Indeks Berita

Ikuti berita-berita aktifitas Muslimat Hidayatullah se-Indonesia di sini

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image
Tampilkan postingan dengan label Kemuslimatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemuslimatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Januari 2017

Majelis Murabbiyah Mushida Narasumber Kajian Sirah Nabawiyah di Balikpapan


ANGGOTA Dewan Majelis Murabbiyah PP Muslimat Hidayatullah (Mushida) menjadi narasumber kajian sejarah Nabawiyah yang diadakan oleh Pengurus Daerah Istimewa Muslimat Hidayatullah Gunung Tembak, Kaltim, belum lama ini. Kedua narasumber tersebut adalah Ir. Amalia Husna Bahar, M.Pd.I dan Hani Akbar S.sos.I,

Bertempat di Aula Pertemuan Asrama Putri Hidayatullah Gunung Tembak, kajian Sirah Nabawiyah yang berlangsung selama 3 hari ini mengangkat tema “Urgensi Sirah Nabawiyah dalam Mengimplementasikan Manhaj Sistematika Wahyu”.

Turut hadir membuka acara dalam kegiatan tersebut Ust Amin Machmud selaku Dewan Pembina Wilayah Khusus Hidayatullah Tunung Tembak.

Dalam sambutannya beliau mengapresiasi kesungguhan dan semangat para ummahat dalam menuntut ilmu, bukti nyatanya adalah  mereka menyempatkan diri  hadir di acara ini untuk menelaah dan mengkaji Sirah Nabawiyah .

Ust Amin mengatakan, Sebagi seorang muslim yang mengaku sebagai ummat Nabi Muhammad dan berittiba’ kepadanya, maka sudah seharusnya mengkaji sejarah perjalanan hidup dan dakwah Rasulullah SAW.

“Mempelajari dan mengkaji sirah bagi seorang muslim sangat urgent. Bagaimana mungkin seorang ibu bisa mendidik putra putrinya menjadi pribadi seperti Ali bin Abu Thalib atau seperti Anas bin Malik yang cemerlang dan ahli hadits jika tidak mempelajari sirah nabawiyah. Sementara kedua sahabat yang mulia ini dididik langsung oleh Rasulullah," jelasnya.

Sementara itu, Amalia Husna Bahar dalam penyampaiannya yang sangat lugas, reflektif, dan sarat akan kedalaman pengetahuan sejarahnya, beliau menekankan pentingnya memahami dan mempelejari sejarah secara konfrehensif.

Mengutip pernyataan Sufyan Ibnu Uyainah, dikatakan bahwa: ”Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam adalah timbangan inti. Maka segala sesuatu ditimbang dengan akhlak, sirah, dan petunjuk beliau. Yang sesuai maka itulah yang benar dan yang berlawanan dengannya maka itulah kebathilan”.

“Salah satu kisah terbaik itu adalah kisah kisah dan berita tentang khatimul anbiya Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam menyebarkan risalah Rabb-Nya dan apa yang terjadi padanya dan kaumnya. Inilah yang diistilahkan dengan sirah Nabawiyah,” terang Amalia Husna yang karib disapa Bunda Yuyu ini.

Beliau menerangkan, dalam QS. Al-Ahzab ayat 21 kita diperintahkan untuk melihat dan meneladani Rasulullah. Tentunya, tegasnya, untuk dapat melihat keteladanan dari dalam diri Rasulullah kita harus mempelajari Sirah Nabawiyah.

"Dan siapa yang mempelajari Sirah Nabawiyah maka dia telah melaksanakan perintah Allah dan baginya pahala,” imbuh praktisi pendidikan yang juga mantan Sekretaris Jenderal PP Mushida ini.

Salah seorang peserta kajian dari Balikpapan Timur bernama Nursiah, mengaku bersyukur dapat mengikuti kajian sejarah ini karena bisa mendapatkan tambahan pengetahuan.

“Alhamdulillah, setelah mengikuti kajian Sirah Nabawiyah ini potret  Rasulullah semakin jelas, yang sebelumnya kabur. Saya ingin menularkan spirit cinta Rasul dengan mempelajari sejarah Nabi lebih intens kepada orang orang disekitar saya terutama keluarga,”, tukas Nursiah. (ybh/hio) 

Rabu, 21 Desember 2016

Muslimat Hidayatullah dan Wanita ISMA Sinergi Dakwah dan Pertukaran Informasi

Organisasi wanita Islam Muslimat Hidayatullah (Mushida) Indonesia dan Wanita Ikatan Muslimin Malaysia (Wanita ISMA) Malaysia, melakukan penandatangan perjanjian kerjasama di bidang dakwah dan pertukaran informasi.

Kerjasama itu dilakukan pada hari Ahad, tanggal 18 Desember 2016 yang ditandatangani Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah Dra. Reny Susilowati dan Ketua ISMA Malaysia Dr. Norsaleha Mohd. Salleh.

Dalam MoU kerjasam itu, kedua belah pihak sepakat untuk bekerjasama dalam bidang dakwah dan kerjasama media. Diantaranya bersepakat melakukan sinergi di bidang penulisan perjuangan tokoh Muslimah Indonesia dan Malaysia di media, Hidayatullah, dan website Muslimat Hidayatullah dan media Wanita ISMA.

Kerjasama itu juga memuat komitmen kerjasama menulis opini, informasi dan promosi organisasi kedua belah pihak di media Mushida dan  Wanita Isma, penerbitan buku  Mushida–Wanita ISMA serta kerjasama menggelar kegiatan Seminar Nasional, Internasional yang dilaksanakan Mushida dan Wanita Isma   dengan mengundang narasumber dari kedua belah pihak, dengan waktu terjadwal.

Perjanjian kerjasama ini bertujuan untuk menjaga aqidah dan jati diri muslimah, media silaturahim dan ukhuwah Islamiyah, sebagai wadah pertukaran informasi program dan  saling menguatkan dalam dakwah muslimah, dan kerjasama antar organisasi dalam membangun Peradaban Islam.
 
Turut hadir sebagai saksi dalam penandatanganan kerjasama tersebut diantaranya anggota MPP Mushida Kurnia Irawati Istadi, S.Ag dan Sekjen PP Mushida Leny Syahnidar. Sementara dari pihak Wanita ISMA turut hadir menyaksikan Dr. Norzila Baharin dan Siti Affiza Mohammad. (ybh/hio)

Selasa, 18 Oktober 2016

Muslimat Hidayatullah Pontianak Gelar Daurah Marhalah


Pengurus Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah Kalimantan Barat (Kalbar)bekerjasama dengan Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Kota Pontianak menggelar acara pelatihan kader atau biasa disebut dengan daurah marhalah.

Acara yang berlangsung intensif selama 2 hari (14-15 Oktober 2016) ini diselenggarakan di Komplek Pondok Pesantren Hidayatullah Kota Pontianak yang beralamat di Jl. Ampera Karya Sosial, Kota Baru, Pontianak Barat,  Kalbar.

Kegiatan daurah marhalah atau jenjang tarbiyah bagi kader Mushida ini menghadirkan instruktur nasional dari Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah yakni Sarah Zakiyah, Rahmawati, dan Neny Setiawaty.

Seperti diketahui, jenjang pendidikan dan pembinaan pengkaderan di Muslimat Hidayatullah biasa disebut daurah marhalah yang selaras dengan rangkaian organisasi induk.

Program ini merupakan kemutlakan bagi setiap organisasi untuk melakukan penguatan gerakan, selain juga bertujuan untuk menjaring anggota atau kader baru.

Dalam praktiknya, kegiatan ini memberikan materi-materi yang menjelaskan mengenai organisasi, fungsi serta tujuannya, serta hal-hal fundamental terkait visi, misi, orientasi, serta manhaji.

Selain itu, prosesnya juga berjenjang dan masing-masing jenjang disesuaikan dengan kedalaman identitas kader organisasi dimulai dari Daurah Marhalah Ula, Marhalah Wustha, hingga Daurah Marhalah Ulya.

Diharapkan dari serangkaian program semacam ini akan semakin menguatkan gerakan organisasi. Juga turut mendorong peningkatan kualitas dan profesionalisme kader dalam membawa organisasi menuju apa yang dicita-citakan. (ybh/kks)

Jumat, 07 Oktober 2016

Tidak Harus Keras, Begini Tips Menghukum Anak dengan Efektif

Oleh Nayla Firdaus

SEORANG anak belia melakukan kesalahan. Lalu ayahnya langsung memukulnya. Ia lantas lari ke kamar tidur, menangis dan tertidur.

Tidak lama setelah itu ia mengalami mimpi buruk dan berteriak bangun. Ibunya malah menamparnya dengan dalih berusaha menenangkannya.

Saat itulah ayahnya berkata “Dasar anak manja, Kamu yang merusaknya dengan menuruti segala kemauannya”.

Ibunya pun menimpali “Justru kamu yang merusaknya! Kamu berubah kasar. Padahal dulu sayang berlebihan padanya!”.

Di tengah situasi kacau seperti ini, Ayah mengakui dirinya dengan berkata “Saya memang tidak pantas menjadi seorang ayah. Bagaimana saya bisa merawat anak sementara saya tidak berpengalaman”.

Ibu juga menjawab dalam hati “Saya juga benar-benar sedih. Saya tidak mau punya anak lagi”.

Tindakan-tindakan seperti di atas mengesankan bahwa mereka tidak cakap dalam menjalankan tugas sebagai ayah dan ibu.

Mendidik anak tidak memerlukan segudang teori. Hal yang diperlukan adalah memahami segudang persoalan, Saling melempar tuduhan juga merupakan kesalahan fatal.

Imam Al Ghazali menyinggung sebuah metode indah dalam menangani kesalahan sebagai berikut:

“Ketika anak melakukan kesalahan sekali, kesalahan ini harus dilupakan, Jangan beberkan masalah ini jika ia terlihat tidak berani mengulang kesalahan yang sama, Terlebih jika ia berusaha untuk menutupi kesalahan tersebut. Karena, menampakkan kesalahan seperti ini mungkin mendorongnya bersikap berani dan tidak peduli jika kesalahannya dibeberkan”.

Ketika anak kembali mengulangi kesalahan, anak harus ditegur empat mata. Besarkan tindakan yang ia lakukan dan sampaikan padanya, “Jangan pernah lagi kau ulangi perbuatan seperti itu. Jangan lagi kau terlihat melakukan perbuatan seperti itu karena kesalahanmu akan dibeberkan ke banyak orang”.

Jangan terlalu sering menegurnya. Teguran yang terlalu sering disampaikan tidak akan membekas di hatinya dan membuatnya mudah melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

Ayah harus menjaga wibawanya kala berkata pada anak. Jangan mencelanya selain sesekali saja. Hukuman harus diberikan langsung setelah kesalahan diberikan. Jangan terlalu berat hingga membuat anak merasa terdzolimi. Jangan juga menyakiti perasaannya.

Fakta menunjukkan, celaan biasa dan ringan yang disampaikan dengan nada datar lebih berpengaruh dalam diri anak dibandingkan dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh hukuman fisik yang keras.

Semakin sering hukuman diberikan kepada anak, pengaruhnya akan semakin kecil, bahkan mungkin semakin membuatnya membangkang terhadap segala perintah di kemudian hari.

Hukuman yang diberikan harus sesuai dengan tingkatan usianya. Tidak adil jika hukuman fisik atau celaan diberikan kepada anak usia dua tahun. Mengerutkan wajah sudah cukup untuk usia tersebut. Anak pada saat itu belum memaknai arti hukuman.

Anak usia tiga tahun bisa dihukum dengan cara mengambil mainannya ketika ia melakukan kesalahan. Itupun harus dilakukan setelah melakukan persetujuan dengan si anak. Dan dengan cara yang datar tanpa mengeraskan intonasi suara, sehingga anak tidak merasa tertekan dan terbebani.

Jenis Hukuman

Terlebih dulu harus diingat, bahwa hukuman harus menjadi cara terakhir dalam mendidik anak ketika nasehat, arahan, bimbingan, perlakuan yang lembut dan teladan yang baik tidak mendapat pengaruh yang besar terhadap diri anak.

Memukul bukanlah satu-satunya cara untuk memberikan hukuman. Karena kadang memukul tidak membawakan hasil positif, bahkan mungkin saja justru menimbulkan hasil yang sebaliknya.

Oleh karena itu, teguran justru akan lebih memberikan pengaruh yang positif sebagai ganti dari pemukulan.

Hukuman juga bisa dilakukan dengan tidak memberikan sesuatu yang disukai anak, misal uang saku. Namun, hal ini hanya boleh dilakukan dalam waktu sementara.

Jangan menyuruh anak ke kamar tidur saat ia melakukan tindakan yang tidak bisa diterima, sehingga akan tertanam dalam benaknya bahwa kasur dan tempat tidur termasuk salah satu jenis hukuman.
Imbasnya, anak menjadi enggan ke kamar tidur pada malam hari.

Tidak baik jika anak menangis seorang diri tanpa pendampingan dari orang tua ketika ia merasa terganggu atau terluka. Lebih baik ia tetap berada di tengah orang tuanya sampai situasi membaik.

Dalam kondisi apapun, tidak diperkenankan mengunci dan mengurung anak di dalam kamar. Kamar yang gelap atau terkunci akan sangat membuatnya ketakutan dan memicu guncangan hebat padanya.

Pengaruh tindakan tersebut mungkin akan terlihat beberapa tahun lamanya. Dalam bentuk keresahan, ketakutan, atau kebimbangan dalam kepribadian.

Ketika kita merasa benar-benar harus menghukum anak secara fisik, cukup minta ia duduk di kursi sisi kamar atau berdiri di sudut kamar untuk sementara waktu, sesuai dengan kesanggupan usianya.

Ada beberapa orang tua menyediakan kursi khusus di pojok kamar untuk hukuman ini. Katakan padanya dengan tenang namun tegas untuk duduk di tempat tersebut tanpa bergerak dan tidak boleh meninggalkan tempat tersebut sebelum diijinkan.

Biasanya beberapa menit saja sudah cukup membantu menenangkan perasaannya. Sebagian orang merasa heran ternyata cara sederhana ini sangat berpengaruh dalam menenangkan sekaligus menghukum anak tanpa harus menyakiti dan membuatnya merasa tertekan.

___________
*) NAYLA FIRDAUS, penulis adalah anggota Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan

Rabu, 27 Juli 2016

Tingkatkan Kualitas Daiyah, Mushida Kupang Gelar Pelatihan Pendalaman Al Qur'an


Dewan Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar acara pelatihan pembelajaran untuk pendalaman Al Qur'an, belum lama ini. Hadir pada kesempatan tersebut sebagai pemateri Tuti Rahmawati.

Beliau adalah kandidat doktor Institut Ilmu Quran, Tangerang, Jakarta. Tuti Rahmawati menjadi pemateri pada acara tersebut yang berlangsung di Komplek Rumah Quran Hidayatullah Kelapa Lima, Kota Kupang, NTT, Selasa sore (26/07/2016).

Selain jajaran pengurus DPD Mushida Kupang dan pengurus wilayah, hadir pula dalam rangkaian acara singkat ini antara lain, Senator NTT, Anwar Hadi Tori, Ketua DPD Hidayatullah Kota Kupang,  Syaiful Bahri, Ketua Yayasan Ulil Amri, dan pengurus Taman Pendidikan Rumah Quran Hidayatullah Kota Kupang.

Dalam penyampaiannya, Tuti banyak berinteraksi dengan peserta. Dengan gaya khas retorika yang memadai ia mampu memberikan gambaran tentang materi, cara mengajar yang efektif bagi guru di lingkup Taman Pendidikan Quran (TPQ), yang notabene adalah anak usia dini dimulai dari umur 5 tahun hingga 12 tahun.

Tuti kini telah lama bergelut di dunia pendidikan anak-anak selama kurang lebih 25 tahun. Walau dirinya telah mencapai  pendidikan kandidat doktor, sampai sekarang ia juga masih mengajar anak-anak TPQ.
Mengapa demikian? Ia bercerita bahwa, dari taman pendidikan seperti inilah tabungan akherat kita yang akan kita petik nanti hasilnya. Karena dengan mengajar anak-anak usia dini, kita telah menyiapkan generasi terbaik pada masa yang akan datang.

Tak ayal ketika mengurus anak-anak TPQ, ia banyak diundang di beberapa kota, baik dalam negeri muapun luar negeri. Diantaranya, Tuti pernah diundang ke Australia dan Amerika Serikat.

Dalam safarinya ke beberapa daerah di NTT. ia sempatkan mampir berbagi ilmu di hadapan guru dan ustadz Taman Pendidikan Rumah Quran.

Tuti berpesan, kalau mau jadi guru yang handal maka persiapkan segala sesuatunya saat mengajar. Diantaranya, ilmu yang mumpuni, akhlak yang baik, serta kurikulum tempat mengajar tersebut diterapkan.

Ada guru yang ketika mengajar tidak sempat mempersiapkan segala sesuatu, sehingga ketika berhadapan dengan murid akhirnya ia kewalahan.

Materi apa yang harus diajarkan itulah paling menentukan suksesnya kegiatan belajar anak-anak. Tuti berbagi tips, Jadi guru itu harus banyak senyum. Tiada pantas bagi seorang pendidik bermuka masam di hadapan peserta didik.
Kata dia, Guru yang berhasil adalah mampu mendidik yang tidak bisa sekali dalam hal baca tulis menjadi bisa baca tulis. Ia pun menambahkan, sehingga dari itu segala sesuatu mesti dipersiapkan dengan matang oleh guru.

Menurut laporannya, dirinya bisa hadir ke NTT adalah atas izin Allah Swt lewat rejeki yang dititipkan Allah kepada Bapak Syafruddin Atasoge, yang kini menjadi Senator NTT.

Syafruddin Atasoge sendiri adalah pemerhati umat Islam di wilayah kerjanya. Banyak kegiatan atau program kerja umat Islam di NTT yang dibantu. Kalau saja ia tidak terpilih pada periode yang lalu mungkin nasib umat Islam NTT tak akan seperti ini. Cerita tuti pada sela sela acara tersebut. */Usman AW

Sabtu, 28 Mei 2016

PD Muslimat Hidayatullah Surabaya Gelar Tarhib Ramadhan 1437 Hijriyah

Genderang menyambut bulan suci Ramadhan semakin bergaung di seantero dunia. Berbagai cara dilakukan oleh setiap kelompok maupun individu untuk menyambut kedatangan tamu agung ini. Demikian halnya dengan Muslimat Hidayatullah Surabaya.

Pada tanggal 16 sya'ban 1437 H / 24 mei 2016, Pengurus Daerah (PD) Muslimat Hidayatullah Surabaya menggelar acara Targhib Ramadhan bersama masyarakat sekitar Kejawan Putih Tambak.

Acara yang digelar bertempat di Aula Rahmat Rahman ini disambut antusias oleh masyarakat. Terbukti sejak acara ini dimulai pada pukul 15.30 WITA, 80-an kursi yang disediakan oleh panitia masih kurang dan terus ditambah. Bahkan, beberapa peserta harus duduk di luar ruangan.

"Antusiasme warga untuk hadir merupakan suatu kebahagiaan bagi kami. Ini membuktikan bahwa kita bahagia dalam menyambut bulan Ramadhan. Semoga kita termasuk dalam golongan yang disebut Rasulullah, 'barang siapa bahagia menyambut Ramadhan, diharamkan tubuhnya dari api neraka," ucap Ketua PD Mushida Surabaya, Khunainah dalam sambutannya.

Hadir sebagai pemateri,  tokoh masyarakat Kejawan Putih Tambak, Abah Mukhdhor.

Dalam penyampaiannya beliau mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan kualitas ibadah selama bulan Ramadhan.

"Sampun ngantos ketungkul kaliyan perkawis ndonya, lajeng kesupen kaliyan perkawis akherat", pesan beliau khas Jawa kepada seluruh hadirin. */Mustavidah (Surabaya)

Selasa, 24 Mei 2016

Rakerwil Mushida Jabodebek Kuatkan Sinergi Kemuslimatan

Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Megapolitan yang mencakup daerah kepengurusan DKI Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek) menggelar Rapat Kerja Wilayah yang digelar 3 hari di Kota Depok, Jawa Barat, dan dibuka pada Jum'at (12/05/2016).

Rakerwil Mushida Jabodebek Tahun 2016 ini dibuka oleh Ketua DPW Hidayatullah Jabodebek, Ustadz Asdar M. Taewang. Pada sambutannya Ustadz Asdar mendorong Muslimat Hidayatullah untuk terus membangun sinergi dengan elemen-elemen kemuslimatan di kawasan tersebut guna menguatkan peranan keummatan Mushida.

Selain itu Ustadz Asdar juga mengingatkan pentingnya peran seorang ibu sebagai pendidik terbaik untuk anak-anaknya. Sosok ibu merupakan pengayom bak malaikat yang dikirim oleh Tuhan yang tak terlupakan jasanya.

Karenanya, lanjut Ustadz Asdar, kader Mushida jangan sampai melupakan aspek kepengasuhan dan kepengayoman dalam lingkup internal keluarga seraya terus melakukan penguatan-penguatan secara eksternal. Sebab itu, lanjur beliau, Mushida harus dapat bersikap proporsional antara peranan domsetik (internal) dan publik (eksternal).


Lebih jauh ia mengemukakan, Mushida lahir tak lain sebagai organisasi pendukung guna mencapai tujuan dan visi organisasi Hidayatullah. Karena itu ia mengemukakan bahwa orientasi dan sikap organisasi Mushida harus tetap sejalan sesuai dengan koridor kepemimpinan dengan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai syariat Islam.

Rakerwil ini juga turut menghadirkan Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) Kota Depok, ibu Elly Farida. Istri Walikota Depok ini hadir sekaligus mengisi seminar tentang pengelolaan sampah dan merelasikannya dengan peran rumah tangga dalam membangun ketahanan nasional yang beradab dan tetap cinta lingkungan.

Ibu yang biasa disapa Bunda Elly yang juga Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Depok ini menyambut baik berbagai program Muslimat Hidayatullah di kawasan ini terutama program pemberdayaan dan pembinaan keummatan yang dinilainya sangat sejalan dengan program pemerintah.

"Saya sangat menyambut baik program Mushida. Kita kapan pun siap dan bersedia menjalin kerjasama dengan Mushida dalam rangka bersama membangun Kota Depok yang kuat dan relijius," ujarnya.



Sementara itu pantia acara dalam kesempatan yang sama menyatakan turut mendukung semua program pemberdayaan masyarakat, membangun ketahanan pangan, Depok Zero Waste dan lain-lain yang telah digalakkan Pemerintah Kota Depok.

Dijelaskan dia, salah satu peran penting kemuslimatan yang tidak boleh dikesampingkan oleh Muslimat Hidayatullah adalah terus berperan aktif dalam membangun dan menyiapkan sumber daya insani yang cendekia dan bekpribadian mulia sebagiaman dituntunkan oleh Islam melalui tauladan Rasulullah Muhammad SAW.

"Concern Mushida salah satunya bidang pendidikan anak usia dini atau PAUD. Kami berharap dari sini berlangsung proses kaderisasi umat lahirnya insan kamil yang terus diupayakan melalui jaringan-jaringan Mushida se-nusantara tak terkecuali yang sedang dilakukan oleh PW Mushida Jabodebek," tukasnya. (ybh/hio)

Minggu, 22 Mei 2016

Karena Kita Bunda yang Hebat


SUATU hal yang paling penting dalam proses pembangunan umat manusia adalah pendidikan. Oleh karenanya pendidikan takkan pernah kering dengan habisnya permasalahan-permasalahan seputar pendidikan.

Salah satu permasalahan itu adalah mendidik anak. Anak merupakan generasi penerus pertumbuhan dan perkembangan umat manusia. Sehingga tujuan manusia menjadi seorang khalifah di bumi tercapai.

Karena itu lingkungan keluarga sebagai tempat anak belajar berbicara dan berbuat baik pada orang lain, tempat anak belajar bersabar dan saling menghargari, mengharuskan orang tua untuk menciptakan iklim pendidikan yang kondusif bagi perkembangan kognitif, afektif, maupun psikomotor anak-anaknya.

Orangtua sebagai pendidik utama dan pertama dituntut membina dan mengembangkan aspek akhlak, aspek akal, aspek sosial, aspek jasmani maupun aspek psikis anak dengan tujuan tercapainya kesempurnaan selaku hamba Allah dan segenap dimensinya, baik vertikal pada Rabbnya maupun horizontal yaitu sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dengan manusia lainnya, yang kesemuanya teraktualisasikan dengan landasan al-Qur’an dan as-Sunnah.

Berdasar tujuan mulia di atas, Pengurus Darah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Yogyakarta menghadirkan Ibu Kurnia Irawati yang biasa dikenal dengan Irawati Istadi sebagai pengisi kajian parenting yang diikuti oleh seluruh anggota Mushida se-DIY Jateng Bagsel, Sabtu/21/05/2016.



Irawati Istadi adalah anggota Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida) pusat yang diberi amanah di Majelis Penasehat Mushida sejak tahun 2010 hingga saat ini.

Selain aktif di Mushida, ibu dari 6 orang anak ini juga seorang penulis aktif yang telah menghasilkan sekitar 17 buku yang berkaitan dengan dunia parenting, seperti Dwilogi Mendidik Anak dengan Cinta, Bunda Manager Keluarga, Istimewakan Setiap Anak, Ayo Marah, dan masih banyak lagi.


BAGAIMANA SEORANG BUNDA MEMENEJ KELUARGA?

Dalam penyampaiannya, Irawati Istadi menegaskan pentingnya manajemen keluarga  baik bagi seorang ibu yang bekerja di luar rumah maupun yang tidak bekerja di luar rumah. Ia pun berbagi pengalamannya bagaimana menyusun kerangka manajemen keluarga yang baik.

“Materi manajemen keluarga ini mulai saya pelajari saat saya punya anak ke-3. Semula prakteknya memang sulit, banyak mindset berpikir yang harus diluruskan dan banyak pembiasaan yang harus diubah. Namun alhamdulillah, manfaatnya sangat terasa membantu pengelolaan keluarga lebih rapi dn profesional, hingga memiliki 6 anak, alhamdulillah saya bisa jadi lebih produktif daripada sebelum-sebelumnya.”

Lebih lanjut Irawati menambahkan, “Saya belajar lebih profesional mengatur keluarga dengan menetapkan tujuan, target, dan rencana-rencana jangka panjang, menengah dan pendek. Untuk lebih mudah merapikan manajemennya, saya bagi seluruh urusan rumah tangga bunda yang biasanya overload ke dalam 8 departemen. Hal ini agar lebih mudah kita merencanakan kegiatannya, tahapan-tahapannya, anggaran, juga kontrol dan evaluasinya.”

Adapun 8 departemen yang harus diduduki oleh seorang ibu sekaligus istri adalah sebagai berikut:

1. Departemen Personalia
Adalah tugas kita untuk memahami, mengenal dan akhirnya meletakkan masing-masing personal anggota keluarga di posisi masing-masing sesuai karakternya. Mengenal dan memahami serta menyesuaikn diri dengan sifat-sifat dan karakter suami saja, kadang butuh waktu bertahun-tahun.

Apalagi mengenal masing-masing anak sesuai pertumbuhn usianya, belum lagi kakek nenek yang tinggal bersama, plus tante, paman atau ART kalau ada. Jika kita menguasai personalia dengan baik, keluarga terhindar dari konflik dan jadi lebih kompak.

2. Departemen Pendidikan
Inilah tugas bunda untuk mengenal talenta anak sedini mungkin, lalu membuat road map ke depan berikut tahapan-tahapannya sesuai minat anak tersebut, sehingga kesuksesannya kelak sudah bisa dirancang sedini mungkin.

3. Departemen Spiritual
Yaitu tugas bunda untuk menciptakan rumah sebagai basis pendidikan SQ terbaik bagi anak, melalui keteladanan, pembiasaan ibadah dan akhlaqul karimah, dan penanaman nilai-nilai aqidah dalam hidup keseharian.

4. Departemen Keuangan
Adalah keterampilan bunda mengelola keuangan dengan qanaah sehingga bisa mencukupkan kebutuhan dengan apa yang diterima dari suami. Selain itu, jika dibutuhkan pun memiliki keterampilan entrepreneurship yang bisa membantu ekonomi keluarga.

5. Departemen SDM
Yaitu tugas bunda untuk mengembangkan potensi masing-masing anggota keluarga sebagai aktualisasi diri, khususnya SDM bunda sendiri yang sering terkalahkan oleh kewajibn-kewajiban yang overload. Menyediakn "me time" setiap hari adalah solusi bagus untuk masalah ini.

6. Departemen Property

Adalah pengaturan sarana dan prasarana dalam rumah pun perlu dibuatkan rencana manajemen perawatan, perbaikan juga pembelian, supaya rapi. Kalau tidak, kadang perkara engsel pintu rusak saja sampai berbulan-bulan tak kunjung beres gara-gara kelupaan.

7. Departemen Urusan Domestik
Urusan masak, beberes, cuci gosok masuk di sini. Ini tugas berat yang monoton dan menghabiskn banyak waktu bunda. Agar tidak stress menjalaninya, bunda perlu kreatifitas dan butuh ilmu untuk mengefektifkan pekerjaan sehingga pekerjaan ini bisa hemat waktu dan tenaga, supaya bisa disimpan tenaga bunda untuk deptartemen lain yang lebih penting.

8. Departemen Humas
Yaitu peran dan keaktifan yang bunda mainkan di luar rumah, akan memberi dampak positif pada anak, namun tetap ada batasan-batasan syar'i yang harus dipatuhi, sehingga tugas humas ini tidak mengganggu tugas utama yang lain.



NO GADGET FOR KIDS!

Salah satu point yang disampaikan Irawati dalam kajiannya, adalah tentang bahaya gadget terhadap anak. Ia menilai sebaiknya anak tidak diberi fasilitas gadget dan akses internet.

Buatlah proyek di rumah se-kreatif mungkin agar anak tak fokus pada gegap gempita gadget di zaman sekarang ini. Orangtua dalam hal ini dituntut untuk kreatif, yakni mengalihkan kebiasaan sang buah hati bermain di depan layar kaca dengan membuat permainan yang disukai anak.

Ajak anak bernyanyi dan main petak umpet, misalnya. Pokoknya, buat anak senang dan nyaman bermain bersama teman-temannya. Jangan lupa pada momen seperti ini anak diasupi dengan permainan edukasi. Menghafal surat-surat pendek, menebak tokoh-tokoh Islam, misalnya. Jadikan rumah sebagai sarana pendidikan anak, tanpa gadget.

Terakhir, jauhkan gadget dari jangkauan anak. Selain menjauhkan anak dari gadget ketika tidur, segala aktivitas, baik orangtua, anak, dan orang di sekitar harus steril dari gadget. Hal ini supaya sang anak, yang semula sudah enjoy dengan bermain bersama orangtua atau teman sebaya, lupa akan gadget itu sendiri.

Mengingat banyaknya efek negatif atau bahaya gadget bagi anak-anak, bahkan orang dewasa sekalipun jika keimanan tidak menyertai penggunaan gadget, maka sudah menjadi keharusan bagi orangtua untuk memproteksi anaknya terhadap ancaman tersebut.

Sebagai orangtua yang baik dan peduli terhadap unggul, menjauhkan bahaya gadget dari anak adalah sebuah kewajiban. Bukan begitu?

JELI TERHADAP KELEBIHAN ANAK
Umumnya anak-anak kita suka jika diberi perhatian. Terkadang jika ia tidak mendapatkannya dari orangtua khususnya seorang ibu atau merasa kurang, maka ia akan mencari 1001 jalan untuk mendapatkannya.

Pentingnya bagi para orangtua agar tak salah dalam memberikan perhatian, sebab perhatian dengan cara dan porsi yang salah akan membuat anak akan semakin meminta perhatian dengan cara yang salah pula.

Jangan sampai kita hanya fokus memperhatikan hal-hal negatif pada diri anak. Kebanyakan orangtua lebih banyak mengingat negatifnya anak. Sedikit-sedikit dimarahi, sedikit-sedikit ditegur.

Ketika orangtua hanya melulu perhatian terhadap kesalahan anak, dan tidak diseimbangkan dengan hal-hal positif dan kelebihan yang dimilikinya, maka orangtua diibaratkan hanya seperti pemadam kebakaran, yang mana kalau tidak ada api maka akan diam saja. Orangtua hanya akan menjadi mana kalau tidak ada api maka akan diam saja. Orangtua hanya akan menjadi sibuk dan bergerak hanya saat anak melakukan kesalahan.

Cara yang salah dalam memberikan perhatian hanya akan membuat anak selalu ingat bahwa ia sudah dicap sebagai anak yang selalu negatif, karena yang direspon hanyalah kelakuan negatifnya saja, dan anak akan berpikir; “Orangtuaku hanya mengingatku saat aku salah”, alhasil selanjutnya ia akan senang melakukan kesalahan terus menerus.

Mengingatkan dan memperbaiki kesalahan anak itu wajib, tapi orangtua harus mencari dan menemukan hal positif dari anak lebih banyak dari hal-hal negatif ia dapatkan.

Cari hal positif anak sebanyak-banyaknya, berikanlah perhatian terhadap kelebihan anak, lalu berikan penghargaan.

Meski untuk hal-hal sederhana, seperti suka tersenyum, membelai adik, menyusun mainan, mengucap basmalah sebelum minum, dan yang lain sebagainya, maka selanjutnya anak akan suka berbuat baik agar dapat perhatian kita, dan tentunya dipahamkan akan ganjaran pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atas sekecil apapun kebaikan yang mereka lakukan.

Jangan berhenti mengaktualisasikan dan mengembangkan diri, karena kita bunda yang hebat!

Kajian parenting ini ditutup dengan sesi tanya jawab yang aktif. Berbagai permasalahan manajemen keluarga dan pendidikan anak beserta solusinya dikupas tuntas dalam forum kali ini.

Terlihat dari senyum sumringah dan rona kepuasan di wajah para ibu-ibu yang meninggalkan ruang setelah acara selesai. Alhamdulillaahi Robbil ‘Aalamiin.

__________
*/IDA NAHDHAH,
penulis adalah pegiat Komunitas Pena MALIKA, Yogyakarta.

Sabtu, 30 April 2016

Usroh sebagai Solusi Pemberdayaan Muslimah di Malaysia

Tantangan luar biasa yang dihadapi oleh muslimah di Negara Malaysia, Indonesia, Singapura dan Brunei Darussalam yang menjadi peserta Perwanis yang digelar untuk pertama kalinya di tahun 2016 ini, diperbincangkan sepanjang persidangan, dan memberikan hasil beberapa poin solusi yang bias dilaksanakan oleh para tokoh muslimah jika telah kembali ke negara masing-masing nanti.

Salah satu upaya yang ditawarkan adalah penggalakan melaksanakan Usrah, sebuah bentuk pembinaan bagi kalangan muslimah.

Jawatankuasa Pembangunan Pelajar Pusat I-Guru Malaysia, Ustadzah Norakhilah Baharin, menyampaikan dalam presentasinya, “Yang diperbuat Rasulullah bermula dari rumah Al Arqam bin Arqam, bagaimana kesungguhan para sahabat,hingga  mereka rela mendatangi Rasulullah di tengah malam dengan merangkak-rangkak  karena setan menyerupai anjing yang menyalak membangunkan orang Quraisy. Inilah salah satu sunnah, dimana perlunya kita bertemu dengan sahabat-sahabat dan naqib serta naqibah untuk berbincang dan menyelesaikan masalah ummat".

“Gerakan ikhwan di tahun 1920-an memberikan kepada seluruh tenaga muslimahnya pendidikan tentang anak-anak. Mereka tidak focus pada yang lain, hanya focus pada pendidikan anak. Mereka membuat masjid-masjid seperti yang telah diperbuat Hidayatullah , yang telah mengikuti langkah sahabat dan salafus shaleh.”

“Usrah adalah perjumpaan memahami Islam secara syumul, dan menukarkannya kea rah tindakan dan tingkah laku dan seterusnya mengajak wanita lain berkongsi kepahaman dan amalan yang selaras dengan ajaran Islam.”

Faktor pertama yang harus ditumbuhkan di dalam usrah adalah Ta’aruf, atau perkenalan, yang tumbuh dari rasa kasih saying di antara kita. Dari perkenalan ini akan melahirkan hubungan yang amat kuat.

Kisah Abdurrahman menjadi teladan persaudaraan dalam Islam ini, bagaimana ketika hijrah ia harus meninggalan seuruh harta kekayaannya yang berlimpah, dan setiba di Madinah ditawarkan oleh saudara Ansharnya untuk mengambil harta, kebun mana pun yang ia mau, namun Abdurrahman menolaknya, ia hanya meminta pinjaman uang secukupnya untuk modal berniaga.

Kisah berikutnya ketika umat muslim kekurangan air, Abdurrahman pun membeli sumber mata air, sehingga ia dapat berbagi dengan orang Yahudi pemilik sumber air itu.

Tiga hari dalam seminggu Abdurrahman diberi kesempatan menggunakan sumur air itu, dan dipergunakannya untuk mencukupi kebutuhan air seluruh umat muslim, sekaligus menyimpan air banyak-banyak di rumah mereka yang mencukupi bagi kebutuhan mereka tiga hari berikutnya.

Sehingga di saat giliran orang Yahudi menjual airnya, umat muslim bersepakat memboikot tidak membeli air karena telah memiliki persediaan. Hingga akhirnya si pemilik Yahudi itu pun terpaksa menjual semua sumber airnya kepada Abdurrahman bin Auf.

Itu pula yang menjadi contoh At Takaful, yaitu saling tolong menolong, factor kedua dalam sebuah usrah. Berikutnya, factor ketiga adalah Tafahum, atau saling memahami.

Dalam sebuah hadis disebutkan, “Apabila amar ma’ruf nahi munkar tak dilaksanakan di kalagan umat Islam, pastinya doa-doa kita tidak dimaqbulkan oleh Allah SWT.”

Sebab itu, kata beliau, jika ada majelis-majelis, bawalah anak-anak kecil selalu kedalam majelis tersebut, karena anak-anak kecil ini tidak ada dosa, sehingga ketika mereka berkata ‘Amiin, amin’ walaupun sambil bermain-main, boleh jadi itu menjadi penyebab Allah kabulkan doa-doa kita.

Konsep usrah wanita adalah mengembalikan peranan dan hak asasi wanita sebagai penggerak dan pembantu laki-laki sebagai menjamin kelangsungan zurriyat keturunan sebagai khalifah di atas muka bumi ini. Itu sebabnya kegiatan usrah ini perlu dilanggengkan di antara kaum muslimah. (Irawati Istadi) 

Kamis, 28 April 2016

Membangun Karakter Diri Muslimah dan Teladan Mulia Keluarga Ibrahim Alaihissalam

Masih dalam rangkaian acara Persidangan Wanita Antarbangsa (Perwanis) 2016 yang berlangsung tanggal 26-27 April lalu di Malaysia lalu, Sekretaris Majelis Penasehat Muslimat Hidayatullah, Irawati Istadi, memaparkan pidatonya pada sidang plenary.

Dalam pidatonya Irawati menegaskan bahwa menjadi ibu bagi muslimat adalah menjadi sebuah keutamaan, walaupun setelah itu seorang muslimat bisa memilih untuk juga menjadi guru, dokter, pedagang, arsitek, dan sebagainya.

"Menjadi ibu dengan tugas utama membangun keluarga professional, mendidik anak menjadi generasi emas bagi agama dan bangsa, adalah peran ibu yang terpenting sebelum mengambil peran lain di luar keluarga. Dan seandainya peran lain di tengah umat pun diambilnya, tetap diwajibkan bagi seorang ibu untuk tetap mengutamakan menyelesaikan tugas-tugas utama dalam keluarga terlebih dulu sebelum melaksanakan tugas untuk umat,” kata Irawati.

Selanjutnya dipaparkannya juga, bahwa untuk bias sukses melakukan tugas berat seorang ibu itulah, maka setiap muslimah harus memiliki keterampilan manajemen diri yang baik sehingga mampu menjadikan diriya sebagai manajer keluarga yang profesional.

Untuk itulah, menurut ibu 6 anak ini, seorang muslimah perlu mempelajari beberapa poin penting berikut.

Pertama, selalu meningkatkan kualitas diri melalui program pengembangan diri yang terencana. Seorang ibu manager keluarga harus selalu meningkatkan potensi yang ada pada dirinya. Harus disediakan waktu bagi ibu untuk itu, sesuai dengan bidang yang dipilihnya.

"Bisa saja ibu memilih untuk meneruskan program belajarnya secara formal di berbagai universitas di luar jam sibuknya dalam mengatur rumahtangga. Atau ibu bisa memilih mengikuti kursus untuk meningkatkan ilmu dan ketrampilan yang menjadi potensinya, mungkin kursus bahasa asing, kursus computer, memasak, dan lainnya. Bisa juga memilih untuk belajar sendiri secara informal, dengan banyak membaca, bertanya kepada para ahli dan mengikuti beragam praktek kegiatan di masyarakat," tukasnya.

Kedua, lanjut beliau, mengatur, merencanakan dan melaksanakan seluruh urusan operasional kerumahtanggaan menjadi 8 departemen, yaitu departemen pendidikan anak, personalia, keuangan, domestik, spiritual, property, humas dan peningkatan sumber daya manusia.

Dengan membuat perencanaan jangka panjang, menengah dan jangka pendek untuk masing-masing departemen tersebut, akan memudahkan dalam pelaksanaannya. Berikutnya juga disusun program kontrol dan evaluasi secara berkala,

"Maka hasil yang diperoleh akan lebih professional dan berkualitas. Waktu yang tersedia menjadi produktif sehingga ibu bisa menyisihkan waktu untuk berperan lebih banyak bagi kegiatan keumatan," cakap Irawati.

Ketiga, meneladani gaya manajemen islami seperti yang ditunjukkan melalui keteladanan keluarga nabi Ibrahim as. Beberapa gaya manajemen islami tersebut antara lain melakukan refleksi diri seperti ketika seseorang sedang wukuf di padang Arafah, yaitu dengan mengevaluasi kesalahan diri, menemukan kelemahan dan kekuatan potensi diri, serta memanfaatkan peluang yang ada serta menghadapi tantangan yang menyerang.
 
Contoh dari keluarga Nabi Ibrahim lainnya yaitu teladan membuat perencanaan di malam hari sebelum hari dimulai, seperti saat kita bermalam di Muzdalifah, bersiap untuk lontar jumrah, thawaf dan sa’i. Sambil mempersiapkan kerikil, diibaratkan menyusun sebuah kekuatan dan rencana yang rapi untuk menghadapi hari esok.
 
Manajemen Islami ala keluarga Ibrahim lainnya, membuang kekurangan diri yang ada, serta bangkit melawan tantangan yang menghadang, seperti ketika Ibrahim melemparkan kerikil ke arah setan yang mengganggu, yang direfleksikan dalam lontar jumrah.
 
Selain itu, keteladanan keluarga Ibrahim juga mengajarkan menjaga agar garis kehidupan ini senantiasa dalam lingkaran syariah yang ditentukan Allah, seperti saat kita thawaf mengelilingi ka’bah dalam lingkaran yang rapi yang telah ditetapkan Allah.
 
Dan tak kalah penting, jelas Irawati, manajemen Islam keluarga Ibrahim memiliki etos kerja keras tanpa putus asa yang didasari keyakinan kuat akan datangnya pertolongan Allah, seperti keyakinan dan kerja keras yang ditunjukkan Siti Hajar saat melakukan sa’i. (ybh/hio)


Peradaban Islam di Indonesia dengan Penguatan Peran Muslimat

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia menyimpan potensi kekuatan besar, yang cukup ditakuti oleh musuh-musuh Islam.

Bahkan, dalam sebuah dokumen rahasia milik kaum Yahudi, diketemukan bahwa Indonesia dianggap negara yang akan mengancam kekuatan Israel. Itu sebabnya akan dimusnahkan oleh Israel sebelum tahun 2025.

Demikianlah pemaparan disampaikan Irawati Istadi, sekretaris Majelis Penasehat Muslimat Hidayatullah saat membuka pidatonya dalam acara Persidangan Wanita Antar Bangsa (Perwanis) 2016 di hotel Blue Wave, Shah Alam, Malaysia, belum lama ini  (27/04/2016)..

"Ancaman tersebut sekarang sudah dirasakan dengan semakin besarnya tantangan kehidupan yang ditimbulkan dari serangan para musuh Islam tersebut," kata Irawati.

Televisi, misalnya, sebagai hiburan rakyat yang tergolong murah. Setiap harinya menawarkan puluhan channel  yang berlomba-lomba menayangkan lagu-lagu remaja bertema asmara, dengan para penyanyinya yang membuka aurat. Sementara itu, film bertema cinta menduduki rating tertinggi, dengan cerita pergaulan bebas para tokohnya.

Tak kalah hebatnya, lanjut Irawati, serangan kaum kapitalisme menciptakan budaya belanja di kalangan kaum muslimah. Pertumbuhan gedung pertokoan (mall) di Jakarta sudah tidak terkendali. Dengan jumlah 173 mall, Jakarta menjadi kota dengan mall terbanyak di dunia.

"Mall ini merusak fungsi tatanan rumah sebagai baiti jannati, salah satunya sebagai tempat istirahat dan berhibur bersama keluarga, digantikan dengan hiburan jalan-jalan dan berbelanja. Kaum kapitalisme itu memiliki tujuan untuk merubah keinginan menjadi kebutuhan," terang Irawati.

Karena itu, Irawai mengatakan salah satu upaya kunci bagi muslimah Indonesia untuk menghadapi semua tantangan tersebut adalah dengan meningkatkan kualitas pendidikan muslimahnya. Dalam hal ini, Hidayatullah telah berperan mendirikan berbagai lembaga pendidikan, di antaranya, mendirikan 168 Taman Kanak-kanak yang dikoordinasikan di bawah Muslimah Hidayatullah.

Selain itu, lanjut beliau, di setiap cabang yang telah mampu, diupayakan diselenggarakan pendidikan setingkat SD, SMP dan SMA. Sementara di tingkat perguruan tinggi, Hidayatullah mendirikannya di Balikpapan, Surabaya, Malang, Depok dan Batam.

Upaya berikutnya yang tak kalah pentingnya adalah melakukan pembinaan keluarga-keluarga muslim di Indonesia. Dalam hal ini, Hidayatullah pun mengambil peran, salah satunya dengan menyelenggarakan Pernikahan Mubarak.

Dalam pernikahan ini, ada dua keutamaan yang diperoleh, Pertama, karena antara calon pengantin putra dan putri telah sama-sama dibina aqidahnya dengan benar, sehingga pada akhirnya mampu menyerahkan diri secara penuh, bertawakkal kepada Allah, dan menghindarkan godaan hawa nafsu dengan cara menyerahkan diri dan minta dipilihkan pasangan hidupnya kepada pihak Hidayatullah.

Keutamaan berikutnya adalah pernikahan ini dilaksanakan sesuai syar’i dengan mengutamakan adab syiar walimah yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan, yang dinampakkan dalam bentuk walimah berjamaah beberapa pasang pengantin.

"Kelak selanjutnya, keluarga-keluarga muslim ini terus mendapatkan pembinaan sehingga keluarga mereka mampu menjadi teladan bagi masyarakat serta mengajak dan memberikan perubahan berarti dalam masyarakat dalam menuju pembangunan peradaban Islam," demikianlah Irawati bertutur dalam pidatonya yang mendapatkan sambutan meriah oleh tak kurang dari 150 peserta persidangan tersebut yang berasal dari Malaysia, Indonesia, Brunei Darussalam dan Singapura. (ybh/hio)


Rabu, 27 April 2016

Mushida Polewali Mandar Gelar Seminar Edukasi Parenting

Seminar Edukasi Parenting berlangsung di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Provinsi Sulawesi Barat, yang dihadiri Ketua Majelis Penasehat Dewan Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (MPP DPP Hidayatullah), Sabriati Aziz, disambut antusias masyarakat.

Acara semarak yang berlangsung pada hari Selasa (26/4/2016) ini dibuka Bupati diwakili Staf Ahli Pembangunan Drs Syarifuddin MM. Hadir pula tokoh setempat, Ridwan Hilal S Ag MM, yang menjadi pembanding dalam seminar ini.

Selain itu, acara yang berlangsung di pusat kota Kabupaten Polman ini juga tampak disambut antusis oleh audien yang dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Polewali Mandar Ir.H.A. Ismail, puluhan perwakilan Kepala Sekolah se-Polman, perwakilan siswa/siswi SMA se-Polman, dan diikuti juga oleh sejumlah kelompok Majelis Taklim dan pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Polman.

Sabriati Aziz yang juga Ketua Presidium Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI) dalam materi yang dibawakannya menyampaikan pentingnya peran keluarga serta urgensi kesalingterhubunghan unsur-unsur yang ada di dalamnya yakni orangtua sebagai kepala atau manajer terhadap anak-anaknya.

Keharmonisan dan kesalingterhubungan dalam keluarga ini penting untuk dibangun. Sebab, faktanya, kata pembina portal berita keluarga Kipikonline.com ini, ada gejala saat ini dimana masyarakat terus digempur budaya-budaya permisif yang datang dari luar yang mencoba menepikan peran sentral orangtua.

Terlebih, lanjut Sabriati, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat dahsyat saat ini seolah menjadi seperti bom pembunuh massal. Kata Sabriati, memang banyak kasus nihilnya interaksi antar orangtua dengan anak bahkan terjadinya pengabaian terhadap kondisi sosial sekitar karena dipicu oleh gadget yang beralih menjadi "Tuhan kecil".

Karenanya, pemerhati pendidikan yang menyelesaikan program doktoralnya di Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, terus berupaya menguatkan ketahanan keluarga.

Sabriati Aziz juga mendorong setiap keluarga muslim memiliki kurikulum pendidikan yang baku dalam mendidik anggota keluarganya khususnya dalam adab. Terlebih ibu atau keluarga adalah sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Menurut Sabriati, selain kurangnya pemahaman orang tua, ketiadaan kurikulum pendidikan yang baku disebutkan menjadi salah satu faktor hilangnya ruh pendidikan dalam sebuah keluarga Muslim.

“Selama ini kurikulum hanya dikenal berlaku di sekolah dan lembaga pendidikan formal. Padahal rumah adalah institusi terpenting dalam pendidikan kepribadian anak dan seluruh anggota keluarga,” papar beliau.

Seperti diketahui, selama hampir sepekan ini Sabriati Aziz menghadiri berbagai kegiatan seminar parenting sebagai narasumber di sejumlah kabupaten/kota di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Roadshow ini sekaligus dalam rangka penguatan sinergi dan silaturrahim dengan institusi lainnya tak terkecuali pemerintah di kedua wilayah tersebut. (ybh/hio)





Sabtu, 23 April 2016

Muslimat Hidayatullah Sulbar Gelar Seminar Nasional Parenting


Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Barat (Sulbar) menggelar acara seminar nasional sehari bertajuk edukasi parenting dengan tema "Membangun Generasi Qur'ani Bebas LGBT" berlangsung di Hotel Pantai Indah, Kota Mamuju, Sulbar, Sabtu (23/04/2016).

Acara ini terselenggara dengan sukses atas kerjasama Muslimat Hidayatullah Sulbar dengan Tim Penggerak PKK Provinsi Sulbar, BkkbN, Lembaga Komunitas Pecinta Keluarga (KIPIK) dan didukung oleh Bank Muamalat.

Dalam sambutannya saat membuka acara seminar, Asisten I Provinsi Sulbar, H. Nur Alam Tahir, SH. M.Pd.I, menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulbar atas inisiasinya menggelar seminar yang mengusung tema yang cukup sensitif tapi sangat substansial dalam pemahaman pentingnya ketahanan keluarga.

“Perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) perlu diantisipasi melalui upaya nyata dari keluarga untuk membentengi diri, pasangan, dan anak-anak kita dengan nilai-nilai ajaran agama yang kental,” kata Nur Alam Tahir.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua BkkbN Provinsi Sulbar, Dra Rita Mariany, M.Pd, saat ditemui dalam sesi audiensi dengan Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah yang diwakili oleh anggota MPP PP Mushida, DR Sabriati Aziz, M.Pd.I dan sejumlah Pengurs Wilayah (PW) Muslimat Hidayatullah Sulbar.

Pada kesempatan tersebut Rita Mariany menyatakan sangat menyambut baik program-program keummatan yang telah digulirkan oleh organisasi Muslimat Hidayatullah dan seminar tersebut yang diakuinya BkkbN sendiripun belum pernah menyentuhnya.

“BkkbN sejauh ini hanya sebatas menyentuh wilayah program pada sosialisasi pencegahan penggunaan obat-obat terlarang dan kenakalan remaja. Karena itu kami sangat menyambut baik kegiatan kemasyarakatan oleh Muslimat Hidayatullah ini,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Barat, Hj. Eni Anggraini Anwar,  melalui utusannya mengatakan sangat mendukung terselenggaranya acara seminar ini dan siap bekerja sama dengan Muslimat Hidayatullah Sulbar dalam program-program yang bersifat sosial, pendidikan, dan dakwah. Beliau tidak berkesampatan hadir pada acara tersebut karena harus melakukan study banding ke Swiss.

Adapun narasumber utama yang hadir adalah tokoh pemerhati pendidikan dan parenting DR Sabriati Aziz, M.Pd.I. Dalam pemaparannya beliau mengemukakan bahwa remaja adalah komunitas yang paling rentan terpapar perilaku LGBT mengingat kelabilan jiwa mereka.

Karenanya, anggota MPP PP Mushida yang juga pembina di portal berita keluarga KipikOnline.com ini mendorong setiap keluarga untuk tak mengabaikan peran komunikasi dan hubungan yang intensif antar orangtua dan anak serta mengoptimalkan peran rumah sebagai medium membangun karakter mulia.

“Solusi dari berbagai upaya dekonstruksi moral dan permisifisme sikap yang menggerogoti umat dan bangsa ini adalah kembali kepada komunikasi keluarga, memahami kembali urgensi ikatan pernikahan, penguatan pola asuh dan penguatan mental keagamaan,” ujar Sabriati.

Narasumber lainnya, pakar psikologi Verawaty, S.Psi, mengatakan bahwa sangat penting menyadarkan orang tua akan perannya dan memberi mereka pengetahuan tentang LGBT agar dapat mendeteksi anak-anak mereka sedini mungkin.

“Orangtua hendaknya tidak terlalu memanjakan anak-anak mereka dengan gadget tanpa pernah mencari tau apa-apa saja yang mereka konsumsi dari benda berbahaya itu. Mengingat dari benda inilah anak dapat mengakses tontonan atau game yang dapat merusak orientasi seks mereka,” pesannya.

Ketua Panitia Ummu Abdullah mengatakan tema ini sengaja diusung oleh Muslimat Hidayatullah Sulbar mengingat fenomena LGBT bagaikan gunung es yang hanya nampak sebagian kecil di permukaan tapi sejatinya mengandung ancaman besar di baliknya. Parahnya lagi, kata dia, remaja dan anak-anak pun telah terkena imbas paparan dari penyimpangan perilaku seks yang memang sukar dideteksi ini.

“Diharapkan dengan terselanggaranya seminar ini dapat membuka mata para orangtua, guru dan remaja akan bahaya LGBT. Serta anak-anak kita mampu mengatakan tidak ketika mereka diperhadapkan pada paparan tersebut. Tentu peran agama merupakan kunci yang dapat membentengi seseorang dari paparan LGBT,” imbuhnya.

Seminar ini dihadiri sedikitnya 250 peserta dari kalangan ibu-bu majelis taklim, utusan dari berbagai organisasi wanita, guru, mahasiswa dan perwakilam pelajar SMA se-Kabupaten Mamuju. Diagendakan acara seminar nasional LGBT serupa akan dilaksanakan juga di 3 kabupaten di Sulawesi Barat. Dimulai dari Mamuju, Majene, dan Polman, demikian disampaikan panitia. */ Miftahussa'adah - Mamuju

FOTO-FOTO:






Rabu, 30 Maret 2016

Mushida dan Kipik Kerjasama Pemkab Luwu Gelar Seminar Keluarga Bebas LGBT

Dewan Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (PD Mushida) bekerjasama dengan lembaga swadaya masyarakat Komunitas Pecinta Keluarga (KIPIK) dan didukung Kabupaten Luwu Utara, menggelar acara seminar sehari bertajuk "Bagun Keluarga Sehat Bebas LGBT".

Acara seminar ini digelar di di Aula Kantor Bupati Luwu Utara, Senin 27 Maret. Seminar menghadirkan pembicara diantaranya Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani yang sekaligus menjadi keynote speaker, Anggota DPD RI Dr Ir Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, dan Ketua Umum Komunitas Pecinta Keluarga (KIPIK) Nasional Dr. Sabriati Aziz, M.Pd.I.

Sabriati dalam pemaparannya mengatakan secara naluri manusia diciptakan dengan saling berpasangan antara pria dan wanita. Karena itu ada kehendak untuk membina hubungan untuk membina rumah tangga dan memiliki keturunan melalui proses hubungan biologis yang normal yang dengannya kehidupan normal dan sehat menjadi kunci untuk ketentraman hidup.

Namun, imbuh beliau, kini mengkhawatirkan bagi masyarakat adanya hubungan menyimpang dan turunannya yakni Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Penyimpangan tersebut menurut Sabriati kian mengerikan karena coba disebarluaskan melalui beragam cara bahkan ada upaya untuk melegalisasinya.

"Padahal, jelas ini sangat bertentangan dengan fitrah penciptaan manusia. Banyak penelitian menyebutkan LGBT bisa sembuh, hanya saja pengidapnya terus mencoba merasionalisasi penyakit ini agar diakui sebagai suatu hal yang normal," ujarnya.



Karena itu, dikatakan Sabriati, keluarga adalah tameng utama untuk mencegah semakin meluasnya virus LGBT yang faktanya saat ini ia terus digelorakan oleh pendukungnya dengan sokongan dana asing yang tidak sedikit.

Sehingga, lanjut Sabriati, fakta tersebut semakin menunjukkan bahwa LGBT berusaha dirasionalisasi dan dilegalisasi di berbagai negara yang menjadi target. Indonesia dengan penduduk Islam mayoritas boleh jadi salah satu target utamanya untuk melemahkan jiwa generasi muda.

Seperti diketahui, UNDP bekerja sama dengan Kedutaan Besar Swedia di Bangkok dan Badan Bantuan Pembangunan Internasional AS (USAID) mengucurkan dana sebesar 8 juta dolar AS untuk mendukung berbagai kegiatan yang dilakukan kaum LGBT.

Dalam keterangannya, UNDP menyebutkan bahwa proyek ini dimulai pada Desember 2014 hingga September 2017.

Tujuan dari dibentuknya proyek tersebut untuk mendukung kaum LGBT dalam mengetahui hak mereka, termasuk hak hukum dalam melaporkan pelanggaran hak asasi manusia yang dialami mereka.

Hasil yang ingin dicapai dari proyek tersebut salah satunya untuk meningkatkan kemampuan organisasi non-profit LGBT untuk memobilisasi, menyokong, dan berkontribusi melalui dialog, kebijakan dan aktivitas pemberdayaan komunitas. (ybh/hio)

Selasa, 01 Maret 2016

Mencetak Walijah Melalui Halaqah

KUNCI menjadi seorang Muslim adalah mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat). Yaitu berucap asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyahadu anna muhammadan rasuulullah.

Ketika kalimat tauhid telah dilisankan, setelahnya segala konsekuensi syahadat harus dipenuhi oleh orang beriman.Mulai dari implementasi syahadat yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan yang menghalangi suatu jalan hingga berperang di jalan agama (jihad fi sabilillah).

Setidaknya ada 77 perkara keimanan yang harus dikerjakan oleh seorang beriman. Demikian disebutkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman yang diringkas oleh Imam al-Qozwaini.

Tentu tak semudah membalik telapak tangan dalam mengarungi proses keimanan yang bercabang hingga 77 tingkatan itu. Ibarat sebuah titian, ia adalah perjalanan yang pasti disesaki oleh gelombang tantangan dan rintangan yang membadai.

Sebagai makhluk sosial, maka potensi yang dipunyai tak cukup menjadi bekal jika tidak melibatkan bantuan orang lain. Apalagi kalau orang itu sampai bangga dan merasa cukup untuk ditolong oleh saudaranya.

Sebaliknya, setiap manusia niscaya membutuhkan kawan yang bisa seiring sejalan. Ada teman yang dapat menasehati kala diri lupa, ada sahabat untuk berbagi di masa senang dan susah.

Pun dalam membangun komitmen berdakwah dan berjuang untuk agama Islam, umat Islam berhajat untuk saling menguatkan buhul ukhuwah. Seorang Muslim membutuhkan saudaranya Mukmin yang lain agar menyatu dalam kekuatan yang satu. Saling bersinergi merekatkan potensi yang berserak di bawah kepemimpinan Islam.

Hal ini dijelaskan oleh Fathi Yakan dalam bukunya “Madza Ya’ni Intimai Ila al-Islam”. Ia mengatakan, orang-orang yang mengaku beriman namun enggan dalam memperjuangkan Islam adalah orang yang linglung. Keyakinan mereka adalah formalitas yang jauh dari realita kehidupan, meskipun beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan aktifitas kerohanian.

Menurut Fathi Yakan, berjuang untuk Islam hukumnya wajib sejak syahadat pertama kali diucapkan. Olehnya mendapatkan teman setia yang dapat mengingatkan kala tergelincir serta saling menjaga komitmen berIslam adalah sebuah keniscayaan sekaligus pekerjaan yang tidak mudah.

Persaudaraan dalam Islam saja tidaklah cukup. Sebab kawan setia yang dimaksud adalah sahabat yang dapat saling menopang dengan semua yang dia miliki. Mulai dari harta, raga, bahkan jiwa demi perjuangan Islam.

Dalam hal ini Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi teladan luar biasa bagi seluruh umat Islam. Sepanjang hidupnya Abu Bakar melakoni peran sebagai sahabat setia Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam (Saw). Mulai dari Rasulullah menerima wahyu pertama di gua Hira hingga berujung di hari wafat Nabi.

Sebagaimana Nabi Muhammad juga berhasil mempersaudarakan sahabat Muhajirin (pendatang dari Makkah) dengan kaum Anshar (penduduk Madinah) sesaat bakda peristiwa Hijrah tersebut.

Lebih jauh, syariat Islam mengatur pertemanan orang-orang beriman dalam kehidupan mereka. Allah tidak ridha sekiranya orang beriman mengambil selain mereka sebagai kawan setia dalam memperjuangkan Islam.

Allah berfirman:

ام حسبتم ان تتركوا ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ولم يتخذوا من دون الله ولا رسوله ولا المؤمنين وليجة والله خبير بما تعملون

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah at-Taubah [9]: 16).

Allah menyiratkan akan menimpakan terus ujian dan cobaan bagi siapa saja yang mengaku beriman hingga mereka tersaring dan terpilih sebagai sebenar-benar orang mukmin.

Yaitu orang-orang yang berciri khas tak mau berkawan setia kecuali dengan Allah, Rasulullah, dan orang-orang beriman lainnya.

Ayat di atas juga menyebut kata ‘walijah’. Sebuah kata yang berasal dari akar kata ‘walaja-yaliju’ yang berarti masuk. Ia disebut walijah bagi seorang Muslim jika orang itu masuk sedalam-dalamnya pada kehidupan sahabatnya, menjalin cinta dan kesetiaan bersamanya.

Ibnu Mandzur berkata, walijah adalah bithanah, khashshah, dikhlah dan dakhilah al-mawaddah (Lihat kamus Lisan al-Arab).

Mencetak walijah melalui halaqah

Bagi orang beriman, budaya halaqah adalah tradisi yang sudah dikenal sejak masa para sahabat hidup bersama Nabi.

Sejarah mencatat, Rasulullah mengawali halaqah dalam pembinaan para sahabat sejak di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam.

Halaqah yang dimaksud adalah kumpulan yang terdiri dari beberapa orang yang duduk melingkar untuk menuntut ilmu dan mempelajari agama.

Model menuntut ilmu semacam ini terus berkembang model dan jenisnya. Tercatat budaya halaqah kian tumbuh subur di masa Daulah Abbasiyah seperti yang tersebar kini di sejumlah pondok pesantren tradisional di Indonesia.

Dalam sistem halaqah tersebut, seseorang yang dianggap punya kompentensi ilmu lalu dipercaya sebagai murabbi (pembina halaqah) dan beranggotakan beberapa orang lainnya (mutarabbi). Biasanya anggota halaqah berjumlah sekitar 5-10 orang.

Istimewanya, sistem halaqah tersebut bukan hanya tempat menimba ilmu saja, tapi juga sebagai tempat mencetak orang-orang yang ingin menyempurnakan keimanan mereka.

Peran seorang murabbi dalam halaqah tidak hanya sebagai transformer (pemindah) ilmu namun juga berfungsi pencetak kader yang loyal terhadap Allah, Rasulullah, serta punya wala’ dan bara’ bersama orang-orang beriman lainnya.

Tugas besar sekaligus mulia itu tentu tidak mudah bagi setiap murabbi. Sebab ia harus melebur bersama para mutarabbi (binaan halaqah) dengan segenap hati, pikiran, dan perasaannya.

Dengannya, ia lalu dapat diterima, didengar dan dicintai oleh sesama anggota halaqah. Demikian itu sekaligus menjadi tahap seleksi yang membuktikan mana di antara anggota yang bersungguh-sungguh menjaga dan membangun komitmennya terhadap dakwah Islam.

Sejatinya dinamika yang terjadi dalam halaqah adalah miniatur suatu jamaah atau komunitas masyarakat. Olehnya tak salah, jika keluarga biasa disebut sebagai pondasi awal atau sekeping batu bata dalam membangun peradaban Islam, sedang halaqah adalah wadah dalam menjaga agar batu bata ini tetap teguh memikul tanggung jawab sebagai seorang mukmin.

Halaqah yang hanya terdiri dari beberapa anggota tersebut juga berfungsi menjadi wadah efektif mencetak walijah-walijah yang siap berjalan seiring dalam berdakwah dan membangun peradaban Islam.

Untuk itu diharapkan hati murabbi dan para mutarabbi bisa berpadu dalam suatu halaqah. Sejalan waktu, niscaya akan tersingkap anggota yang hanya ikut-ikutan atau sekedar turut ramai, misalnya.

Di saat yang sama, para walijah itu akan hadir membuktikan kesetiaan mereka. Sebuah komitmen yang tak hanya berdasar kepentingan materi, tapi murni sebagai pertautan hati yang terbangun semata karena iman.

Uniknya, masalah hati bukan urusan yang bisa dibuat atau dikarang begitu saja. Hati adalah perkara yang hanya bisa diatur oleh Allah. Dialah Zat yang dapat menautkan hati orang-orang beriman agar tetap istiqamah di jalan yang diridhai-Nya.

Hati-hati mereka lalu saling menjaga dan menasihati, saling mencintai serta mengikat janji setia dalam keadaan senang ataupun susah. Mereka siap mengorbankan jiwa dan raga demi dakwah dan kepentingan agama Islam.

Allah berfirman:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـكِنَّ اللّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (Surah al-Anfal [8]: 63).

______
*) SARAH ZAKIYAH, penulis adalah pengurus PP Muslimat Hidayatullah; seorang guru sekolah dasar tinggal di Depok, Jawa Barat. 

Senin, 14 Desember 2015

Peran Muslimat dalam Kepemimpinan Keluarga

Oleh Sulastri*

BERBICARA tentang wanita sebagai individu dan sebagai istri. Kadangkala peran wanita sering mengalami tumpang tindih karena keduanya pada satu waktu bisa berjalan bersamaan.

Dan, kedua hal tersebut, seringkali tidak disadari oleh para wanita. Disinilah letak kehebatan wanita dimana kemampuan generik itu tak dimiliki oleh umumnya lelaki.

Maka disinilah dibutuhkan kedewasaan dan kemampuan kaum wanita -terlebih lagi laki-laki- untuk memahami kondisi tersebut. Sehingga, semua akan berjalan baik. Kemampuan mengkolaborasi peran-peran mulia kodrati tersebut merupakan tantangan wanita shalihah.
   
Sebagai individu, wanita memiliki tanggungjawab terhadap diri sendiri. Sebab, sejatinya, setiap individu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya selama hidup di dunia.

Rasullullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanya terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dari keluarganya dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang orang yang dipimpinnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya” (HR. Bukhori dan Muslim).
   
Sebagai individu, wanita juga memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu dalam rangka mengembangkan pengetahuan diri tentang apa saja, terlebih lagi ilmu agama (diniyah). Siapapun muslimat pasti mendabakan kehidupan yang bahagia dunia-akhirat dengan berpedoman pada syariat Islam.

Karena itulah, Allah dan Rasul-Nya memerintahkan tiap muslim dan muslimat untuk menuntut ilmu, seperti sabda Rasulullah yang artinya: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim dan muslimah“ (HR. Ibnu Majah).
   

Ketika seorang pria atau wanita telah tiba waktunya untuk menikah, maka mereka hendaknya sudah memiliki bekal untuk mengarungi lautan bahtera rumah tangga. Rasulullah pernah memberikan kriteria-kriteria wanita yang umumnya didambakan oleh kebanyakan pria yakni karena kecantikannya, keturunannya, kekayaannya, dan kebaikan agamanya.

Tetapi Rasulullah menegaskan: “Hendaklah engkau memilih wanita yang baik agamanya, niscaya engkau akan beruntung (HR. Bukhari dan Muslim).
     
Wanita memiliki hak yang sama dengan pria dalam beramal shaleh dan tidak ada perbedaan di hadapan Allah Ta'ala dalam hal tersebut. Karena masing-masing akan mendapatkan pahala sesuai dengan amalannya.

Hal tersebut sebagaimana diterangkan dalam firman Allah dalam surah An Nisa ayat 124 yang artinya:

“Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak didholimi sedikit pun“.
     
Dalam firman Allah Ta'ala yang lain, juga menegaskan demikian. Seperti dinukil surah Al Ahzab ayat 35 yang artinya:

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, perempuan dan laki-laki mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.
     
Pentingnya Ilmu

Wanita mukmin yang berilmu dengan yang tidak berilmu tentu tidaklah sama. Maka demikian, wanita yang berilmu bila sudah menikah akan menjalani hidupnya dengan sadar bahwa dirinya telah menjadi istri dari suami yang telah menikahinya.

Pada saat wanita sudah menikah maka status diri sudah berubah menjadi istri dan oleh karena itu wanita sudah berkewajiban untuk berkhikmad kepada suami hanya karena Allah semata bukan manusia. Dalam firman Allah yang artinya:

“Dan diantara tanda-tanda (kebesaranNya) ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum: 21).
     
Dalam surah Qur'an yang lainnya Allah Ta'ala berfirman yang artinya:

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan, mereka (istri-istri) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS. An Nissa’: 21).

Betapa jelas firman Allah tersebut bahwa pernikahan merupakan ikatan yang kuat dalam rangka membentuk keluarga yaitu baik suami maupun istri yang tidak ada paksaan dalam mengikat janji suci antar keduanya. Susah-senang dijalani bersama tanpa menyalahkan satu sama lain.

Pernikahan terjadi karena sudah ada kesepakatan bersama untuk saling percaya. Di dalam proses perjalanan menjalani hidup berkeluarga, kadang tidak selalu seperti yang diharapkan. Oleh karenanya, dibutuhkan komitmen suami-istri agar satu sama lain tidak terlalu mudah menuntut pada pasangannya.

Harus disadari bahwa masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu juga dengan hak dan kewajiban. Istri memiliki hak dan kewajiban terhadap suami begitu juga sebaliknya. Akan tetapi, bisakah bangunan keluarga dibangun di atas pondasi hak dan kewajiban semata? Tentu tidak.

Oleh karenanya, pasca mengikat janji suci, hubungan istri terhadap suami adalah lahir dan batin yang mesti terikat secara total. Dan, itu artinya, dalam suka dan duka, istri harus setia mendampingi suami dan juga sebaliknya. Demikianlah, karena tujuan hidup berkeluarga baik bagi suami maupun istri tidak sebatas mencari kebahagian atau kesenangan semata.
     
Rasulullah bersabda tentang istri yang shalihah dambaan para suami:

“Jika dilihat suami menyenangkan, jika diperintah suami dia taat, jika suaminya sedang pergi ia mampu menjaga harta dan kehormatan, dan tidak akan pernah memasukkan ke dalam rumahnya lelaki yang bukan mahramnya“ (HR. Abu Daud).
     
Dengan demikian, wanita diciptakan Allah dengan tujuan agar wanita mampu memberikan ketentraman kepada laki-laki. Manakala suami sedang dalam kondisi tidak tenang, resah, dan gelisah, maka istri harus mampu memberikan ketenangan, hiburan, dan siap menjadi tempat bagi suaminya untuk berkeluh-kesah mengungkapkan perasaannya.

Istri merupakan pelabuhan bagi suami. Disanalah tempat suami menyandarkan kapal sebagai tempat istirahat, menghilangkan segala kepenatan selepas berlayar dengan berbagai problem selama dalam pelayaran.

Istri merupakan partner bagi suami dalam mengarungi samudera kehidupan yang terbentang luas. Semakin ke tengah semakin besar pula gelombang yang menerjang. Oleh karenanya dibutuhkan kerja sama yang baik agar sampai tujuan dengan selamat. Karena sejatinya setiap muslim hidup mulia di dunia dan bahagia di akhirat. Insya Allah.
____________
SULASTRI, penulis adalah Ketua DPW Muslimat Hidayatullah Jawa Timur.



Kamis, 03 Desember 2015

Munas IV Mushida dan Peradaban Islam

Oleh Dewi Maslikah

ADALAH Khadijah binti Khuwailid. Beliau wanita mulia, istri dari manusia paling mulia sejagad raya, yang patut kita jadikan teladan sebagai Muslimah sejati.

Khadijah dipilih Allah untuk mendampingi Rasulullah karena berbagai kelebihan yang dimiliki. Kemuliaan nasab dan akhlak, kedermawanan, ilmu dan pengorbanannya. Khadijah adalah wanita terbaik pada masa itu.

Khadijah adalah penopang dakwah Rasulullah dalam memperjuangkan agama Allah. Beliau adalah pendukung utama Rasulullah dalam hal materi dan non materi. Keikhlasan, kesetiaan, cinta, harta, bahkan jiwa siap beliau dermakan sehingga Islam dapat tegak di muka bumi.

Sungguh pantas kiranya, ketika Rasulullah bersabda: "Ada 4 wanita paling mulia derajatnya di sepanjang sejarah manusia. Yaitu Asiyah istri firaun, Maryam ibunda Nabi Isa, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Rasulullah. Mereka adalah wanita penghulu surga. Masya Allah.

Kembali pada masa sekarang, kembali kepada diri kita pribadi, sebagai muslimah sejati, kader dan daiyah Muslimat Hidayatullah, sudahkah kita berkorban untuk agama ini?

Sudahkah kita menjadi penopang gerakan dakwah suami kita? Sudahkah kita menjadi pendukung utama gerakan dakwah suami kita? Sudahkah kita mengorbankan harta dan jiwa kita demi tegaknya peradaban Islam, cita-cita mulia kita bersama?.

Mari kita bangkit sebagai penggerak dan bukan sekedar penggembira. Mari menunjukkan karya nyata kita, dengan mendidik anak-anak kita memahami Al-Qur'an sehingga kelak mereka menjadi generasi sholeh yang menjaga izzah Islam. Generasi yang kelak bisa menegakkan peradaban Islam setidaknya dalam lingkup pribadinya.

Sungguh, di balik figur lelaki yang hebat adalah seorang wanita yang hebat pula, Insya Allah. Wanita itu adalah kita, Muslimat Hidayatullah.

Membangun peradaban Islam tidak melulu dalam skala yang terlalu melangit. Bahkan peradaban Islam bisa ditegakkan melalui medium-medium terkecil. Demikianlah pesan yang juga pernah disampaikan oleh Ustadz Abdul Mannan selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah saat menutup Munas III Mushida dan Kongres Tokoh Perempuan Daerah di Jakarta tahun 2010 lalu.

Beliau berpesan bahwa dengan berperan mewujudkan keluarga muslim sakinah dan mawaddah merupakan bagian peraga penting tercapainya sebuah peradaban.

Melalui program-program yang selama ini menjadi konsentrasi Mushida yaitu pendidikan dan dakwah terutama pendidikan Tingkat Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) serta pembinaan keluarga Muslimah. Diharapkan kemudian pengurus Mushida perlu memperhatikan program itu karena bagaimanapun keluarga adalah tiang negara.

Dekadensi moral yang menyerang generasi muda bisa dicegah dengan pendidikan intensif di lingkungan keluarga. ”Apalagi usia dini paling sensitif dengan doktrin-doktrin agama, disitulah Mushida harus berperan,” demikian pesan Ustadz Mannan yang juga merupakan tokoh senior Hidayatullah.

Akhirnya, kami mengucapkan selamat ber-Musyawarah Nasional yang ke IV Muslimat Hidayatullah yang tinggal menghitung hari. Semoga Allah senantiasa meridhai setiap gerak langkah kita. Aamiin.

___________
DEWI MASLIKAH, penulis adalah Ketua DPW Muslimat Hidayatullah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Jumat, 20 November 2015

Muslimah Bekerja, Begini Pandangan Islam

MERUPAKAN pemandangan yang jamak di era modern ini, seorang wanita bekerja atau berkarier di luar rumah. Bekerja menuntut para wanita meninggalkan rumah dan anak-anak mereka hingga berjam-jam.

Pulang larut malam karena bekerja juga bukan hal aneh lagi. Bahkan, tak sedikit wanita bekerja di ‘dunia’ laki-laki. Sebut saja misalnya, menjadi pilot, sopir, atau kernet bus. Di beberapa tempat, bahkan ada wanita menjadi tukang becak.

Maka muncullah pertanyaan, bagaimana sejatinya pandangan Islam tentang hal ini?

Kitab al-Mawsu’at al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah menjelaskan, tugas utama seorang perempuan adalah mengurus rumah tangga dan keluarga termasuk mendidik anak-anak. Berbakti kepada suami termasuk pula tugas utama seorang wanita. Terkait hal ini, Rasulullah SAW bersabda: “Perempuan itu mengatur dan bertanggung jawab atas urusan rumah suaminya.” (HR al-Bukhari). Dalam hal ini, perempuan tidak dituntut memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri karena sudah merupakan kewajiban ayah atau suaminya. Karena itu, wilayah kerja perempuan hanya di rumah.

“Meski demikian, Islam tidak melarang perempuan bekerja,” kata Dr Abd al-Qadir Manshur, guru besar ilmu Alquran Universitas Sayf al-Dawlah, dalam buku Buku Pintar Fikih Wanita. Menurut Manshur, mereka boleh melakukan jual beli atau usaha dengan harta benda pribadinya. Tidak seorang pun boleh melarang mereka selama mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan agama. Atas dasar ini, mereka diperbolehkan memperlihatkan wajah saat melakukan transaksi jual-beli atau kedua telapak tangan mereka ketika memilih, mengambil, dan memberikan barang dagangan.

Menurut Manshur, banyak teks-teks hadis dan pendapat ulama yang memperbolehkan wanita bekerja. Intinya, seorang Muslimah boleh bekerja jika mendapat izin dari suami. Hak memberi izin yang dimiliki suami ini gugur dengan sendirinya jika suami tidak memberi nafkah pada istrinya.

Meski boleh bekerja, tak sembarang pekerjaan boleh dilakukan seorang  Muslimah. Dalam hal ini, seperti disebutkan dalam al-Mawsu’at al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah ada beberapa kriteria pekerjaan di luar rumah yang boleh dilakukan perempuan. Pertama, tidak termasuk perbuatan maksiat dan tidak mencoreng kehormatan keluarga.

Kedua, tidak mengharuskan dirinya berduaan (khalwat) dengan laki-laki bukan muhrimnya. Dalam Bada’i al-Shana’i disebutkan, Imam Abu Hanifah mengharamkan pekerjaan asisten pribadi bagi perempuan. Hal itu mengingat fitnah yang mungkin timbul ketika dia berduaan dengan atasannya yang seorang laki-laki bukan muhrimnya. Pendapat yang sama dikemukakan Abu Yusuf dan Imam Muhammad. Berduaan dengan laki-laki bukan muhrimnya termasuk perbuatan maksiat, di samping memungkinkan terjadinya kemaksiatan. Seperti sabda Rasulullah: “Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan perempuan kecuali setan menjadi pihak ketiganya.” (HR al-Thabrani dan al-Hakim).

Ketiga, tidak mengharuskan dirinya berdandan berlebihan dan membuka auratnya ketika keluar rumah. Larangan ini sejalan dengan firman Allah dalam surah al-Ahzab ayat 33: “Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah dahulu.” Begitu pula dalam surah al-Nur ayat 31: “Dan, janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya) kecuali yang biasa terlihat.”

Sementara itu, dalam sebuah hadis disebutkan: “Wanita yang menyeret ekor kainnya, berjalan lenggak-lenggok, dan berdandan bukan untuk suaminya adalah seperti kegelapan hari kiamat yang tak memiliki cahaya sedikit pun.” (HR  al-Tirmidzi dari Maimunah bint Sa’ad).

Sumber: Khazanah Republika

Jumat, 13 November 2015

Mencetak Walijah Melalui Halaqah

KUNCI menjadi seorang Muslim adalah mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat). Yaitu berucap asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyahadu anna muhammadan rasuulullah.

Ketika kalimat tauhid telah dilisankan, setelahnya segala konsekuensi syahadat harus dipenuhi oleh orang beriman.Mulai dari implementasi syahadat yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan yang menghalangi suatu jalan hingga berperang di jalan agama (jihad fi sabilillah).

Setidaknya ada 77 perkara keimanan yang harus dikerjakan oleh seorang beriman. Demikian disebutkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman yang diringkas oleh Imam al-Qozwaini.

Tentu tak semudah membalik telapak tangan dalam mengarungi proses keimanan yang bercabang hingga 77 tingkatan itu. Ibarat sebuah titian, ia adalah perjalanan yang pasti disesaki oleh gelombang tantangan dan rintangan yang membadai.

Sebagai makhluk sosial, maka potensi yang dipunyai tak cukup menjadi bekal jika tidak melibatkan bantuan orang lain. Apalagi kalau orang itu sampai bangga dan merasa cukup untuk ditolong oleh saudaranya.

Sebaliknya, setiap manusia niscaya membutuhkan kawan yang bisa seiring sejalan. Ada teman yang dapat menasehati kala diri lupa, ada sahabat untuk berbagi di masa senang dan susah.

Pun dalam membangun komitmen berdakwah dan berjuang untuk agama Islam, umat Islam berhajat untuk saling menguatkan buhul ukhuwah. Seorang Muslim membutuhkan saudaranya Mukmin yang lain agar menyatu dalam kekuatan yang satu. Saling bersinergi merekatkan potensi yang berserak di bawah kepemimpinan Islam.

Hal ini dijelaskan oleh Fathi Yakan dalam bukunya “Madza Ya’ni Intimai Ila al-Islam”. Ia mengatakan, orang-orang yang mengaku beriman namun enggan dalam memperjuangkan Islam adalah orang yang linglung. Keyakinan mereka adalah formalitas yang jauh dari realita kehidupan, meskipun beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan aktifitas kerohanian.

Menurut Fathi Yakan, berjuang untuk Islam hukumnya wajib sejak syahadat pertama kali diucapkan. Olehnya mendapatkan teman setia yang dapat mengingatkan kala tergelincir serta saling menjaga komitmen berIslam adalah sebuah keniscayaan sekaligus pekerjaan yang tidak mudah.

Persaudaraan dalam Islam saja tidaklah cukup. Sebab kawan setia yang dimaksud adalah sahabat yang dapat saling menopang dengan semua yang dia miliki. Mulai dari harta, raga, bahkan jiwa demi perjuangan Islam.

Dalam hal ini Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi teladan luar biasa bagi seluruh umat Islam. Sepanjang hidupnya Abu Bakar melakoni peran sebagai sahabat setia Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam (Saw). Mulai dari Rasulullah menerima wahyu pertama di gua Hira hingga berujung di hari wafat Nabi.

Sebagaimana Nabi Muhammad juga berhasil mempersaudarakan sahabat Muhajirin (pendatang dari Makkah) dengan kaum Anshar (penduduk Madinah) sesaat bakda peristiwa Hijrah tersebut.

Lebih jauh, syariat Islam mengatur pertemanan orang-orang beriman dalam kehidupan mereka. Allah tidak ridha sekiranya orang beriman mengambil selain mereka sebagai kawan setia dalam memperjuangkan Islam.

Allah berfirman:

ام حسبتم ان تتركوا ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ولم يتخذوا من دون الله ولا رسوله ولا المؤمنين وليجة والله خبير بما تعملون

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah at-Taubah [9]: 16).

Allah menyiratkan akan menimpakan terus ujian dan cobaan bagi siapa saja yang mengaku beriman hingga mereka tersaring dan terpilih sebagai sebenar-benar orang mukmin.

Yaitu orang-orang yang berciri khas tak mau berkawan setia kecuali dengan Allah, Rasulullah, dan orang-orang beriman lainnya.

Ayat di atas juga menyebut kata ‘walijah’. Sebuah kata yang berasal dari akar kata ‘walaja-yaliju’ yang berarti masuk. Ia disebut walijah bagi seorang Muslim jika orang itu masuk sedalam-dalamnya pada kehidupan sahabatnya, menjalin cinta dan kesetiaan bersamanya.

Ibnu Mandzur berkata, walijah adalah bithanah, khashshah, dikhlah dan dakhilah al-mawaddah (Lihat kamus Lisan al-Arab).

Mencetak walijah melalui halaqah

Bagi orang beriman, budaya halaqah adalah tradisi yang sudah dikenal sejak masa para sahabat hidup bersama Nabi.

Sejarah mencatat, Rasulullah mengawali halaqah dalam pembinaan para sahabat sejak di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam.

Halaqah yang dimaksud adalah kumpulan yang terdiri dari beberapa orang yang duduk melingkar untuk menuntut ilmu dan mempelajari agama.

Model menuntut ilmu semacam ini terus berkembang model dan jenisnya. Tercatat budaya halaqah kian tumbuh subur di masa Daulah Abbasiyah seperti yang tersebar kini di sejumlah pondok pesantren tradisional di Indonesia.

Dalam sistem halaqah tersebut, seseorang yang dianggap punya kompentensi ilmu lalu dipercaya sebagai murabbi (pembina halaqah) dan beranggotakan beberapa orang lainnya (mutarabbi). Biasanya anggota halaqah berjumlah sekitar 5-10 orang.

Istimewanya, sistem halaqah tersebut bukan hanya tempat menimba ilmu saja, tapi juga sebagai tempat mencetak orang-orang yang ingin menyempurnakan keimanan mereka.

Peran seorang murabbi dalam halaqah tidak hanya sebagai transformer (pemindah) ilmu namun juga berfungsi pencetak kader yang loyal terhadap Allah, Rasulullah, serta punya wala’ dan bara’ bersama orang-orang beriman lainnya.

Tugas besar sekaligus mulia itu tentu tidak mudah bagi setiap murabbi. Sebab ia harus melebur bersama para mutarabbi (binaan halaqah) dengan segenap hati, pikiran, dan perasaannya.

Dengannya, ia lalu dapat diterima, didengar dan dicintai oleh sesama anggota halaqah. Demikian itu sekaligus menjadi tahap seleksi yang membuktikan mana di antara anggota yang bersungguh-sungguh menjaga dan membangun komitmennya terhadap dakwah Islam.

Sejatinya dinamika yang terjadi dalam halaqah adalah miniatur suatu jamaah atau komunitas masyarakat. Olehnya tak salah, jika keluarga biasa disebut sebagai pondasi awal atau sekeping batu bata dalam membangun peradaban Islam, sedang halaqah adalah wadah dalam menjaga agar batu bata ini tetap teguh memikul tanggung jawab sebagai seorang mukmin.

Halaqah yang hanya terdiri dari beberapa anggota tersebut juga berfungsi menjadi wadah efektif mencetak walijah-walijah yang siap berjalan seiring dalam berdakwah dan membangun peradaban Islam.

Untuk itu diharapkan hati murabbi dan para mutarabbi bisa berpadu dalam suatu halaqah. Sejalan waktu, niscaya akan tersingkap anggota yang hanya ikut-ikutan atau sekedar turut ramai, misalnya.

Di saat yang sama, para walijah itu akan hadir membuktikan kesetiaan mereka. Sebuah komitmen yang tak hanya berdasar kepentingan materi, tapi murni sebagai pertautan hati yang terbangun semata karena iman.

Uniknya, masalah hati bukan urusan yang bisa dibuat atau dikarang begitu saja. Hati adalah perkara yang hanya bisa diatur oleh Allah. Dialah Zat yang dapat menautkan hati orang-orang beriman agar tetap istiqamah di jalan yang diridhai-Nya.

Hati-hati mereka lalu saling menjaga dan menasihati, saling mencintai serta mengikat janji setia dalam keadaan senang ataupun susah. Mereka siap mengorbankan jiwa dan raga demi dakwah dan kepentingan agama Islam.

Allah berfirman:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـكِنَّ اللّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (Surah al-Anfal [8]: 63).*

________
SARAH ZAKIYAH, penulis adalah anggota Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah. Artikel ini juga telah dimuat di portal nasional Hidayatullah.com

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage