan pertolongannya kepada kami dalam menjalankan amanah ini dan tentu berharap kerjasama yang baik dengan bapak dan ibu sekalian,” kata Bunda Ruspayanti menutup pemaparannya. (ybh/hio)

Rabu, 27 Juli 2016

Tingkatkan Kualitas Daiyah, Mushida Kupang Gelar Pelatihan Pendalaman Al Qur'an


Dewan Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar acara pelatihan pembelajaran untuk pendalaman Al Qur'an, belum lama ini. Hadir pada kesempatan tersebut sebagai pemateri Tuti Rahmawati.

Beliau adalah kandidat doktor Institut Ilmu Quran, Tangerang, Jakarta. Tuti Rahmawati menjadi pemateri pada acara tersebut yang berlangsung di Komplek Rumah Quran Hidayatullah Kelapa Lima, Kota Kupang, NTT, Selasa sore (26/07/2016).

Selain jajaran pengurus DPD Mushida Kupang dan pengurus wilayah, hadir pula dalam rangkaian acara singkat ini antara lain, Senator NTT, Anwar Hadi Tori, Ketua DPD Hidayatullah Kota Kupang,  Syaiful Bahri, Ketua Yayasan Ulil Amri, dan pengurus Taman Pendidikan Rumah Quran Hidayatullah Kota Kupang.

Dalam penyampaiannya, Tuti banyak berinteraksi dengan peserta. Dengan gaya khas retorika yang memadai ia mampu memberikan gambaran tentang materi, cara mengajar yang efektif bagi guru di lingkup Taman Pendidikan Quran (TPQ), yang notabene adalah anak usia dini dimulai dari umur 5 tahun hingga 12 tahun.

Tuti kini telah lama bergelut di dunia pendidikan anak-anak selama kurang lebih 25 tahun. Walau dirinya telah mencapai  pendidikan kandidat doktor, sampai sekarang ia juga masih mengajar anak-anak TPQ.
Mengapa demikian? Ia bercerita bahwa, dari taman pendidikan seperti inilah tabungan akherat kita yang akan kita petik nanti hasilnya. Karena dengan mengajar anak-anak usia dini, kita telah menyiapkan generasi terbaik pada masa yang akan datang.

Tak ayal ketika mengurus anak-anak TPQ, ia banyak diundang di beberapa kota, baik dalam negeri muapun luar negeri. Diantaranya, Tuti pernah diundang ke Australia dan Amerika Serikat.

Dalam safarinya ke beberapa daerah di NTT. ia sempatkan mampir berbagi ilmu di hadapan guru dan ustadz Taman Pendidikan Rumah Quran.

Tuti berpesan, kalau mau jadi guru yang handal maka persiapkan segala sesuatunya saat mengajar. Diantaranya, ilmu yang mumpuni, akhlak yang baik, serta kurikulum tempat mengajar tersebut diterapkan.

Ada guru yang ketika mengajar tidak sempat mempersiapkan segala sesuatu, sehingga ketika berhadapan dengan murid akhirnya ia kewalahan.

Materi apa yang harus diajarkan itulah paling menentukan suksesnya kegiatan belajar anak-anak. Tuti berbagi tips, Jadi guru itu harus banyak senyum. Tiada pantas bagi seorang pendidik bermuka masam di hadapan peserta didik.
Kata dia, Guru yang berhasil adalah mampu mendidik yang tidak bisa sekali dalam hal baca tulis menjadi bisa baca tulis. Ia pun menambahkan, sehingga dari itu segala sesuatu mesti dipersiapkan dengan matang oleh guru.

Menurut laporannya, dirinya bisa hadir ke NTT adalah atas izin Allah Swt lewat rejeki yang dititipkan Allah kepada Bapak Syafruddin Atasoge, yang kini menjadi Senator NTT.

Syafruddin Atasoge sendiri adalah pemerhati umat Islam di wilayah kerjanya. Banyak kegiatan atau program kerja umat Islam di NTT yang dibantu. Kalau saja ia tidak terpilih pada periode yang lalu mungkin nasib umat Islam NTT tak akan seperti ini. Cerita tuti pada sela sela acara tersebut. */Usman AW

Kamis, 30 April 2015

Agar Hukuman Berefek Positif

Oleh Sri Lestari*

HARI ini kelas 5A yang biasanya ceria menjadi tegang. Pasalnya telah terjadi pelanggaran yang bisa dikategorikan berat untuk ukuran kelas tersebut yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama.

Ada seorang anak yang secara sembunyi-sembunyi merokok dan ketahuan temannya. Ketika ditegur temannya bukannya sadar, ia malah mengancam akan memukulnya bila memberitahukan hal tersebut kepada pak guru.

Tapi beruntunglah hal tersebut di ketahui seorang guru yang tanpa sengaja melintas di tempat tersebut. Sehingga permasalahan langsung  ditangani.

Kedua anak ini dipanggil di kantor guru dan ditanya,”Apa kamu mengetahui dengan benar bahwa Doni merokok?”

“Iya benar pak! Saya melihat sendiri ia merokok. Ketika saya tegur ia menjadi marah dan mengancam saya,” kata Ilham menjelaskan.

“Benar begitu, Doni?” Doni hanya menunduk.

“Bukankah kamu tahu bahwa merokok itu bisa merusak kesehatan dan termasuk perbuatan yang mubadzir, pemborosan yang di larang dalam agama. Mengapa kamu melakukan hal itu,” tanya pak Guru.

“Saya menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi pak,” Kata Doni.

“Minta ampunlah pada Allah dan berjanjilah kepada-Nya untuk tidak mengulanginya. Karena kalau kamu berjanji pada bapak bisa saja kamu melakukannya lagi di belakang bapak. Kalau kamu berjanji kepada Allah Yang Maha Melihat dan Mengawasi tentu kamu akan berusaha untuk memegang janjimu,” nasehat pak guru.

“Karena kamu telah bersalah maka kamu dapat hukuman membuat kliping dan menulis tentang bahaya rokok baik bagi si perokok maupun bagi orang yang berada di sekitar perokok!”

“Iya pak akan saya buat.”Kata Doni.

Kesalahan
Siapa diantara kita yang berani mengatakan dirinya tidak pernah melakukan kesalahan? Sepanjang dunia ini masih ada manusia dan setanpun masih ada, maka kemungkinan kita berbuat salah itu selalu ada.

Tapi, berdasarkan Hadits Nabi sebaik baik kamu adalah manusia yang bertaubat dari kesalahannya,dan mengiringi kesalahannya dengan berbuat kebaikan.

Orang dewasa saja bisa berbuat salah apalagi anak anak yang tentunya masih banyak hal yang belum ia ketahui dalam kehidupan ini.Maka peluang berbuat salah bagi mereka sangatlah besar.

Yang perlu diperhatikan disini bagaimana anak anak bisa belajar dari kesalahan yang telah ia perbuat, dan tidak mengulangi kesalahannya.

Sebagaimana yang dilakukan oleh seorang guru pada ilustrasi diatas yang memberikan peringatan dan hukuman dengan memberikan tugas pada anak. Guru berharap anak tidak mengulangi perbuatannya.    

Yang menjadi pertanyaan terkadang kita sudah memberikan hukuman pada anak tapi ternyata tidak bisa merubah perilaku buruk anak. Lalu hukuman apa yang efektif bisa memberikan efek positif pada anak?.

Lalu, bolehkah kita memberikan hukuman yang bersifat fisik pada anak? Kalau boleh, bagaimana memberikannya sesuai dengan tuntunan agama sehingga tidak menimbulkan dampak negatif apalagi sampai menganiaya anak?

Tips Menghukum EfektifPerhatikan usia anak karena pada setiap usia perkembangan tentu berbeda penyikapannya. Misal berbohongnya anak usia dua setengah tahun dengan anak yang sudah 12 tahun tentu berbeda.

Karena, anak usia dua atau tiga tahun belum bisa membedakan antara khayalan imajinasi dengan sesuatu yang nyata. Sedang anak 12 tahun harusnya sudah tahu mana itu bicara benar dan berbohong. 
   
Untuk kesalahan yang pertama kali dilakukan anak berilah kesempatan anak untuk bertaubat dan meminta maaf. Bisa dengan membuat perjanjian untuk tidak mengulangi kesalahannya atau bentuk lainnya.
   
Tidak menjadikan hukuman sebagai sarana mempermalukan anak.Tapi sebagai wujud kasih sayang pendidik dalam bentuk lain untuk memperbaiki perilaku anak.
   
Bertahap dalam memberikan hukuman. Misal pertama di beri nasihat, peringatan, dicabutnya beberapa hal yang di senanginya. Perhatikan karakter anak. Karena setiap anak akan berbeda.

Ada anak ketika berbuat salah dengan hanya di beri nasehat sudah bisa berubah. Ada yang dengan wajah tidak suka orang tuanya ia sudah faham. Tapi ada juga anak sudah di beri nasehat, kemudian peringata dan segala macam cara tidak juga berubah sikapnya, baru dengan hukuman fisik baru berubah.
   
Jadikan hukuman fisik sebagai jalan terakhir setelah segala upaya untuk memperbaiki kesalahan anak tidak berhasil. Hukuman fisik ini berdasar hadits Nabi:
   
“Suruhlah anak anak kamu untuk shalat saat usia mereka tujuh tahun.Dan pukullah mereka(jika tidak mau shalat) bila umur mereka mencapai sepuluh tahun. Dan pisahkanlah di antara mereka di tempat tidur.”(R.Abu Dawud).
   
Memberikan hukuman fisik dengan catatan tidak boleh marah ketika menghukum, tidak boleh memukul muka dan kepala, kalau terpaksa harus memukul hendaklah memukul di tangan atau kaki. Pukulannya tidak keras dan tidak menyakitkan.
   
Agar kita memahami dengan jelas posisi hukuman fisik dalam pendidikan marilah kita simak sebuah hadits. Dari Aisyah mengatakan, ”Rasulullah SAW tidak pernah memukul pembantu, binatang dan apa pun, kecuali saat ia berjihad di jalan Allah”. (HR.Muslim).

___________
SRI LESTARI, Penulis adalah Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Jateng DIY, ibu rumah tangga, dan penulis buku.

Selasa, 14 April 2015

Mushida dan UT Makassar Gelar Workshop PAUD

Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan (PW Mushida Sulsel) menggelar kegiatan pelatihan dan workshop pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se-Indonesia Timur yang dilaksanakan di kampus Amkop Makassar, belum lama ini.

Acara yang digelar bekerjasama dengan Universitas Terbuka (UT) Makassar ini dimanfaatkan sekaligus oleh UPBJJ-UT Makassar untuk mensosialisasikan Program S1-PG PAUD di UT Makassar. Masukan sarjana yang baru akan dilauncing pada masa registrasi 2015 ini. Pada kesempatan ini juga disampaikan program UT secara umum dan program S1-PGSD BI (Bidang Ilmu).

Kegiatan sosialisasi dan promosi (Sosprom) UT ini dihadiri oleh 35 peserta yang berasal dari guru PAUD Wilayah Indonesia Timur dan diketuai oleh Ibu Husnia selaku Ketua PW Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan.

Sosprom ini dibawakan oleh Kepala UPBJJ-UT Makassar, Andi Sylvana, SE., M. Si dan didampingi oleh dosen UPBJJ-UT Makassar Dra.Husnaeni, M. Pd.

Kepala UPBJJ-UT Makassar menyampaikan materi tentang Program UT secara umum dan Program S1-PGPAUD Masukan Sarjana. Sedangkan Dra. Husnaeni M.Pd menyampaikan materi Program SI PGSD BI. Acara sosialisasi ini diakhiri dengan tanya jawab anatar pemateri dengan peserta yang selanjutnya diadakan foto bersama.

Adapun workhsop PAUD berlangsung semarak karena selain dilakukan secara indoor, kegiatan ini juga semakin hidup dengan kegiatan outdoor. Peserta mengaku semakin mendapatkan spirit baru dalam mengemban amanah sebagai pendiidk anak-anak usia dini.

"Alhamdulillah, sangat inspiratif. Perlu terus digalakkan," kata Hasni Rahmat peserta yang berasal dari Kabupaten Bone. (cha/ksa)

Jumat, 06 Maret 2015

Mushida Sumut Gelar Upgrading Daiyah Transformatif

Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sumatera Utara (PW Mushida Sumut) menggelar acara upgrading guru dan daiyah se-Sumatera yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa Deliserdang (20 s/d 23 Februari 2015 lalu.

Tema inti yang dibahas dalam kegiatan upgrading ini antara lain teknik mendongeng untuk anak yang menghadirkan narasumber pakar yaitu Wiwik Puspita Sari S.Pd, M.Pd. Wiwik adalah peraih juara satu Mendongeng Tingkat Nasional asal Medan.

Kegiatan ini dirangkai dengan acara Training Marhalah Ula untuk anggota Mushida dengan menghadirkan narasumber anggota Dewan Syuro Hidayatullah Drs. H. Abdurrahman MA dan Ketua Departemen Dakwah Dakwah Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Drs. H. Shohibul Anwar, M.HI.

Kegiatan ini diikuti oleh sedikitnya 100 orang utusan dari Pimpinan-pimpinan Daerah dan Pimpinan Cabang Muslimat Hidayatullah Se-Sumatera Utara.

Wiwik dalam pemaparannya mengatakan, mengapa harus mendongeng. Ternyata, kata dia, dongeng tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki manfaat bagi anak-anak.

"Dongeng sejak dulu selalu membawa pesan yang begitu menyentuh, sehingga membentuk anak berperilaku baik. Lebih dari itu, mungkin dulu Anda terpesona suara ibu atau ayah saat mereka mendongeng untuk Anda malam-malam sebelum tidur," kata Wiwik dalam penyampaiannya yang penuh semangat.

Wiwik menyebutkan diantara manfaat berdogen untuk anak adalah meningkatkan keterampilan bicara anak karena anak akan kenal banyak kosa kata, mengembangkan kemampuan berbahasa anak, dengan mendengarkan struktur kalimat, meningkatkan minat baca, mengembangkan keterampilan berpikir.

Selain itu, sambungnya, dongeng juga dapat meningkatkan keterampilan problem solving, merangsang imajinasi dan kreativitas, mengembangkan kepekaan emosi, memperkenalkan nilai-nilai moral, memperkenalkan ide-ide baru, mengalami budaya lain, relaksasi, serta dapat mempererat ikatan emosi dengan pendongeng (guru atau orangtua).

Sementara itu, Ketua PW Muslimat Hidayatullah Sumatera Utara, Mukminah, menjelaskan bahwa upgrading daiyah bertujuan memberikan wawasan serta tambahan  spirit atau semangat dan ilmu para istri dai Hidayatullah yang bertugas di daerah di wilayah Sumatera Utara dalam menghadapi medan dakwah.

"Hidayatullah sebagai ormas yang bergerak di bidang dakwah Islam dan Pendidikan memiliki program utama  untuk mewujudkan agenda perubahan dalam skala individu, keluarga, dan masyarakat secara mendasar dan terarah," kata beliau. 

Alhamdulillah Hidayatullah telah berkembang menasional. Di Indonesia telah berdiri kantong-kantong dakwah dan basis-basis pendidikan Islam dibawah bendera organisi ini. Diantaranya telah hadir di daerah-daerah yang ada di wilayah Sumatera Utara.

"Tentu saja kehadiran para daiyah Hidayatullah di Sumatera Uatara, disamping mendapat respon positif dari masyarakat, namun disisi lain tak sedikit dan tak jarang menghadapi tantangan di lapangan. Baik tantangan dari eksternal maupun tantangan internal daiyah itu sendiri," imbuhnya.

Tantangan ekternal misalnya, ujar Mukminah, keanekaragaman suku dan budaya, bahasa, serta agama yang ada di Sumatera Utara. Hal ini tentunya memerlukan kepiawaian tersendiri dalam melakukan pendekatan (approach).

Luasnya wilayah dan jauhnya jarak tempat berdakwah dari pusat kota. Tak jarang para daiyah Hidayatullah yang ditugaskan di daerah minus, dalam artian minus jumlah ummat Islamnya maupun minus dari sisi sumberdaya alamnya sehingga masyarakatnya termarjinalkan. Tantangan lain secara eksternal adalah adanya gerakan dekadensi moral, liberalisasi agama, bahkan gerakan de-Islamisasi, de-Humanisasi, salibisasi, serta gerakan anti Islam lainnya.

Tantangan internalnya tentunya adalah menyangkut kemampuan sumberdaya insani para daiyah itu sendiri yang memang terbatas, atau bahkan lemah, baik dari segi kemampuan intelektual, pengalaman, metologi, psikologi, antropologi, sosiologi dan lain sebagainya.

"Sehingga perlu dilakukan penyegaran, upgrading serta pembekalan yang memadai untuk meningkatkan kemampuan Sumberdaya Insani tersebut. Salah satunya seperti acara yang kita gelar saat ini," katanya menjelaskan.

Karenanya dipandang perlu untuk terus dilaksanakan kegiatan upgrading daiyah Transformatif Muslimat Hidayatullah Se-Sumatera ini dalam rangka menyiapkan serta meningkatkan kemampuan, baik intelekktual, spiritual maupun life skill para da’iyah, sehingga mereka bisa kembali tandang ke gelanggang dakwah lebih percaya diri dan lebih mandiri sehingga mampu mengantar ummat ini menjadi bermartabat.

Dukungan semua pihak, baik pemerintah, instansi serta masyarakat, tentunya sangat diharapkan demi terlaksana dan terselenggaranya kegiatan yang mulia ini dengan lancar dan baik. Sehingga bisa memenuhi secara maksimal harapan kita untuk mewujudkan dan  memperkuat barisan da'iyah di Sumatera Uatara ini. Semoga. (cha/sya)

Rabu, 21 Januari 2015

Mushida: Mahasiswi Harus Memahami Problematika Umat

Mencari ilmu sesungguhnya untuk lebih mengenali Sang Pencipta dan kedudukan manusia sebagai hamba. Karena itu, semangat menuntut ilmu dalam rangka mempertebal keimanan kepada Allah. Sebab sumber ilmu adalah Allah Subhanahu Wata’ala.

Demikian salah satu materi tentang ‘Konsep Ilmu’ yang disampaikan malia Husna Bahar dalam kegiatan ‘Training Guru Pendidikan Anak Usia Dini’ (PAUD) Muslimah Hidayatullah, beberapa waktu lalu.

Acara yang digelar selama tiga hari tersebut dihadiri sekitar 100 orang guru PAUD yang menyebar di berbagai daerah binaan dakwah Hidayatullah se-Kalimantan Timur.

“Guru yang memiliki kesadaran tersebut akan terdorong untuk mengajar dengan baik dan penuh semangat,” ungkap Sekjen PP Muslimat Hidayatullah, Amalia Husnah Bahar, yang biasa disapa Ibu Yuyu ini menjelaskan.

Selaku hamba dan khalifah di bumi, manusia dituntut melakoni peran guru dengan orientasi yang benar.

Masih menurut Ibu Yuyu, peran guru sangat penting dalam mengarahkan pendidikan dan pembinaan karakter anak didiknya.

“Apa jadinya pendidikan bila ternyata guru itu sendiri yang bermasalah?” Ujar Ibu Yuyu bertanya.

Kegiatan training diselenggarakan oleh Pimpinan Wilayah (PW) Muslimah Hidayatullah (Mushida) Kalimantan Timur dengan menggandeng Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri.

Mushida berharap, para mahasiswi sejak dini mampu menyerap dan memahami realitas dakwah serta problematika keumatan.

“Kegiatan semacam ini layak diikuti oleh para mahasiswi. Sebab nantinya merekalah yang terjun berdakwah di tengah masyarakat,” papar Sholihah, Pengurus PW Mushida Kaltim.

Selain menghadirkan instruktur dari Pimpinan Pusat (PP) Mushida, training yang membidik tema “Mendidik Dengan Manhaj Nabawi Untuk Membangun Peradaban Islam” ini juga dihadiri oleh dr. Neni Moerniaeni, SpoG, seorang tokoh perempuan Kaltim.

“Kita semua harus berjuang, karena sejak terlahir manusia sudah dikenalkan dengan arti perjuangan,” ucap Bunda Neni, panggilan akrab istri Andy Sofyan Hasdam, mantan Wali Kota Bontang tersebut.

“Bagi wanita, menjadi seorang pendidik bagi keluarga, itulah kebanggaan sekaligus pengorbanan mereka,” imbuh Bunda Neni kembali.

Bunda Neni berharap, pelatihan dan training semacam ini bisa menghasilkan para pendidik yang visioner.

Guru yang tak hanya mentrasfer pengetahuan semata, tapi juga mampu mentrasformasi idealisme dan akhlak yang baik kepada murid-muridnya.

“Berilah manfaat sebesar-besarnya kepada anak didik kita. Sebab merekalah pewaris masa depan dakwah dan perjuangan ini,” terang Neni.

Bagi STIS Hidayatullah Putri, berbagai acara Mushida yang biasa digelar di kampus Gunung Tembak, Balikpapan ini memberi berkah tersendiri.

Selain bisa bersilaturahim dengan guru-guru dari sejumlah daerah, para mahasiswi juga berkesempatan unjuk potensi dengan menggelar kegiatan bazaar di sela-sela acara.

Kegiatan bazaar itu sendiri menjadi hiburan tersendiri bagi peserta training. Oleh panitia, disiapkan beberapa stand dengan ragam jualan yang berserak rapi di setiap stand. Mulai dari penganan ringan hingga pakaian-pakaian muslimah dan anak-anak.

Sebagai tuan rumah, STIS Hidayatullah tak ketinggalan menampilkan beberapa karya hasil olah tangan mahasiswi. Diantaranya ada “Weshal Cookies” dan kerajinan tangan lainnya.

“Alhamdulillah, senang bisa terlibat dalam kegiatan ini. Banyak manfaatnya insya Allah,” tutur Fitri Yusran mewakili kawannya para mahasiswi.*/Hidcom

Rabu, 24 Desember 2014

Seminar Parenting dan Training PAUD di Tanjung Pinang

Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (PD Mushida) Tanjung Pinang menggelar acara seminar parenting dan dibarengi dengan curah gagasan tentang penyelenggaraan pendidikan anak usia dini (PAUD) . Acara ini digelar pada akhir Desember selama 3 hari (21-23/ 12/ 2014).

Kegiatan ini menghadirkan Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida), Drs. Reni Susilowati, M.Pd.I dan Ketua Annisa Hidayatullah Neny Setiawaty, S.Pd.I.

Ada kisah yang mengharukan sekaligus menggelikan yang dialami kedua pameteri yang berangkat dari Jakarta ini. Karena jarak yang cukup dari jauh dari Jakarta serta keduanya yang masih retatif awam dengan peta provinsi Kepualaun Riau, mereka pun sempat tersesat hingga hampir menuju ke Pangkal Pinang.

"Subhanallah, meski harus melewati laut dengan kapal ketinting, akhirnya (kami) sampai juga di Pulau Penyengat dan akhirnya (ketika) pulang naik kapal patroli bea cukai," kisah Neny dalam update akun jejaring sosialnya.

Tentu saja bukanlah perjalanan yang sederhana. Keduanya menyeberang lautan untuk dapat sampai ke lokasi acara. Namun, ditegaskan Neny, apa yang telah mereka jalani tersebut belumlah seberapa ketimbang tantangan daiyah Mushida yang ada di tempat-tempat pengabdian mereka sebagai pengabdi umat.

Karenanya, Ketum PP Mushida Reni Susilowati, dalam pengarahannya di hadapan anggota Mushida di Tanjung Pinang, menyampakan apresiasinya kepada Mushida di berbagai wilayah di nusantara atas kiprah mereka yang sarat dengan cobaan dan tantangan yang tidak ringan.

"Mushida telah berkontribusi sangat positif terhadap perkemangan dakwah dan pendidikan tidak saja dalam lingkup Hidayatullah tapi juga terus berpacu diri dalam berkarya di masyarakat," kata Reni.

Dalam bidang PAUD, misalnya, Reni memuji dan merasa berbangga atas usaha yang dilakukan Mushida yang telah membuka layanan pendidikan anak usia dini di berbagai wilayah. Meski dengan fasilitas dan kemampuan sumber daya yang terbatas, Mushida mampu merintis kegiatan pendidikan anak usia dini.

Dalam pemaparannya dalam materi tentang PAUD, Reni menjelaskan bahwa pendidikan  anak  usia  dini  adalah  upaya  pembinaan  yang  ditujukan  kepada anak  sejak  lahir  sampai  dengan  usia  6  tahun  yang  dilakukan  melalui pemberian  rangsangan  pendidikan  untuk  membantu  pertumbuhan  dan perkembangan  jasmani  dan  rohani  agar  anak memiliki  kesiapan  dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Mengingat perannya yang sangat penting tersebut sebagai wadah pembinaan, menumbuhkan, mengembangkan, serta pendampingan seluruh potensi anak usia dini, Reni mendorong kader Mushida untuk selalu optimal dalam mengawali kegiatan ini.

Lebih jauh Reni menjelaskan bahwa keberadaan PAUD sejatinya adalah dalam rangka mengembangkan potensi kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, kinestetis, dan social peserta didik pada masa emas pertumbuhannya dalam lingkungan bermain yang edukatif dan menyenangkan.

"Karena itu, mari kita saling mendukung dan saling menguatkan simpul ukhuwah dalam membangun kekuatan edukasi dalam rangka pengembangan layanan pendidikan anak usia dini ini," pungkas Reni.

Di akhir acara para peserta menyempatkan diri untuk saling bersilaturrahim dan berjalan-jalan melepas ketegangan usai mengikuti training yang digelar intensif selama 3 hari tersebut.

Selain itu, Reny dan Neny pada kesempatan tersebut menjadi pemateri acara seminar parenting. Seminar yang digelar sehari ini membahas masalah keluarga, problematika, dinamika, serta solusi-solusinya yang sekiranya penting untuk terus disosialisasikan.  (mus/hid)

Jumat, 13 Desember 2013

Mushida Sumut Gelar Pelatihan Penyelenggaraan PAUD

MUSHIDA.ORG -- Akhir April (19-21/04/2013) lalu Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah Sumatera Utara (Mushida Sumut) menyelenggarakan training Guru Paud Se-Sumatera Utara yang diikuti sedikitnya 70 orang utusan mewakili Pengurus Daerah (PD) Muslimat Hidayatullah seperti Sibolga, Padang Sidempuan, Nias, Tebing Tinggi, Siantar, Tanah Karo, dan wilayah lainnya.

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage