Indeks Berita

Ikuti berita-berita aktifitas Muslimat Hidayatullah se-Indonesia di sini

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Minggu, 30 Mei 2021

Silaturahim Syawal Keputrian Mushida Jatim: Peluang dan Tantangan Keputrian Dalam Gerakan Dakwah

Departemen Keputrian Muslimat Hidayatullah PW Jawa Timur menyelenggarakan kegiatan Silaturahim Syawal sekaligus Launching Pembinaan Pengurus dan Pengasuh Keputrian se-Jatim pada 30 Mei 2021/18 Syawal 1442 H. Kegiatan virtual ini diikuti oleh Departemen Keputrian Pengurus Daerah (PD) se-Jawa Timur, pengasuh, dan keputrian tingkat SMP, SMA, dan PT se-Jawa Timur.

“Zaman boleh berubah. Tapi akidah dan akhlak tidak boleh berubah. Sebuah mobil tidak bisa berjalan kalau tidak ada bensinnya. Demikian dengan seorang kader. Kalau kader senantiasa dibina, maka akan mendapat energi untuk berjalan dan bergerak,” terang Ketua PW Jawa Timur, Ustadzah Retno Setya Utami dalam menyampaikan sambutannya.

Masa depan bangsa ada pada generasi muda. Beliau berpesan agar selalu menjunjung tinggi Al-Quran dan sunnah sebagai bekal di dunia dan akhirat. Belajar dan mengamalkan ilmu yang sudah didapatkan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Departemen Keputrian Mushida Jawa Timur, Ustadzah Istiqomah, turut menyampaikan jati diri keputrian Hidayatullah yang harus ditanamkan dalam diri seorang kader keputrian. Di antaranya yaitu mandiri dan disiplin, bekerja sama, siap dipimpin dan memimpin, taat terhadap aturan, menyampaikan ide-ide baik, membiasakan berkata baik, pandangan yang menyejukkan, menebar kasih sayang, dan beramal dengan cinta.

“Kita sebagai khalifah Allah di muka bumi harus taat terhadap aturan, baik aturan dari lembaga, orang tua, guru. Dan yang terpenting taat terhadap aturan Allah dan Rasul-Nya,” ujarnya.

Beliau menambahkan bahwa jati diri tersebut harus dipupuk agar tidak terpengaruh dengan ghazul fikri. Dengan demikian, kita bisa meninggalkan jejak yang baik dengan amal dan prestasi.

Pada kegiatan ini, spirit keputrian dipaparkan oleh Ketua Departemen Keputrian PP Muslimat Hidayatullah, Ustadzah Mutiah Najwati dengan tema “Peluang dan Tantangan Keputrian Dalam Gerakan Dakwah.”

Beliau menuturkan bahwa dakwah merupakan kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah SWT sesuai dengan akidah, syariat dan akhlak Islam. 

Dalil tentang anjuran berdakwah terdapat dalam Al-Qur’an. 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Q.S Ali Imran Ayat 110)

Tahapan dakwah yang harus dilalui oleh seorang muslim ialah Islahu An-Nafsi (memperbaiki diri), Islahu al-Baiti (memperbaiki keluarga), Irsyad al-Mujtama (membimbing masyarakat), Tahriru al-Balad (melepaskan diri dari penjajahan asing), Islahu Al-Hukumah (memperbaiki pemerintahan yang ada), Iqamatu al-Khilafah Al- Islamiyah Al-Alamiyah (menegakkan kepemimpinan dunia Islam), dan Ustadziat Al-Alam (menjadi guru bagi dunia dengan cara menyebarkan dakwah Islam).

“Dengan banyaknya problematika remaja seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, dan bullying, maka kita harus memahami solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,” ucapnya.

Memanfaatkan media sosial dengan membuat konten Islami yang menarik dan kekinian. Media dakwah ini lebih efektif melalui media sosial serta dapat diterima kalangan remaja.

Kegiatan Silaturahim Syawal antar kader keputrian ini diharapkan mampu membuka wawasan tentang peluang dan tantangan dakwah, serta dapat mengisi amunisi ruhiyah bagi seluruh kader dalam menjalankan amanahnya.*/Arsyis Musyahadah



Sabtu, 24 April 2021

Antara Sunnah dan Qana’ah

 “Assalamu’alaikum, Mi.  Mana pesanan yang bisa Ahmad antar?” si sulung bertanya sembari berlari ke arahku dengan nafas yang terengah. Pakaian shalatnya terlihat sedikit basah diterpa gerimis lepas Ashar itu. Dua adik perempuannya yang sedang asik membaca, ikut  antusias dan mendekat, apakah gerangan yang dimaksud ‘pesanan’ oleh abangnya.

“Ambil di freezer, dalam plastik biru itu ya, “ jawabku tanpa memalingkan wajah dari layar laptop. Aku sedang berusaha mengerjakan beberapa modul test kuliah online di meja makan.

“Ooo, pempek tenggiri,“ dua putriku bergumam bersamaan saat melihat abangnya membuka freezer dan mengeluarkan bungkusan plastik biru yang sudah rapi.

“Harganya seperti biasa kan, Mi?” tanya anak laki-lakiku memastikan, dan kujawab dengan anggukan kepala serta senyuman, sebelum gerimis dan payung biru kecil menemaninya mengantarkan pesanan konsumen frozen foodku.

“Kenapa sih Ummi harus jualan, kan capek,” si bungsu Aisha bertanya sambil membolak-balik buku bacaannya. 

“Iya, kan Ummi kasian. Apa karena uangnya Abi gak cukup ya, buat ngasih Ummi?” si over thinking Adila, anak tengahku ikut menimpali pernyataan adiknya.

“Eeh, Astagfirullah, gak gitu sayang,” terkejut membuatku bersuara.

“Terus?” Adila memancingku.

Sebelum aku mulai menjawab, si pengantar pesanan sudah kembali dengan salam khasnya sebelum masuk rumah yang kemudian ikut duduk bersama adik-adiknya di sekitarku. Wajahnya sumringah sambil menyodorkan beberapa lembar uang berwarna biru.

“Abang kok kayak seneng banget, sih? Gak kasihan sama Ummi, kah? Kan capek kalau bikin jualan,” Adila beralih bertanya pada abangnya.

“Senanglah, kan jualan itu sunnah, dicintai dan dianjurkan oleh Rasulullah. Rasulullah itu mulai mengenal berdagang di usia 12 tahun, lho. Setelah usia 17 tahun sudah memimpin ekspedisi perdagangan internasional ke beberapa negara. Keren, kan,” jawab laki-laki 10 tahun itu bersemangat. Aisha dan Adila terdiam mendengarkan.

“Rasulullah dikenal sama orang-orang dari berbagai negara, sampai dilamar oleh Khadijah, juga karena berdagang itu,” sambung Ahmad dengan ekspresi wajah meyakinkan.

“Kok bisa?” dua adik perempuannya bertanya hampir bersamaan. Aku masih menatap laptop, tapi sudah tidak berminat mengetik apapun. Konsentrasiku buyar oleh drama sore itu dan akhirnya hanya menyimak setiap tanya jawab di antara tiga anakku.

“Karena Rasulullah itu bukan pedagang biasa. Rasulullah itu pedagang istimewa yang jujur, disiplin, jika berjanji gak pernah bohong dan akhlaknya itu, beginiiii…“ ujar si Abang sambil mengangkat dua jempolnnya.

“Iya kan, Mi,” sambung Ahmad memintaku menimpali.

“Ooo… iya, bener banget itu, syarat menjadi pedagang yang benar itu gak mudah, bukan hanya sekedar jualan, tapi ada syarat dan peraturannya.” Pandanganku sudah beradu dengan tiga cahaya mataku itu. Kalau soal bercerita, apalagi tentang Rasulullah, mereka paling antusias mendengarkan.

“Berdagang itu, harus seperti Rasulullah. Pertama, sesuatu yang dijual adalah sesuatu yang bermanfaat dan halal. Kemudian, pedagang itu harus jujur, amanah, disiplin, rajin dan bisa berbicara kepada orang lain dengan bahasa yang santun. Sebab akhlak-akhlak yang baik itulah, Rasulullah dikenal dan diingat oleh banyak orang termasuk Ummul Mukminin Khadijah yang memutuskan melamar beliau menjadi suaminya,” sambungku. Adila mengangguk tapi terlihat masih belum puas.

“Dila kira, uang dari Abi gak cukup, makanya Ummi jualan,” si over thinking ini mengulang menyatakan persepsinya.

“Sama sekali gak kurang, Kak. Rizki yang Allah titipkan lewat Abi untuk kita itu, harus diterima dengan qana’ah,” jawabku tanpa sadar memunculkan pertanyaan baru bagi anak-anak.

Qana’ah itu apa?” hampir serempak tiga kesayanganku ini bertanya, kulirik layar laptop yang sudah mode standby. Alamat tertunda lagi nih, pengerjaan modul test.

Qana’ah itu sikap dan rasa syukur kita dalam menerima apa saja yang sudah Allah tetapkan untuk kita, setelah apa yang kita usahakan. Misal, hari ini Allah takdirkan jualan Ummi hanya dibeli orang lain satu pack saja, Ummi harus ikhlas menerima dengan syukur dan meyakini, bahwa inilah pemberian terbaik dari Allah untuk hari ini,” jelasku tertatih karna berusaha memilih kata yang tepat agar mereka bisa mengerti. 

“Termasuk qana’ah dengan uang yang Abi kasih ya, Mi,” si abang menimpali. Sedang si bungsu asik menyimak. Entah, data apa yang sedang terolah di benaknya.

“Iya, bener banget, Bang,” balasku.

“Jualan atau berdagang itu, selain menjalankan sunnah, juga untuk membiasakan anak-anak Ummi supaya terlatih menjadi pedagang yang jujur, sabar dan amanah, kita juga bisa bersilaturrahmi dengan orang banyak seperti saat Rasulullah berdagang dulu,” lanjutku

“Nah, adapun keuntungan dari hasil jualan, bisa kita pakai untuk membantu teman dan orang lain juga. Terlebih sekarang banyak sekali musibah yang sedang membutuhkan bantuan di beberapa daerah di negara kita,” terangku kembali mengenai manfaat jualan.

“Iya, ya. Kita jadi bisa membantu orang banyak kalau begitu,” si over thinking mulai sepakat. 

Selanjutnya, saling lempar tanya jawab terjadi lebih panjang sore itu di antara mereka bertiga dengan tajuk sunnah dan qana’ah. Aku kembali menatap laptop beberapa saat dan akhirnya shut down.

Rasulullah bersabda,

إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلاَّ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَق

“Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti sebagai orang-orang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertakwa pada Allah, berbuat baik dan berlaku jujur.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih dilihat dari jalur lain)

Allah berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ .وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit setakutan, kelaparan, dan kekurangan harta jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS: Al-Baqarah ayat 155) /* Layla Hermansyah, Kuaro



Jumat, 16 April 2021

Sederhana Dalam Berbuka


Beli es buah, bakso, gorengan, somay, cilok, dan fried chicken. Mungkin itu adalah sederet keinginan ketika kita ditempa rasa haus dan rasa lapar yang sangat, waktu siang hari pada bulan Ramadhan. “Aku nanti mau makan ini, aku mau minum itu, aku mau beli ini itu,” kata-kata itu menjadi rencana dalam benak seseorang ketika dia sedang berpuasa. Biasanya anak-anak kecil yang belum kuat berpuasa sehari mengutarakan keinginannya untuk makan ini dan itu untuk berbuka nanti. Tapi tidak jarang orang dewasa juga mengendapkan keinginan tersebut dalam hatinya pada siang hari.

Akhirnya pada waktu sore, pergilah berburu takjil di pinggir jalan. Semua jenis makanan dia borong, segala jenis minuman dia beli. Puas telah memborong makanan, dia pun pulang kembali ke rumah. Apa yang terjadi ketika waktu berbuka? Hanya satu porsi somay dan seseruput es buah yang berhasil dia makan dari semua makanan yang dibeli. Karena kekenyangan, makanan itu tidak ada yang makan. Mungkin kejadian ini kerap terjadi di antara kita.

Keinginan untuk membeli ini itu sebenarnya adalah godaan hawa nafsu semata. Atau kadang orang menyebutnya dengan lapar mata. Perut kita tidak akan sanggup menampung makanan yang banyak setelah kurang lebih 13 jam berpuasa. Lalu bagaimana seharusnya adab berbuka puasa sesuai dengan tuntunan sunnah Nabi? Bolehkah kita berlebih-lebihan dalam berbuka?

Tiga amalan dalam berbuka di antaranya adalah berdoa sebelum berbuka, menyegerakan waktu berbuka, dan berbuka dengan kurma. Sambil menunggu waktu berbuka, maka alangkah baiknya kita memohon doa terbaik kepada Allah. Allah akan mengabulkan doa orang yang berpuasa. Untuk itu jangan sia-siakan kesempatan ini. Diriwayatkan dari Abu Hurairah. Rasulullah SAW bersabda, “Tiga orang yang doanya tidak tertolak; orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang terzalimi.” (H.R Tirmidzi)

Jika adzan Maghrib telah berkumandang, maka jangan menundanya dan segerakan waktu untuk berbuka. Rasulullah bersabda, “Manusia senantiasa dalam kebaikan selama ia menyegerakan berbuka.” (H.R Bukhari Muslim)

Menyebut nama Allah dan membaca doa saat berbuka.

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ

"Telah hilang rasa haus, dan urat-urat telah basah serta pahala telah tetap, insya Allah.” (HR. Abu Dawud)

Rasulullah adalah teladan yang patut dicontoh dalam berbuka puasa. Beliau tidak pernah membiarkan perutnya kekenyangan. Beliau selalu makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Demikian halnya ketika berbuka puasa. Kurma dan air putih adalah makanan yang beliau konsumsi saat berbuka.

Dari Anas bin Malik, ia berkata Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma basah), jika tidak ada ruthab, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering), dan jika tidak ada tamr, beliau meminum seteguk air“ (H.R Abu Dawud)

Imam Ibnu Qayim Al-Jauziyyah memberikan penjelasan tentang hadits di atas, beliau berpendapat bahwa cara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbuka puasa dengan kurma atau air, mengandung hikmah yang sangat mendalam. Karena saat berpuasa lambung kosong dari makanan apapun. Sehingga tidak ada sesuatu yang amat sesuai dengan liver atau hati yang dapat disuplai langsung ke seluruh organ tubuh serta langsung menjadi energi, selain kurma dan air. 

Menurut beberapa sumber, karbohidrat yang ada dalam kurma lebih mudah sampai ke lambung dan lebih cocok dengan kondisi organ tersebut. Terutama kurma masak yang masih segar. Lambung akan lebih mudah menerimanya sehingga amat berguna bagi organ ini, sekaligus juga dapat langsung diproses menjadi energi. 

Seorang muslim yang baik adalah yang mencintai Allah dan Rasul-Nya. Dengan mengikuti hadits Nabi, maka hal tersebut akan menjadi bukti cinta kita kepada beliau. Rasulullah tidak pernah bermewah-mewah dalam berbuka, maka kita juga harus mengikutinya dengan selalu sederhana dalam berbuka. 

Kurma dan air putih adalah makanan yang utama untuk mengawali buka puasa. Selain mengamalkan sunnah Rasul, hikmahnya juga sangat baik untuk kesehatan dalam tubuh kita. Sederhana dalam berbuka juga akan menghindarkan kita dari sifat tabdzir atau mubazir. Sikap yang berlebih-lebihan ini adalah perbuatan syaitan yang dibenci oleh Allah. Wallahu a'lam. */Arsyis Musyahadah 




Rabu, 14 April 2021

Tiga Pola Interaksi Manusia Terhadap Al-Qur’an

Ada tiga pola interaksi manusia terhadap Al-Qur’an. Di antaranya yaitu  zhalimun li nafsih; lisan membaca ayat tapi niat kita memutus dari keberkahan Allah, muqtashid; menunaikan yang wajib saja atau meninggalkan sebagian sunnah, saabiqun bil khairaat; mengerjakan semua kewajiban dan hal-hal yang disunnahkan, juga meninggalkan semua hal yang diharamkan.

Hal tersebut disampaikan oleh Ust. Naspi Arsyad, Lc., dalam Kajian Dhuha virtual yang diadakan oleh Pengurus Daerah (PD) Depok, pada 14 April 2021/02 Ramadhan 1442 H.

Tiga pola interaksi tersebut temaktub dalam firman Allah Ta’ala.

Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar. (QS. Fathir: 32)

“Tentu yang kita harapkan ialah saabiqun bil khairaat. Karena pola interaksi inilah yang membawa manusia ke surga tanpa hisab. Untuk itu, kita harus meminta kebaikan dan berdoa kepada Allah. Tanpa biidznilah, tidak mungkin semua itu dapat terjadi,” terang anggota Dewan Murabbi Pusat Hidayatullah ini.

Setidaknya ada lima kiat yang harus dilaksanakan seorang muslim untuk mencapai saabiqun bil khairat. Lima kiat tersebut yaitu; berdoa dan meminta kebaikan kepada Allah, mudawwamah/konsisten, berkumpul dengan orang-orang sholih, memahami keutamaan amalan membaca al-Qur’an, dan mensucikan hati.

Beliau juga menambahkan bahwa ada tingkatan wirid sebagai status seorang individu dalam membaca Al-Qur’an. Tujuh tingkatan wirid itu ialah wirid tilawah, wirid istima’, wirid hifzh, wirid ta’allum, wirid tadabbur, wirid ta’lim dan wirid ‘amali.

“Seseorang berada dalam tingkatan wirid tadabbur ketika ia semangat memahami hikmah al-Qur’an dan berkomitmen terhadap kaidah Al-Qur’an dan sunnah. Adapun tingkatan paling tinggi ialah wirid ‘amali, yaitu di mana seseorang menjalankan ajaran serta kandungan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari dengan tidak meninggalkan apa yang telah dijalankan sebelumnya,” imbuhnya.

Menurutnya yang tak kalah penting adalah menjalankan tugas seorang muslim untuk menyebarkan dan mengajarkan A-Qur’an kepada orang lain. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah,

Sebaik-baik kalian ialah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya. (HR. Bukhari)

Terakhir, beliau mengungkapkan output dari seseorang yang gemar ber-Qur’an dan saabiqun bil khairat yang terangkum dalam enam jatidiri Hidayatullah. 

“Hasil dari seseorang yang selalu membaca dan mempelajari Al-Qur’an adalah menjadikannya sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah, memberikan pemahaman ahlu sunnah, memunculkan semangat al-harakah al-jihadiyah, menempatkan diri sebagai jama’atun minal muslimin, melahirkan sikap sami’na wa atho’na, dan menjaga karakter al-wasathiyah,” tutup beliau dalam mengakhiri materinya. */Arsyis Musyahadah


Selasa, 13 April 2021

Temu Kader Keputrian Mushida Jatim: Merajut Ukhuwah, Menumbuhkan Jiwa Kader


Departemen Keputrian Muslimat Hidayatullah PW Jawa Timur mengadakan kegiatan “Temu Kader Keputrian Mushida Jawa Timur” pada 13 April 2021/01 Ramadhan 1442 H. Kegiatan virtual ini diikuti oleh Departemen Keputrian Pengurus Daerah (PD) wilayah Jawa Timur, pengasuh, dan keputrian tingkat SMP, SMA, dan PT se-Jawa Timur. 

“Membangun jama’ah tidak bisa sendiri, namun kita harus bergabung dalam suatu jama’ah agar semakin kuat. Di sinilah wadah untuk keputrian dalam mempererat ukhuwah,” terang Ketua PW Jawa Timur, Ustadzah Retno Setya Utami dalam menyampaikan sambutannya.

Dalam kesempatan yang sama, Pengurus MMW Mushida Jawa Timur, Ustadzah Somi Suradi, juga turut menyampaikan potret keputrian yang mampu bekerja sama, bisa mempimpin dan dipimpin, taat terhadap aturan, dan menyampaikan ide-ide yang baik.

“Muslimah yang memiliki pribadi yang kokoh bukan semata-mata didapat dengan instan, namun perlu proses yang panjang. Untuk itu, kita harus berjuang dan jangan lelah dalam berproses,” ujarnya.

Pada kegiatan ini, spirit keputrian dipaparkan oleh Ketua Departemen Keputrian PP Muslimat Hidayatullah, Ustadzah Mutiah Najwati dengan tema “Merajut Ukhuwah, Menumbuhkan Jiwa Kader.”

Ia mengungkapkan bahwa merajut ukhwah bukan karena suku atau harta yang dimiliki, melainkan menjalin persaudaraan dengan sebenar-benar niat yang tulus hanya karena Allah SWT semata. 

Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (QS: Al- Hujuraat: 10)

“Di antara kiat yang harus dilaksanakan dalam merajut ukhuwah yaitu ta’aruf, ta’aluf, tafahum, tafaqud, ta’waun, dan tanashur,” ucapnya.

Dengan ta’aruf, kita bisa mengenal baik karakteristik seseorang yang akan menjadi kunci pembuka hati persaudaraan. Sedangkan ta’aluf ialah menyatunya hati seorang muslim dengan saudaranya sesama muslim. 

Tafahum ialah sikap saling memahami. Tafaqud yaitu sikap peduli terhadap sesama. Bila saudaranya membutuhkan bantuan, maka tanpa dimintanya segera bergegas memberikan bantuannya sesuai dengan kemampuannya,” imbuhnya.

Adapun ta’awun ialah saling membantu dalam melaksanakan kebaikan (al-birr), dan meninggalkan kemunkaran.

Menurutnya, yang tak kalah penting yaitu menumbuhkan jiwa kader dengan mengambil hikmah serta menapaktilasi kehidupan Nabi Muhammad SAW melalui fase keyatiman, fase menggembala, fase berdagang, fase ber-Khadijah, dan fase bergua Hira.

“Harapan kami untuk generasi penerus dan kader militan bahwa jangan lelah untuk terus belajar, senantiasa menjaga adab, dan selalu berpegang teguh kepada Allah dan Rasul-Nya,” pungkasnya dalam memberikan harapan kepada generasi militan.

Kegiatan temu kader keputrian ini diharapkan mampu membuka wawasan tentang pentingnya ukhuwah dan jama’ah serta dapat mengisi amunisi ruhiyah bagi seluruh kader.*/Arsyis Musyahadah


Minggu, 11 April 2021

Orientasi Pengurus Tingkat Wilayah dan Daerah Mushida: Pertajam Visi Misi Organisasi


Ketua Departemen Organisasi PP Muslimat Hidayatullah mengadakan kegiatan Orientasi Pengurus Tingkat Wilayah & Daerah Muslimat Hidayatullah secara virtual, pada Jum'at-Sabtu, 9-10 April 2021/26-27 Sya'ban 1442 H. 

Muslimat Hidayatullah merupakan salah satu organisasi pendukung Hidayatullah. Orientasi pengurus Mushida di tingkat wilayah, dan daerah bertujuan untuk menyatukan visi misi dalam berorganisasi. Sebagaimana firman-Nya,

Sesungguhnya Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisa’: 58)

"Harapannya, dengan diadakannya orientasi ini, pengurus Mushida menjadi semakin solid dan bekerja sama dengan baik dalam melaksanakan program,” tutur Hapseni Dirwan selaku Ketua Departemen Organisasi PP Mushida sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara.

Menurutnya, meski fasilitas kurang memadai, namun hal itu tidak menjadi penghalang. Ummahat Muslimat Hidayatullah diimbau untuk tetap menjaga semangat dan meningkatkan kualitas diri dalam menjalankan program kerja di periode ini.

Kegiatan yang mengusung tema “Meningkatkan Peran Pengurus Terhadap Penajaman Visi Misi Organisasi,” ini digelar secara virtual dan diikuti oleh seluruh Pengurus Wilayah (PW) dan Pengurus Daerah (PD) Muslimat Hidayatullah se-Indonesia.

“Visi Mushida ialah membangun keluarga Qur’ani menuju peradaban Islam. Untuk menajamkan visi tersebut, maka diperlukan enam misi,” terang Ketua Umum PP Mushida, Ustadzah Hani Akbar S.Sos.I dalam menyampaikan sambutannya di hadapan peserta yang hadir.

Enam misi Mushida tersebut yaitu:

Melahirkan kader-kader muslimat yang berkualitas 

Mewujudkan keluarga Qur’ani

Mewujudkan kekuatan muslimat dalam bidang pendidikan, dakwah,  sosial, ekonomi dan lain- lain secara profetik dan profesional

Membangun sinergi dengan komponen umat Islam dalam gerakan amar ma’ruf nahi munkar.

Membangun komunitas Islami

Mengajak pemerintah dan segenap bangsa Indonesia untuk mewujudkan NKRI yang bermartabat

“Kegiatan orientasi ini dilakukan dalam rangka meningkatkan peran pengurus dalam penajaman visi misi tersebut. Selamat mengikuti orientasi dan menimba ilmu dengan bersungguh-sungguh. Karena sesungguhnya tidak ada ilmu tanpa bersungguh-sungguh,” pungkasnya.

Orientasi ini diisi beberapa materi yang disampaikan oleh Ketua DPP Hidayatullah, Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah, Ketua Departemen Sumber Daya Insani DPP Hidayatullah, dan Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah.

“Dengan diadakannya kegiatan ini, akan menjadi bekal yang sangat bermanfaat bagi pengurus dalam melaksanakan tugas,” ujar Ketua PW Banten, Mar’atussa’adah dalam menyampaikan pesan dan kesannya sebagai peserta orientasi.

“Kegiatan semacam ini harus sering-sering diadakan, untuk mengisi amunisi ruhiyah para kader, sehingga kami menjadi semangat dalam menjalankan amanah,” ucap Ketua PW Maluku, Nur Fitriani, dalam menyampaikan testimoninya tentang kegiatan ini.

Dari kegiatan orientasi yang dilaksanakan selama dua hari ini, diharapkan para pengurus lebih solid dalam mewujudkan visi dan misi organisasi bersama. Seluruh materi yang diterima, akan menjadi bekal ilmu sebelum melaksanakan program kerja yang telah direncanakan.


Senin, 29 Maret 2021

Rakernas Resmi Ditutup: Muslimat Hidayatullah Harus Menawarkan Solusi dan Gagasan Untuk Membangun Peradaban


Dinamika, perdebatan, silang pendapat, dan adu konsep adalah hal biasa yang terjadi selama musyawarah. Untuk itu, jangan merasa bangga (jumawa) jika idenya terpakai, dan jangan minder jika gagasannya ditinggalkan. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah, Ust. Asih Subagyo, S.Kom dalam penutupan Rakernas Muslimat Hidayatullah pada Ahad (28/03/2021) yang digelar secara virtual dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok.

Sebagaimana diketahui, Rakernas adalah salah satu mata rantai dari amanat yang terdapat dalam Pedoman Dasar Organisasi Mushida. 

“Tugas PW Mushida setelah ini menjabarkan dan melaksanakan program kerja, sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing. Pilih prioritas program unggulan yang dapat dilaksanakan. Kemudian disinergikan dengan seluruh elemen yang ada di wilayah,” ujar Sekjen Muslim Information Technology Association (MIFTA) ini.

Beliau menuturkan bahwa dalam manajemen, fungsi mudah diucapkan, namun yang sulit dikerjakan adalah coordinating dan controlling. Maka, tugas kepemimpinan itu memastikan bahwa semuanya on the right track. Pemimpin dituntut untuk tegas, tetapi tetap mengayomi.

Saat ini, lanjutnya, Mushida juga menghadapi tantangan eksternal. Ghazwul fikr atau perang pemikiran terus terjadi. Sekularisme, liberarisme, dan feminisme terus mengancam. Demikian dengan tantangan yang tidak kalah penting adalah generasi mileniel, generasi Y, Z dan sesudahnya. Mereka generasi native digital, tentu memerlukan pola tarbiyah dan dakwah yang berbeda dengan generasi pendahulunya.

“Olehnya, Mushida juga dituntut terlibat secara eksternal. Membuka diri ke ummat. Memperkenalkan diri, sekaligus menawarkan solusi dan gagasan untuk membangun peradaban,” imbuhnya.

Untuk membentengi itu semua, di samping dituntut peningkatan profesionalitas, kader Mushida juga harus menguatkan keimanan. Sehingga GNH dan halaqah, menjadi syarat mutlak untuk melaksanakan itu semua.

Sebagai penutup, Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah ini membacakan pantun yang disambut gelak tawa para hadirin.

Jika Bunda pergi ke pasar
Jangan lupa beli belewah
Jika ingin Mushida besar
Sukseskan program tarbiyah dan dakwah

Bunga Mawar batangnya berduri
Merah merona bunga seroja
Rangkaian Rakernas telah usai
Kini saatnya untuk bekerja

 

Peluncuran Aplikasi Nawafil Yawmi Pada Rakernas Mushida

 


Ketidakpahaman aplikasi, bisa dipelajari, namun ketidakpahaman Gerakan Nawafil Hidayatullah (GNH) akan menjadi beban bagi seorang kader. Demikian dikatakan oleh Dewan Murobbi Pusat Hidayatullah, Ust. Zainuddin Musaddad, pada kegiatan peluncuran aplikasi Nawafil Yawmi dalam rangkaian Rakernas Muslimat Hidayatullah pada Ahad (28/03/2021) yang digelar secara virtual dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat.

Salah satu manfaat dari ibadah sunnah yaitu menyempurnakan kekurangan yang terdapat dalam ibadah wajib. Selain sholat fardhu, kader Hidayatullah wajib mengamalkan amalan sunnah seperti membaca Al-Qur’an, sholat malam, membaca wirid pagi dan petang, sholat rawatib, dan dakwah fardhiyyah.  

Aplikasi Nawafil Yawmi yang bisa diunduh melalui Play Store ini akan memudahkan bagi seorang kader untuk melaporkan ibadah sunnah atau nawafil yang telah dilakukannya.

“Dengan melaporkan kegiatan nawafil secara istiqomah, semoga ummahat di akhirat nanti menjadi bidadari surga,” tutur pria yang murah senyum ini.

Gerakan Nawafil Hidayatullah ada, karena informasi bumi semakin tidak terkendali. Informasi ini menarik sesaat untuk dicari, namun beberapa menit kemudian menjadi penyakit hati. Menurutnya, GNH hadir agar kader tidak lalai dan senantiasa menjaga hati nurani hingga menjelma menjadi kekuatan ummat. 

“Bismillah, semoga aplikasi ini menjadi pondasi rohani untuk memenangkan jatidiri. Jatidiri bukan hanya menjadi wacana atau bacaan, melainkan menjadi kokohnya bangunan peradaban Islam,” harap Ketua DKM Masjid Baitul Karim ini.

Selanjutnya pelancuran aplikasi Nawafil Yawmi dibawakan oleh staf ahli IT DPP Hidayatullah, Fadhli Mutawakkil, S.Kom. Hal ini disambut antusias oleh puluhan peserta Rakernas Mushida yang hadir di ruang acara maupun yang ada dalam virtual Zoom.

Fitur-fitur yang terdapat dalam aplikasi ini di antaranya ialah; laporan GNH harian, wirid pagi, wirid petang, wirid malam, Al-Qur’an 30 Juz.*/Arsyis Musyahadah


Minggu, 28 Maret 2021

Tri Konsolidasi Lahirkan Standardisai, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik


Konsolidasi secara terminologi yaitu menyatukan dan memperkuat hubungan antara dua kelompok atau lebih sehingga terbentuk entitas yang lebih kuat.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah Ust. Dr. Nashirul Haq, Lc.,  M.A. dalam rangkaian Rakernas Muslimat Hidayatullah pada Ahad (28/03/2021) yang digelar secara virtual dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat.

Tema yang dituangkan dalam pemaparannya ialah “Konsolidasi Idiil, Wawasan, dan Organisasi.”

“Konsolidasi idiil yaitu internalisasi jatidiri yang bukan hanya secara fikriyah, namun juga amaliyah dalam kultural. Kampus Hidayatullah dihadirkan untuk menguatkan kultur ini,” terangnya.

Tri konsolidasi terdiri dari ideologi, organisasi, dan wawasan. Ideologi merupakan konsep manusia yang lahir dari AL-Qur’an dan sunnah. Enam jatidiri Hidayatullah merupakan ideologi yang harus diaplikasikan.

“Al-Wasathiyah ialah salah satu jatidiri yang berarti seorang muslim harus bersikap adil, baik dan tidak berlebihan,” jelas Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat tersebut.

Kepada para peserta yang hadir di ruang acara, beliau bertanya, “Kapan peradaban Islam terbangun?” 

Doktor lulusan IIUM tersebut menuturkan bahwa terbangunnya peradabaan Islam berbanding lurus dengan keimanan seseorang. Semakin tinggi iman seseorang, maka peradaban itu semakin terbangun dengan cepat. 

Selanjutnya, konsolidasi wawasan yaitu peningkatan wawasan keilmuan setiap kader yang meliputi wawasan keislaman, kelembagaan, global, wawasan regional, dan lokal. 

“Mengimplementasikan jatidiri harus berbasis ilmu dan wawasan. Semakin tinggi ilmu seseorang ia akan semakin bijak dalam menghadapi permasalahan,” imbuhnya.

Untuk diketahui, tri konsolidasi yang diusung dalam tema Rakernas kali ini akan melahirkan standardisasi, sentralisasi, dan integrasi sistemik. 

Dalam rangkaian acara, Ketua Dewan Pertimbangan, Ust. Dr. Abdul Mannan turut menyampaikan taujih yang dilaksanakan ba'da Sholat Subuh. Taujih ini menjadi amunisi spiritual para kader.

Beliau menyampaikan bahwa seorang kader harus all out dalam berkorban dalam perjuangan dengan tidak mengharap banyak imbalan dari manusia. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Mudatsir ayat 6-7

dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.

“Kader muslimat harus berbangga karena telah bergabung di Hidayatullah. Hidayatullah berbeda dengan organisasi lain. Hidayatullah berdiri untuk menjawab persoalan dan problema umat Islam,” ujarnya. 

Sebagai informasi, Rapat Kerja Nasional Muslimat Hidayatullah berlangsung pada 12-14 Sya'ban 1442 H/ 26-28 Maret 2021 di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Acara ini diikuti oleh perwakilan PW Muslimat Hidayatullah dari 34 Provinsi se- Indonesia, dan Kepala PAUD/ TK Muslimat Hidayatullah Kampus Utama.


Sabtu, 27 Maret 2021

Perubahan yang Tepat Ialah yang Mengantar Pada Pencapaian Visi Organisasi



Seorang pemimpin harus bersikap visioner dan melihat jauh ke depan. Ia harus melihat dan mendengar dari berbagai sisi, tidak boleh mendengar dari satu sisi saja. 

Hal ini dikatakan oleh Direktur Hidayatullah Institute, Ust. Muzakkir Usman, M.Ed., dalam Training Leadership pada rangkaian acara Rakernas Muslimat Hidayatullah pada Sabtu, 27/03/2021 yang digelar secara virtual dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat.

“Mengapa orang tidak mau berubah?” tanyanya di hadapan peserta yang hadir di ruang acara.

Di antara penyebab seseorang tidak mau melakukan perubahan ia merasa nyaman, hidupnya mapan, dan tidak siap menjalani budaya baru.

“Untuk itu, seorang pemimpin harus memastikan anggotanya tidak merasa nyaman. Jika sudah ada yang merasa nyaman, maka harus diberi amanah lain,” guraunya disambut tawa para hadirin. 

Pemimpin harus memiliki perspektif yang sama dengan anggota. Suatu keharusan baginya untuk mengoptimalkan perubahan dengan cara meningkatkan kemampuan pemimpin dalam mentransformasi perubahan dan meningkatkan kemampuan anggota dalam menghadapi perubahan. 

Beliau juga mengimbau untuk membangun kekuatan tim dan fokus perubahan dengan visi organisasi serta jalin komunikasi yang baik. Pentingnya komunikasi akan menghilangkan permasalahan yang ada dalam organisasi.

“Proses perubahan yang tepat adalah perubahan yang mengantar pada pencapaian visi organisasi,” imbuh Ketua Dewan Pendidikan Kota Balikpapan.

Dalam kesempatan ini, beliau menuturkan cerita tentang seorang burung rajawali. Pada usia 40 tahun, burung rajawali pergi ke lereng gunung. Di tempat tersebut, ia mematukkan paruhnya sampai hancur dan melakukan berbagai cara serta melalui proses yang panjang agar memiliki performa yang kuat. Hingga burung rajawali keluar dari lereng gunung, lalu menjelama menjadi seekor burung rajawali yang gagah. 

“Kenapa rajawali melakukan hal itu? Karena ia ingin berubah menjadi lebih baik. Seseorang yang ingin berubah menjadi lebih baik, harus melewati proses yang panjang dan buatlah perubahan tersebut menjadi nyata” pungkasnya.

Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.

Untuk diketahui, Rapat Kerja Nasional Muslimat Hidayatullah berlangsung pada 12-14 Sya'ban 1442 H/ 26-28 Maret 2021 di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Acara ini diikuti oleh perwakilan PW Muslimat Hidayatullah dari 34 Provinsi se- Indonesia, dan Kepala PAUD/ TK Muslimat Hidayatullah Kampus Utama. Selain menguatkan silaturahmi di antara sesama kader, setiap Ketua Bidang dan Ketua Departemen PP Mushida akan mensosialisasikan program kerja dalam rangka menyamakan persepsi untuk mencapai visi dan misi organisasi. 


Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah Ajak Kader Mushida Pahami Tri Konsolidasi


Secara eksplisit, istilah standardisasi, sentralisasi dan integrasi sistemik tidak termuat dalam Pedoman Dasar Organisasi. Namun secara implisit, hal Ini menjadi konsekuensi logis dari implementasi seluruh program dan tema sentral DPP Hidayatullah. 

Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Organisasi DPP Hidayatullah, Ust. Asih Subagyo, S.Kom dalam rangkaian Rakernas Muslimat Hidayatullah pada Jum’at (26/03/2021) yang digelar secara virtual dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat.

Menurutnya, dakwah digital menjadi penting. Perkembangan dakwah harus sesuai dengan mengikuti kemajuan zaman. 

Tema yang dituangkan dalam pemaparannya ialah “Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik.” 

Dengan standardisasi, seluruh aktivitas dalam organisasi harus memiliki standar (ukuran tertentu), sehingga dapat dievaluasi kinerjanya secara kualitatif dan kuantitatif. 

“Sentralisasi sebagai wujud dari implementasi imamah jama’ah. Sedangkan integrasi menjadi kekuatan sebuah organisasi, jika semua elemen dapat terintegrasi dalam sebuah sistem yang transparan dan akuntabel,” terangnya di hadapan puluhan peserta yang hadir di ruang acara.

Sedangkan hal yang harus distandardisasi ialah kader, amal usaha, badan usaha, dan organisasi. 

Tentang sentralisasi, hal ini terdapat dalam firman Allah yang berbunyi,

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa: 59)

“Adapun hal yang harus disentralisasi ialah sumber daya insani, perkaderan, aset, amal usaha dan organisasi,” ujar Sekjen Muslim Information Technology Association (MIFTA) ini.

Dalam penyampaiannya, beliau juga mengulas tentang beberapa hal yang harus diintegrasikan, yaitu SISTAHID; Mengintegrasikan seluruh Keanggotaan Hidayatullah, SISKAHID; Mengintegrasikan seluruh keuangan Hidayatullah, SISDIKHID; Mengembangkan sistem pendidikan terintegrasi di Hidayatullah, SISAHID; Mendata dan mengelola aset Hidayatullah, SISAUHID; Mengembankan sistem informasi manajemen bagi amal usaha Hidayatullah, SISMONEVHID; Mengembangkan Sistem Monitoring dan Evaluasi Hidayatullah. SISEKHID; Membangun sistem perekonomian yang terpadu, dan SISDAHID; Mengembangkan sistem dakwah yang terintegrasi.

Pada kesempatan yang sama dengan waktu yang berbeda, Bendahara Umum DPP Hidayatullah, Ust. Marwan Mujahidin, M. Sust. memaparkan tentang penyusunan APBO. 

“Di antara kebijakan strategis kebendaharaan ialah kondisi keuangan yang memiliki kemampuan investasi, memastikan anggaran yang telah disahkan dapat terpenuhi, dan kebijakan sumber dana lebih tinggi daripada jumlah pengeluaran,” ungkapnya. 

Untuk diketahui, Rapat Kerja Nasional Muslimat Hidayatullah berlangsung pada 12-14 Sya'ban 1442 H/ 26-28 Maret 2021 di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Acara ini diikuti oleh perwakilan PW Muslimat Hidayatullah dari 34 Provinsi se- Indonesia, dan Kepala PAUD/ TK Muslimat Hidayatullah Kampus Utama. 

Selain menguatkan silaturahmi di antara sesama kader, setiap Ketua Bidang dan Ketua Departemen PP Mushida akan mensosialisasikan program kerja dalam rangka menyamakan persepsi untuk mencapai visi dan misi organisasi.


Jumat, 26 Maret 2021

Dengan Memahami Jati Diri Hidayatullah, Kader Muslimat Hidayatullah Semakin Eksis


Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional mulai Jum’at (26/03/2021), dengan tema "Konsolidasi Idiil, Wawasan dan Organisasi Demi Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik" di Kampus Utama Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.  Acara ini digelar secara virtual, dihadiri perwakilan PW Muslimat Hidayatullah dari 34 Provinsi se- Indonesia, dan Kepala PAUD/ TK Muslimat Hidayatullah Kampus Utama.

Turut menyampaikan sambutan, Anggota Majelis Penasehat Muslimat Hidayatullah Ustadzah Dr. Shabriati Aziz, M.Pd.I. Ia merupakan salah satu perintis yang telah menakhodai Muslimat Hidayatullah selama sepuluh tahun. Saat ini, ia mewakili organisasi Mushida di Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI).

“Mushida berusaha memahami manhaj dan jati diri Hidayatullah. Salah satu jati diri ialah Al-Harokah Jihadiyyah Al-Islamiyah. Dengan semangat memahami manhaj dan menaati komitmen, Muslimat Hidayatullah akan semakin eksis," ujarnya.

Selain itu, Imamah jamaah adalah salah satu jati diri yang telah terinternalisasi dalam berorganisasi. Insya Allah Mushida akan terus bergerak maju, dengan mengedapankan adab ukhuwah dan kekuatan jamaah.

Sedangkan Ketua Majelis Murobbiyah Pusat, Ustadzah Ir. Emi Pitoyanti dalam sambutanya menuturkan bahwa MMP harus bersinergi mendampingi MMW (Majelis Murobbiyah Wilayah) Muslimat Hidayatullah.

“Pengurus Pusat sebagai pelaksana halaqoh dan daurah. Sedangkan Majelis Murobbiyah Pusat dan Majelis Murobbiyah Wilayah bekerja sama dalam menyiapkan murobbiyyah dan instruktur Daurah Marhalah Ula,” jelasnya.

Untuk diketahui, Rakernas Muslimat Hidayatullah berlangsung pada 12-14 Sya'ban 1442 H/ 26-28 Maret 2021 di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Selain menguatkan silaturahmi di antara sesama kader, setiap Ketua Bidang dan Ketua Departemen PP Mushida akan mensosialisasikan program kerja dalam rangka menyamakan persepsi untuk mencapai visi dan misi organisasi.


Ketua Umum PP Muslimat Hidayatullah Resmi Buka Rakernas Mushida: Jati Diri Hidayatullah Sebagai Bekal Semangat di Medan Juang


Rapat Kerja Nasional Muslimat Hidayatullah resmi dibuka pada Jum’at (26/03/2021), dengan tema "Konsolidasi Idiil, Wawasan dan Organisasi Demi Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik," yang digelar secara virtual dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat.

Acara ini diikuti oleh Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, perwakilan PW Muslimat Hidayatullah dari 34 Provinsi se- Indonesia, dan Kepala PAUD/ TK Muslimat Hidayatullah Kampus Utama. Di antara protokol yang diterapkan yaitu setiap peserta yang akan datang ke arena acara, wajib menjalani rapid test antigen.

Rakernas ini dilakukan secara virtual dengan dihadiri seluruh Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah yang disiarkan melalui zoom terbatas . Pembukaan Rakernas diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh Ketua Panitia Ustadzah Hapseni Dirwan, S.H.I, dan dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah Ustadzah Hani Akbar, S.Sos.I.

Dalam sambutannya, Ustdazah Hapseni Dirwan mengungkap bahwa di antara rangkaian acara yaitu membahas program kerja dan melelang program nasional.

“Rakernas Mushida diselenggarakan dalam rangka mencapai tujuan serta target organisasi yang insyaAllah akan memberikan pengaruh dan manfaat besar terhadap peningkatan kualitas internalisasi idiil, terbukanya wawasan juga solidnya jamaah dalam wadah organisasi,” tuturnya.

Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan acara ini.

Sementara Ketua Umum Mushida Ustadzah Hani Akbar dalam sambutannya menuturkan bahwa Muslimat Hidayatullah sebagai organisasi pendukung terus berbenah diri dan senantiasa melakukan perbaikan.

“Upaya pembenahan merupakan ikhtiar untuk menuju yang lebih baik lagi. Prinsip imamah jama’ah sebagai salah satu jati diri Hidayatullah menjadi landasan dalam kepemimpinan,” imbuhnya.

Beliau berharap bahwa pemahaman terhadap jati diri dan manhaj Hidayatullah mampu mengembalikan semangat dan menjadi bekal bagi kader yang akan kembali ke medan juang.

“Konsolidasi Idiil, Wawasan dan Organisasi mengantar kita berjalan searah demi terwujudnya standardisasi, sentralisasi, dan integrasi sistemik dengan mengangkat program kerja dan mencapai visi dan tujuan organisasi yang diharapkan,” pungkasnya.  

Untuk diketahui, Rakernas Muslimat Hidayatullah berlangsung pada 12-14 Sya'ban 1442 H/ 26-28 Maret 2021 di Pondok Pesantren Hidayatullah Depok. Tujuan penyelenggaraan Rakernas Muslimat Hidayatullah ialah menyamakan persepsi dengan menuangkan program kerja dalam mencapai visi dan misi organisasi dan meningkatkan ukhuwah Islamiyah di antara kader Muslimat Hidayatullah. */Arsyis Musyahadah





Kamis, 25 Maret 2021

PW Mushida Sumatera Utara Gelar Pelatihan Instruktur Daurah Marhalah Ula

Dalam upaya mencetak instruktur yang handal dan berintegrasi, Pengurus Wilayah Mushida Sumatera Utara menggelar Training  Instruktur Dauroh Marhalah Ula secara offline.

Acara yang berlangsung selama 2 hari ini (23-24/03) dilaksanakan di Aula Pondok Pesantren Hidayatullah Medan, yang berlokasi di Desa Bandar Labuhan Kecamatan Tanjung Morawa Kabupaten Deli Serdang.  Acara ini kemudian bersambung pada acara pelatihan instruktur secara online yg dilaksanakan oleh MMW Mushida pusat yg di gelar pada hari Rabu, 24 Maret 2021.

“Pelatihan instruktur ini diharapkan mampu melahirkan instruktur-instruktur yang berkompeten dalam menyampaikan manhaj dan jati diri Hidayatullah kepada seluruh kader- kader Hidayatullah,” ungkap Sri Rifiana, Ketua PW Muslimat Hidayatullah Sumatera Utara.

Melalui metode penyampaian materi instruktur senior dan micro teaching mewarnai berjalannya kegiatan training yang mengusung tema, "Melahirkan instruktur dauroh marhalah ula yang berintegrasi."  

Hadir anggota Dewan Morobbi Wilayah Aceh dan Sumatera Utara, Ustad Ali Hermawan, sekaligus sebagai pemateri dalam kegiatan tersebut. Dalam pemaparannya, ia berpesan agar senatiasa maksimal berjuang dalam dakwah.

“Tugas dakwah adalah pekerjaan para Nabi maka harus maksimal dan terukur dalam pelaksanaannya,” ujarnya.

Peserta yang mengikuti training tampak begitu antusias. Terlihat dari keseriusan peserta terhadap hal-hal yang dipaparkan dalam training ini dan tentu kesiapan mental serta fisik untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Evhie Hidayati salah satu peserta mengungkapkan apresiasinya terhadap training yang diikutinya.

“Alhamdulillah, sebagai seorang daiyah tugas kita memang senantiasa menyeru kepada siapapun yang mampu kita jangkau untuk terus meningkatkan kualitas iman dalam segala aspek. Maka dari itu kita para da'i dan daiyah memang harus terus mengupgrade diri untuk memahami bagaimana cara dakwah Rasulullah agar dapat diterima oleh para mad'u,” imbuhnya.

Dengan terlaksananya pelatihan atau training intruktur ini diharapkan para instruktur menjadi lebih siap untuk mengawal dan memandu kegiatan Dauroh Marhalah Ula Santri Hidayatullah yang akan serentak dilaksanakan di seluruh Indonesia pada tanggal 1- 6 April mendatang. */Evhie Hidayati


Kamis, 18 Maret 2021

Siaran Pers: Muslimat Hidayatullah (Mushida) Siap Gelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Virtual



DEPOK- Muslimat Hidayatullah (Mushida) siap menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) secara virtual dengan menerapkan protokol kesehatan. Acara ini diikuti oleh Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, perwakilan PW Mushida dari 34 Provinsi se- Indonesia, dan Kepala PAUD/ TK Muslimat Hidayatullah Kampus Utama. Di antara protokol yang diterapkan yaitu setiap peserta yang akan datang ke arena acara, wajib menjalani rapid test antigen.

Acara ini mengusung tema "Konsolidasi Idiil, Wawasan dan Organisasi Demi Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik," digelar secara virtual dengan pusat kegiatan di Pondok Pesantren Hidayatullah, Kota Depok, Jawa Barat, pada 12-14 Sya'ban 1442 H/ 26-28 Maret 2021.

Peserta yang datang ke tempat acara Rakernas Mushida, dibatasi jumlahnya. Setiap Pengurus Wilayah (PW) di tiap provinsi dibatasi mengirimkan dua orang. Sedangkan khusus Kampus Utama, mengirimkan utusan maksimal tiga orang. Seluruh peserta di pusat acara, dibatasi maksimal hanya 100 orang yang menempati aula besar dengan kursi berjarak.

Persiapan terus dimatangkan di Kampus Hidayatullah Depok.

“Alhamdulilah, persiapan menuju Rakernas sedang dilakukan oleh panitia. Seperti menambah kapasitas Wi-Fi, peralatan broadcasting, ruang acara, dan ruang penginapan. Demikian dengan surat undangan juga sudah disampaikan kepada pemateri yang akan mengisi acara Rakernas,” ujar Hapseni Dirwan, S.H.I selaku Ketua Panitia Rakernas Mushida dalam penuturannya kepada pewarta pada Rabu (17/03/2021).

Protokol kesehatan selama acara terus diupayakan, baik di ruang penginapan maupun di ruang acara.

“Untuk protokol kesehatan, peserta harus menerapkan 3 M, yakni menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker. Tempat tidur di ruang penginapan dan tempat duduk di ruang acara diatur berjarak antara satu dengan yang lain,” imbuhnya.

Sebagai persyaratan, panitia dan peserta wajib menyerahkan hasil test antigen negatif sebelum memasuki ruang acara dan ruang penginapan. Peserta juga diimbau untuk membekali diri dengan suplemen dan antibodi untuk menjaga imunitas tubuh.

Pembukaan Rakernas Mushida akan berlangsung pada Jum’at (26/03/2021) mulai pukul 13.00 WIB. Rangkaian acara munas ini digelar secara virtual via Zoom secara terbatas.

Di antara rangkaian acara yaitu membahas program kerja nasional dan menetapkan anggaran yang dibutuhkan organisasi.  Konsolidasi Idiil, Wawasan dan Organisasi Demi Terwujudnya Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi Sistemik yang diusung sebagai tema Rakernas tersebut dalam rangka mewujudkan visi organisasi melalui program mainstream Tarbiyah dan Dakwah. 

Sementara penguatan sistem organisasi melalui kebijakan Standardisasi, Sentralisasi, dan Integrasi yang merupakan model organisasi modern menjadi salah satu target organisasi yang maju, dengan pola kepengurusan yang kuat dan anggota jama'ah yang solid.*/Arsyis Musyahadah


Selasa, 16 Maret 2021

Sabriati Aziz: Mushida Harus Percaya Diri Pada Jati Diri Hidayatullah

Pare-pare. Menjelang waktu Maghrib (14/3/2021), masuk pesan singkat bahwa Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Parepare dan Ibu-ibu warga diminta berkumpul selepas shalat Isya untuk mendengarkan spirit kelembagaan dari salah satu anggota Majelis Penasihat Mushida, Ustadzah Dr. Hj. Sabriati Aziz, M.Pd.I. 

Namun, yang hadir tidak hanya PD dan warga Hidayatullah Parepare tetapi juga turut serta Ketua Majelis Murabbiyah Wilayah (MMW) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, serta muslimat dari Bone dan Sidrap. Setelah Ketua MMW Sul-Sel menyampaikan pengantar, selanjutnya bersama dalam majelis untuk menyerap spirit dari salah satu pendiri Muslimat Hidayatullah yang tidak terasa sampai pukul 23.00 WITA.

Ia menyampaikan bahwa Mushida merupakan salah satu dari banyaknya organisasi wanita yang ada di Indonesia. Masing-masing memiliki visi dan misi, sehingga perlu untuk saling bersinergi dan beriringan, bukan menggiring yang lainnya. 

Perlu adanya kerjasama untuk berkiprah mempertahankan bangsa dan generasi yang adil dan beradab. Oleh sebab itu, Mushida harus percaya diri akan jati dirinya dalam menjalankan peran keummatan.

"Kita sudah memiliki 6 jati diri Hidayatullah yang harus dipertahankan, yang perlu dikaji berulang-ulang dan mengaplikasikannya," terang Doktor bidang Pendidikan Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor. 

Enam jati diri Hidayatullah, yaitu:

1. Sistematika Wahyu (SW) sebagai manhaj tarbiyah dan dakwah

2. Ahlus Sunnah wal Jamaah

3. Alharakah al-Jihadiyah al-Islamiyah

4. Imamah dan Jamaah

5. Jama'atun minal muslimin

6. Wasathiyah. 

*Sahlah al-Ghumaishaa'/Mushida Parepare

Kamis, 04 Maret 2021

Tiga Profil Ini Harus Dimiliki Oleh Murobbiyah

Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaff ayat 9, “Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, untuk memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik membencinya.”

Ayat tersebut melandasi arah kebijakan Hidayatullah dalam Pedoman Dasar Organisasi (PDO), untuk membangun membangun peradaban Islam. Perdaban adalah manifestasi iman. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Dewan Murobbi Pusat Hidayatullah (DMW), Dr. Tasrif Amin, M.Pd.I., dalam Rapat Koordinasi Majelis Murobbiyah Pusat-Majelis Murobbiyah Wilayah Muslimat Hidayatullah pada Rabu, 3 Maret 2021, yang dilaksanakan secara virtual. Acara ini diikuti oleh sekitar 70 peserta yang terdiri dari Pengurus Majelis Murobbiyah Pusat dan Majelis Murobbiyah Wilayah Mushida se-Indonesia.

Menurut bahasa, makna zhahara dalam surah Ash-Shaff ayat 9 ialah ditampakkan, dinyatakan, dan dimenangkan. Lanjutnya, hal itu dimenangkan dan dimanifestakan ‘alaa ad-diini kullihi, di atas agama dan ideologi yang harus nyata serta unggul.

“Ini adalah spirit untuk kita semua. Perjuangan ini masih kecil, namun kita harus optimis untuk memenangkan di atas agama dan ideologi. Untuk itu, para sahabat melakukan ekspansi keluar hingga menaklukkan beberapa wilayah dari semenanjung Arab sampai ke Eropa,” terangnya.

Ada tiga aspek yang harus dimiliki dalam membangun peradaban, di antaranya kepemimpinan, infrastruktur, ideologisasi atau penguatan kultur. Tujuannya adalah unuk memberi rahmat, atau kebaikan orang-orang di sekitarnya.

“Tugas seorang murobbiyah memang sangat berat, karena harus menjadi contoh yang baik bagi mutarobbiyahnya. Posisi murobbiyah sebagai  ideolog lembaga dan seorang pencerah. Kehadiran murobbiyah sangat dibutuhkan. Meski merasa tidak mampu, dengan tetap meningkatkan kualitas, amanah ini harus dijalankan,” ujar Doktor lulusan Universitas Ibn Khaldun ini dengan menyampaikan surah Muhammad ayat 7 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Beliau juga menyampaikan tiga profil yang harus dimiliki oleh seorang murobbiyah, yaitu sebagai muallim; bisa mengajarkan Al-Qur’an, muaddib; membangun karakter dan adab, dan kafiil; pemberi spirit serta pengayom.

“Tiga profil tersebut dapat diwujudkan melalui mempelajari ilmu Al-Qur’an, menjadi teladan, dan menyemangati para mutarobbi agar giat berinfak,” imbuhnya. 

Sebagai informasi, acara ini diselenggarakan dalam rangka koordinasi dan konsolidasi. Sebab, Majelis Murobbiyah Pusat dan Majelis Murobbiyah Wilayah merupakan lembaga baru di Mushida yang berfungsi dalam menaungi para murobbi halaqah ta’lim Mushida.

“Dalam koordinasi antara Dewan Murobbi Pusat, Majelis Murobbiyah Pusat, dan Majelis Murobbiyah Wilayah harus ada sinergitas, pola hubungan komunikatif  dan integratif. Tidak ada ego struktural antar institusi,” pungkasnya.*/Pengurus Majelis Murobbiyah Pusat Mushida


Selasa, 02 Maret 2021

Demi Melanjutkan Misi Kenabian, Hidayatullah Siap Maksimalkan Perjuangan


Hidayatullah telah berumur 47 tahun. Umur yang sudah cukup dewasa dan matang. Tetapi dibandingkan ormas lain, Hidayatullah masih terhitung seumur jagung. Hal tersebut diungkapkan oleh Dewan Pimpinan Umum (DPP) Hidayatullah, Dr. Nashirul Haq, Lc. MA dalam kegiatan Pencerahan Kader ba'da Penutupan Muswil Muslimat Hidayatullah Lampung di Pondok Pesantren Hidayatullah Lampung pada 21 Februari 2021.

“Alhamdulillah, karena keikhlasan para pengurus dan para pendiri, Hidayatullah tetap bisa eksis hingga hari ini,” ujarnya.

Dalam perjuangan, lanjutnya, yang terpenting adalah bagaimana meletakkan pondasi dan melahirkan kader. Para pendiri telah melakukan transformasi nilai yang bisa dinikmati oleh generasi berikutnya. 

Sebagaimana sabda Rasulullah,

“Barang siapa mengundang petunjuk (kebenaran), maka baginya pahala (kebaikan) itu seperti pahala bagi orang yang mengikutinya dan itu tidak mengurangi pahala orang yang mengikutinya sedikit pun. Itu tidak sedikitpun mengurangi dosa orang orang yang mengikutinya.” (HR. Muslim).

Beliau menegaskan bahwa datangnya Hidayatullah bukan sekedar untuk berorganisasi, melainkan untuk melanjutkan fungsi kenabian.

“Ketika kita menyadari bahwa misi yang kita bawa adalah misi kenabian, maka kita tidak akan merasakan futur, kecewa, frustasi dan sebagainya. Kita akan mengerahkan segala daya upaya secara maksimal dan bersedia mengambil segala risiko dalam perjuangan,” tutur Anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat tersebut.

Selain itu yang tak kalah penting, enam jati diri Hidayatullah (yakni Manhaj Sistematika Wahyu, Ahlu Sunnah Wal Jamaah, Imamah Jamaah, Jama'atun Minal Muslimin, Harakah Al Jihadiyah Al Islamiyah dan Wasathiyyah) harus benar-benar dipahami secara fikrah (konseptual), dijiwai secara kultural, dan dan menjadi syakhshiyyah (kepribadian) setiap kader.

“Jati diri Hidayatullah ini juga harus diaplikasikan di seluruh aspek secara konseptual dan praktikal (amaliyah). Jika kita telah memahami sesuatu secara konsep maupun amaliyah, maka kita tidak akan goyah,” imbuh Doktor lulusan International Islamic University Malaysia ini.

Terakhir, beliau menegaskan tentang tema Hidayatullah dalam lima tahun ke depan yaitu konsolidasi idiil, konsolidasi ideologis dan konsolidasi wawasan demi terwujudnya sentralisasi, standardisasi dan integrasi yang sistemik.

Untuk menjaga kesinambungan organisasi, yang harus dilakukan ialah, ideologisasi; yaitu berupaya meneguhkan ideologi, regulasi; membuat aturan-aturan (PO PDO, regulasi),  kulturasi; mewariskan kultur sehingga kader Hidayatullah di mana saja memiliki kultur yang sama.*/Zahratun Nahdhah



Sabtu, 27 Februari 2021

Adakan Muswil Perdana, PW Mushida Bangka Belitung Diharapkan Mampu Pererat Ukhuwah

Organisasi Muslimat Hidayatullah merupakan organisasi pendukung dalam pergerakan Hidayatullah. Penting dalam hal ini, para ummahat harus meneladani ibunda Khadijah radhiallahu 'anha yang mendukung Rasulullah dalam perjalanan dakwah beliau. Hal ini dikemukakan oleh Ketua DPW Hidayatullah Bangka Belitung, Irwan Sambasong. S.Pd.I. S.H. dalam acara Musyawarah Wilayah Mushida Bangka Belitung di Kampus Hidayatullah Bangka Belitung pada 21 Februari 2021. Musyawarah Wilayah perdana ini dihadiri oleh Pengurus Wilayah dan Pengurus Daerah.

“Istri Rasulullah rela menyerahkan segala harta dan jiwa untuk perjuangan Islam. Ia juga sebagai orang yang pertama kali membenarkan apa yang dibawa Rasulullah,” jelas Irwan.

Menurutnya, seorang istri harus memberi dukungan kepada suaminya sebagaimana yang dilakukan Khadijah terhadap Rasulullah. Muslimat Hidayatullah bisa diarahkan dengan baik untuk mencapai tujuan dakwah, yakni membangun peradaban Islam di muka bumi ini.

“Perjuangan dakwah ini sangat mulia, sehingga kita harus tetap menjaga ukhuwwah antara satu sama lain, agar terjalin kerjasama dan kekompakan yang baik. Jangan sampai karena hal-hal sepele ukhuwah kita jadi terpecah-belah,” imbuhnya.

Di antara rangakaian acara dalam kegiatan ini ialah pengukuhan Pengurus Wilayah Bangka Belitung. Diputuskan dan ditetapkan, Nur Syahidah sebagai Ketua Pengurus Wilayah Bangka Belitung.

Dalam penyusunan PW Mushida Bangka Belitung, tim formatur juga telah meminta restu kepada pihak DPW Hidayatullah Bangka Belitung.

“Semoga dengan diadakannya acara ini, kedepannya kita bisa lebih semangat lagi menjalankan amanah dan kewajiban kita, baik pengurus yang berada di PW dan juga pengurus di daerah. Yang harus dijaga dalam kepengurusan ini adalah ukhuwah, kekompakan dan kerja sama, agar kepengurusan ini bisa berjalan dengan baik,” tutur Nur Syahidah dalam sambutannya sebagai Ketua PW terpilih.

Sebagai informasi, PW Mushida Bangka Belitung ini baru terbentuk pada tahun ini, dan melaksanakan Musyawarah Wilayah (Muswil) perdana. 

Mengemban amanah pertama kalinya sebagai Ketua PW Mushida Bangka Belitung, Nur Syahidah mengharapkan arahan, doa, dan dukungan dari semua pihak agar selalu istiqomah dalam menyebarkan dakwah dan kebaikan. yang lebih banyak.

Musyawarah wilayah (Muswil) Muslimat Hidayatullah diselenggarakan untuk menghasilkan mufakat dan kemaslahatan umat. Pelaksanaan Musyawarah Wilayah selain dalam rangka mengukuhkan pengurus baru dan menghasilkan kebijakan, forum ini juga diharapkan dapat mempererat ukhuwah dan meningkatkan semangat juang para kader demi mencapai visi misi Muslimat Hidayatullah. */Arsyis Musyahadah


Jumat, 26 Februari 2021

Melalui Musyawarah, PW Mushida Lampung Siap Menjalankan Amanah


Pengurus Wilayah Mushida Lampung menyelenggarakan acara Musyawarah Wilayah (Muswil) pada 21 Februari 2021 di Kampus Madya Hidayatullah, Lampung Tengah. Acara ini diselenggarakan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti menggunakan masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak. 

Konsep dalam surah Al-‘Alaq berisi bagaimana proses kejadian manusia. Manusia amat rendah di hadapan Tuhan-Nya. Tak ada celah manusia bisa menyombongkan diri. Dalam surah Al-‘Alaq ayat 3, Allah menyebut Al-Akram yang artinya Yang Maha Mulia bukan Al-Kariim Yang Mulia. Hal ini diungkapkan oleh Ketua DPW Hidayatullah Lampung, Rusydi Hidayat saat menyampaikan sambutannya. 

“Ukuran keberhasilan seorang pemimpin adalah yang memiliki iman yang kuat. Kalau seorang pemimpin sudah ber-Al-‘Alaq, maka ia hanya memiliki ketergantungan kepada Allah, bukan kepada yang lain,” terangnya di hadapan kurang lebih 30 orang peserta yang hadir, yang terdiri dari utusan PP Muslimat Hidayatullah, PW Mushida Lampung, istri sruktural DPW, BMH, Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Lampung, dan PD (Pengurus Daerah) se-Lampung. 

Menurutnya, pengurus harus siap dikritik untuk mencapai hasil yang memuaskan. Beliau berpesan, jangan menyebar racun dengan mengungkapkan menyebarkan kalimat negatif. Tetapi ungkapkan kalimat yang positif, sebarkan hal-hal yang baik.  

“Hindari kalimat negatif. Jauhi rasa pesimis. Kita harus menyambut segala sesuatu dengan optimis lima tahun ke depan untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik,” tutupnya mengakhiri sambutan.

Di antara rangakaian acara dalam kegiatan ini ialah pengukuhan Majelis Murobbiyah dan Pengurus Wilayah Lampung. Diputuskan dan ditetapkan, Popon Nur Hasanah sebagai Ketua Majelis Murobbiyah Wilayah dan Susanti sebagai Ketua Pengurus Wilayah Lampung.

Dalam penyusunan PW Mushida Lampung, tim formatur juga telah meminta restu kepada pihak DPW Hidayatullah Lampung.

“Kami memohon dukungan dan kerja sama dari semua pengurus untuk saling bahu-membahu menyukseskan amanah-amanah keummatan yang diemban. Amanah ini sungguh berat, tetapi jika dilaksanakan bersama-sama, dan dengan pertolongan Allah, kita akan mampu menjalankan amanah ini dengan baik,” ucap Susanti saat memberikan sambutannya sebagai Ketua PW Mushida Lampung periode 2020-2025.

Lanjutnya, Provinsi Lampung ini memiliki potensi yang sangat besar yang harus mampu dimaksimalkan. Semua kader Mushida harus mampu bergerak selaras dan seirama agar mampu melewati segala rintangan yang ada.

“Tentunya dalam perjalanan nanti akan ada perbedaan pendapat dan lain sebagainya, namun hal itu jangan sampai menyebabkan terhambatnya amanah-amanah ini. Insya Allah, semuanya akan terselesaikan melalui musyawarah,” pungkasnya.

Musyawarah wilayah (Muswil) Muslimat Hidayatullah diselenggarakan untuk menghasilkan mufakat dan kemaslahatan umat. Pelaksanaan Musyawarah Wilayah selain dalam rangka mengukuhkan pengurus baru dan menghasilkan kebijakan, forum ini juga diharapkan dapat mempererat ukhuwah dan meningkatkan semangat juang para kader demi mencapai visi misi Muslimat Hidayatullah. */Arsyis Musyahadah


Kamis, 25 Februari 2021

Keputrian Hidayatullah Diharapkan Mampu Berperan Dalam Bangun Peradaban


Istilah generasi rabbani menjadi tak asing didengar. Kata rabbani diambil dari kata dasar Rabb, yang artinya Sang Pencipta dan Pengatur makhluk, yaitu Allah. Dengan imbuhan ini, makna bahasa rabbani adalah orang yang memiliki sifat yang sangat sesuai dengan apa yang Allah harapkan. Istilah ini menggambarkan generasi emas umat Islam. 

Generasi rabbani adalah generasi yang diisi oleh orang-orang yang sukses lahiriah dan batiniahnya, selalu berpijak pada garis ajaran Islam, memiliki kesadaran tinggi untuk mengajak orang lain agar dekat dengan Allah SWT. 

Oleh karena itu, generasi inilah yang akan selalu berada di barisan terdepan dalam menegakkan kalimatullah, menegakkan syariat Islam. Generasi rabbani menjadi uswah atau teladan orang-orang yang berada di sekitarnya, karena  terbentuk menjadi orang yang kaya jiwa dan unggul dari sisi ketakwaannya.

Sebagai seorang yang beriman, kita selalu memiliki keinginan agar kita termasuk orang-orang yang senantiasa berupaya menyemai generasi rabbani ini. 

Dari Abi Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Wanita itu dinikahi karena empat hal. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya, dan agamanya. Namun dari empat itu paling utama yang harus jadi perhatian adalah masalah agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat." (HR. Bukhari Muslim). 

Keputrian Hidayatullah ini harus selalu mempersiapkan diri agar kelak menjadi isteri shalihah yang siap lahir batinnya untuk ikut berperan membangun peradaban dari dalam rumahnya dan lingkungannya.

Hal ini diungkapkan oleh Departemen Keputrian PW Mushida Sumatera Utara, Evie Hidayati dalam kegiatan ta'lim gabungan Keputrian tingkat Mahasiswi Hidayatullah Sumatera Utara pada Ahad, 21 Februari 2021 di Kampus Utama Hidayatullah Medan. Kegaiatan ta’lim tersebut dihadiri oleh 68 orang.

“Seorang istri bukan hanya menyenangkan bila dipandang, tapi juga taat dalam perintah. Sosok yang menjaga amanah, menjadi penopang dalam ketaatan dan urusan akhirat rumah tangganya, menggerakkan keimanan keluarga, dan mencegah dari maksiat,” tambahnya. 

Menurutnya, Keputrian Hidayatullah harus tumbuh menjadi wanita yang mempunyai mentalitas dan akhlak agama (dzatuddin), menjadi sosok yang siap terjun ke gelanggang dengan potensi masing-masing yang dimaksimalkan. 

“Wanita yang demikian akan menjadi lahan subur untuk menyemai generasi rabbani yang shalihin, karena ia akan menjadi pendidik utama bagi keluarganya dan menjadi salah satu wanita yang disebut imadul bilad," tutur ibu dua anak ini. 

Sebagai informasi, kegiatan ta'lim bulanan ini rutin dilaksanakan sebagai salah satu program perkaderan di Keputrian tingkat wilayah Muslimat Hidayatullah Sumatera Utara yang rutin diikuti oleh mahasiswi dari berbagai Universitas dan Perguruan Tinggi di Medan Sumatera Utara.

"Kami sangat antusias dalam mengikuti program-program Keputrian sebagai bentuk upgrade diri agar lebih paham ke mana arah misi hidup kami sebagai Keputrian Hidayatullah.  Juga sebagai bentuk komitmen dalam berjamaah di Hidayatullah ini," ucap Siti Qamariyah, salah satu mahasiswi Ma'had Aly Hidayatullah Medan yang diamanahkan menjadi penanggung jawab Keputrian Wilayah Deli Serdang. 

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita muslimah yang bersinergi mencetak generasi Rabbani. Amin. */Evhie Emzhet


PW Mushida Kaltim Siap Jalin Sinergi Dengan DPW Hidayatullah Kaltim


Pengurus Wilayah Mushida Kalimantan Timur menyelenggarakan acara Musyawarah Wilayah (Muswil) pada 07-08 Rajab 1442 H/19-20 Februari 2021 di Hotel Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur. Acara ini diselenggarakan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat, seperti menggunakan masker dan mencuci tangan. Hadir sebagai peserta Muswil V Mushida Kaltim ialah perwakilan dari empat TK Kampus Madya, tiga TK Kampus Utama juga tiga TK Kampus Pratama dan tiga utusan PD (Pengurus Daerah) se-Kaltim.

Muswil juga diadakan secara virtual dan diikuti oleh seluruh anggota PD. Menjadi suatu kehormatan bagi PW Kaltim atas kehadiran Bunda Aida Chered selaku Ketua Majelis Penasehat Muslimat Hidayatullah.

"Amanah ini adalah ujian, tantangan dan kehormatan. Karena nilai ukur dari pekerjaan atau amanah kita ini adalah jihad. Sebagai hamba, kita harus memiliki sikap kepasrahan dan ketawakkalan penuh hanya pada Allah,” terang Ketua DPW Hidayatullah Kalimantan Timur, Uswandi. S.H.I dalam memberikan sambutannya.

Menurutnya, paradigma orang beriman itu jelas karena hanya menjadikan Allah sebagai sandaran. Sehingga setiap harapan, visi dan misi ada jalan keluar yang terangkum dengan indah.

Beliau menjelaskan bahwa target DPW Hidayatullah Kaltim memiliki 140 sekolah baru dan 1.200 RQH (Rumah Qur'an Hidayatullah).

“Hal ini dapat menumbukan jalinan sinergi yang harmonis antara DPW Hidayatullah Kaltim dan PW Mushida Kaltim. Sehingga semua program dapat berjalan tuntas dan tidak tumpang tindih,” harapnya.

Di antara rangakaian acara dalam kegiatan ini ialah pengukuhan Majelis Murobbiyah dan Pengurus Wilayah Kalimantan Timur. Diputuskan dan ditetapkan, Husnaini Halim, S.Ag sebagai Ketua Majelis Murobbiyah Wilayah dan Erni Kartika, S.Pd.I, sebagai Ketua Pengurus Wilayah Kalimantan Timur.

Dalam penyusunan PW Mushida Kalimantan Timur, tim formatur juga telah meminta restu kepada pihak DPW Hidayatullah Kalimantan Timur.

Erni Kartika, S.Pd.I sebagai Ketua PW terpilih menyampaikan sambutannya, dengan mengatakan bahwa amanah menjadi khalifah Allah sangat berat. Saking beratnya hingga pernah ditawarkan pada langit, gunung dan lautan, tetapi semua menolak.

“Untuk itu, Allah memberikan amanah ini kepada manusia. Maka, bila bukan karena bantuan dan pertolongan-Nya, amanah ini tak akan bisa terlaksana dengan baik,” tuturnya.

Dengan mengharap pertolongan Allah, beliau juga meminta kesolidan antar team pengurus untuk membantunya menjalankan amanah hingga tercapainya visi organisasi.

Sebagai informasi, dengan mengikuti arah kebijakan induk, PW Mushida Khusus Gunung Tembak yang sebelumnya berdiri sendiri, kini tergabung dalam PD Mushida Balikpapan yang tercakup dalam PW Mushida Kalimantan Timur. Kini, PW Mushida Kaltim memiliki sembilan PD (Pengurus Daerah). Di antaranya yaitu, PD Balikpapan, PD Samarinda, PD Bontang, PD Berau, PD Kutai Timur, PD Kutai Barat, PD Kutai Kartanegara, PD Tana Paser, dan PD Penajam Paser Utara.

Musyawarah wilayah (Muswil) Muslimat Hidayatullah diselenggarakan untuk menghasilkan mufakat dan kemaslahatan umat. Pelaksanaan Musyawarah Wilayah selain dalam rangka mengukuhkan pengurus baru dan menghasilkan kebijakan, forum ini juga diharapkan dapat mempererat ukhuwah dan meningkatkan semangat juang para kader demi mencapai visi misi Muslimat Hidayatullah. */Arsyis Musyahadah



Minggu, 21 Februari 2021

Mushida Sulbar Diharapkan Mampu Membumikan Al-Qur’an

 


“Al-Qur’an dan sunnah adalah pedoman umat muslim. Untuk itu, kita harus selalu membumikan Al-Qur’an, terutama di dalam keluarga,” ungkap Ketua DPW Hidayataullah Drs. Mardhatila dalam sambutan acara Musyawarah Wilayah (Muswil) PW Muslimat Hidayatullah Sulawesi Barat di Kampus Madya Hidayatullah Majene, pada 17-18 Februari 2021/5-6 Rajab 1442 H. Acara tersebut dihadiri oleh Majelis Murobbiyah Wilayah, Pengurus Wilayah Mushida, dan Pengurus Daerah se-Sulawesi Barat.

“Kader Mushida diharapkan selalu meningkatkan integritas seorang muslimah,” tambahnya. Peningkatan integritas dapat dilakukan dengan akhlak mulia dan rajin berhalaqoh. 

Menurutnya, para pengurus juga harus mengetahui dan memahami tugas masing-masing. Hal ini agar tidak terjadi kesalahpahaman antar pengurus. Selain itu, juga harus menjalin komunikasi yang baik, karena tidak jarang suatu masalah timbul sebab komunikasi yang terhambat. Untuk itu, komunikasi harus dikelola dengan indah dan akhlak mulia. 

“Kepengurusan baru ini dibentuk untuk menjalin kerja sama yang baik antar pengurus pusat, wilayah, maupun daearh untuk mencapai hasil yang lebih baik,” ungkapnya. 

Terakhir, beliau berpesan bahwa setiap kader harus menyeimbangkan antara profesionalisme dan berakhlak mulia. Keduanya harus berjalan beriringan dan tidak boleh dipisahkan.

Di antara rangakaian acara dalam kegiatan ini ialah pengukuhan Majelis Murobbiyah dan Pengurus Wilayah Sulawesi Barat. Diputuskan dan ditetapkan, Muliati sebagai Ketua Majelis Murobbiyah Wilayah dan Salbiana, S.Pd., sebagai Ketua Pengurus Wilayah Sulawesi Barat.

Dalam penyusunan PW Mushida Sulawesi Barat, tim formatur juga telah meminta restu kepada pihak DPW Hidayatullah Sulawesi Barat.

Ketua PW Mushida terpilih, Salbiana, S.Pd., mengungkapkan harapannya untuk Mushida Sulbar selama lima tahun ke depan. Ia berharap setiap kader mampu meningkatkan kualitas ketakwaan dan menjalin silaturahmi.

“Jalin silaturahmi antar pengurus dan kader, agar tercipta rasa persaudaraan yang selaras. Jadikan visi Mushida sebagai prioritas dalam mengamalkan Al-Qur’an,” tuturnya.

Pada Januari lalu, terjadi musibah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 yang berpusat di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Gempa ini menelan korban jiwa dan mengakibatkan banyak kerusakan. Beberapa hari berlalu pasca gempa. Meski demikian, hal tersebut bukan menjadi penghalang terselenggaranya acara lima tahunan itu.

“Menjalankan amanah adalah suatu kewajiban, dalam keadaan sulit sekalipun. Musibah yang datang tidak patut dijadikan alasan untuk menunda Musyawarah Wilayah ini. Sebab musibah ini datangnya dari Allah. Terlebih, kita patut bersyukur karena Allah masih memberikan perlindungan,” terangnya.

Saat ini, PW Mushida Sulawesi Barat memiliki lima PD. Di antaranya, PD Pasangkayu, PD Mamuju, PD Majene, PD Mateng, dan PD Polman.

Musyawarah wilayah (Muswil) Muslimat Hidayatullah diselenggarakan untuk menghasilkan mufakat dan kemaslahatan umat. Pelaksanaan Musyawarah Wilayah selain dalam rangka mengukuhkan pengurus baru dan menghasilkan kebijakan, forum ini juga diharapkan dapat mempererat ukhuwah dan meningkatkan semangat juang para kader demi mencapai visi misi Muslimat Hidayatullah. */Arsyis Musyahadah




Sabtu, 20 Februari 2021

PW Mushida DIY Jateng Bagsel Siap Implementasikan Jati Diri Hidayatullah



PW Muslimat Hidayatullah DI Yogyakarta Jawa Tengah Bagian Selatan (DIY Jateng Bagsel) mengadakan Musyawarah Wilayah di Grha Mutiara Dsn. Nglanjaran, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah IstimewaYogyakarta pada 12-13 Februari 2021/30 Jumadil Akhir-01 Rajab 1442 H.

Acara yang diselenggarakan secara virtual tersebut dihadiri oleh perwakilan PP Muslimat Hidayatullah, istri dari ketua-ketua DPD Hidayatullah DIY Jateng Bagsel, PW Mushida DIY Jateng Bagsel, serta PD (Pengurus Daerah) Mushida se-DIY Jateng Bagsel, dan perwakilan dari amal usaha TK-KB Yaa Bunayya.

Saat menyampaikan sambutannya, Ketua DPW Hidayatullah DIY Jateng Bagsel Abdullah Munir menegaskan tentang pentingnya memahami dan mengimplementasikan enam jati diri Hidayatullah bagi seluruh komponen Muslimaat Hidayatullah.

Pertama, Hidayatullah ialah jama’atul minal muslimin.

Allah berfirman, "yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka." (QS. Ar-Rum 30: 32)

Beliau menjelaskan bahwa Hidayatullah adalah sebuah sarana untuk menuju tujuan perjuangan menegakkan Islam. Para pemimpin Hidayatullah telah menunjukkan sikap iltizam terhadap jati diri ini.

Kedua, Hidayatullah bagian dari ahlu sunnah wal jama’ah.

Ketiga, Hidayatullah bersikap wasathiyyah.

“Sikap wasathiyah atau pertengahan ini tidak ekstrem, tidak mempersulit diri. Allah Ta'ala menghendaki ajaran Islam untuk mempermudah hidup kita,” terangnya.

Keempat, Hidayatullah adalah gerakan perjuangan Islam.

Kelima, Hidayatullah ber-manhaj Sistematika Wahyu.

Di antara tujuan sistematika wahyu ialah agar mempelajari Islam tidak parsial, memahami Islam secara sistematis, ber-Islam dengan tertib dan kaaffah.

Dengan sistematika wahyu, lanjutnya, setiap muslim dapat memahami Islam secara utuh, tidak hanya menyibukkan diri dengan satu sisi, tetapi menguasasi semua sisi dari ajaran Islam.

“Belajar Islam dimulai dari yang pokok (ushul) ke yang cabang (furu'). Dari yang wajib ke yang sunnah, dan seterusnya. Demikian pula dalam berdakwah dimulai dari ta'lif (disentuh hatinya) dulu baru ta'rif (dikenalkan dengan materi), setelah itu baru memasuki tahap taklif (diberi beban),” tambahnya dengan menegaskan bahwa ketika Hidayatullah bertekad menjadi perekat dan pemersatu umat, maka Hidayatullah harus kuat.

Di antara rangakaian acara dalam kegiatan ini ialah pengukuhan Majelis Murobbiyah dan Pengurus Wilayah DIY Jateng Bagsel. Diputuskan dan ditetapkan, Sri Lestari sebagai Ketua Majelis Murobbiyah Wilayah dan Aini Shofa Kartika, S.T., M.S.I., sebagai Ketua Pengurus Wilayah DIY Jateng Bagsel.

Dalam penyusunan PW Mushida DIY Jateng Bagsel, tim formatur juga telah meminta restu kepada pihak DPW Hidayatullah DIY Jateng Bagsel.

Sebagai informasi, PW Mushida DIY Jateng Bagsel telah memiliki tujuh PD, di antaranya PD Kodya Yogya, PD Sleman, PD Kota Magelang, PD Solo, PD Sragen, PD Cilacap, dan PD Kebumen. Saat ini sedang menyiapkan dan merintis 11 daerah menjadi PD baru, di antaranya PD Karanganyar, PD Wonogiri, PD Sukoharjo, PD Klaten, PD Bantul, PD Kulonprogo, PD Gunungkidul, PD Purworejo, PD Kabupaten Magelang (Muntilan), PD Temanggung, dan PD Banyumas.

Musyawarah wilayah (Muswil) Muslimat Hidayatullah diselenggarakan untuk menghasilkan mufakat dan kemaslahatan umat. Pelaksanaan Musyawarah Wilayah selain dalam rangka mengukuhkan pengurus baru dan menghasilkan kebijakan, forum ini juga diharapkan dapat mempererat ukhuwah dan meningkatkan semangat juang para kader demi mencapai visi misi Muslimat Hidayatullah. */Arsyis Musyahadah

 

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage