Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Maret 2018

PW Mushida Bengkulu Gelar Seminar Parenting Hadirkan Abah Zain


BENGKULU (Hidayatullah.or.id) - Ketua Departemen Adab dan Pembinaan Keluarga DPP Hidayatullah, Ust Zainuddin Musaddad, mengatakan setiap keluarga muslim hendaknya berupaya menghadirkan terang dalam rumah tangganya sehingga mewudujkan apa yang disebutnya dengan "rumah cahaya".

Hal itu diutarakan beliau dikala menjadi narasumber dalam acara Seminar Parenting dengan tema “Bekali Keluarga Menghadapi Fitnah Akhri Zaman” yang digelar oleh DPW Muslimat Hidayatullah Bengkulu, belum lama ini.

Acara ini digelar bekerjasama antara Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah (LPIH) dan BMH Bengkulu.

Zainuddin yang biasa disapa Abah Zain dalam seminar ini membahas tentang kebutuhan ummat hari ini yaitu bagaimana membentuk keluarga Qur’ani dengan landasan ilmu yang benar.

"Ilmu yang benar akan menjadi cahaya yang mengusir kegelapan sekaligus menunjukkan arah kebaikan," katanya. 

Beliau menjelaskan, karena ilmu itu adalah cahaya maka keluarga muslim yang menggemari ilmu dalam rangka dekat kepada Tuhan-Nya, rumah tangganya menjadi bercahaya seperti yang disabdakan oleh Rasulullah, "Ilmu adalah cahaya (nur)”.

"Sifat cahaya yang utama adalah memberi penerangan," imbuh beliau.

Pada kesempatan tersebut, Abah Zain memberikan resep agar rumah tangga kita bercahaya, dengan 5 kata kunci yaitu: Cita–cita suami istri harus sama (QS. Ar-Rad : 13), kepemimpinan syariat (QS. Al Hujurat: 2), hijab yang terjaga (QS. Al Ahzab: 59), adab yang dihidupkan (QS. Al Qalam: 1–7) dan rumah sebagai madrasah (QS. Al Qalam: 1–7)




Pada kesempatan ini, Abah Zain menyampaikan pentingnya penanaman nilai-nilai agung dalam kepengasuhan anak dengan mengaitkannya dengan teori yang disebut dengan neuro transferer.

"Bagaimana menjadi seorang pendidik mampu mentransfer materi dengan mengimplementasikan Al Qur'an surah Ar Rahman yaitu mendidik dengan tegas tapi santun (Qaulan syadidan), mengajar dengan Qurrata A’yun sehingga anak bisa paham dengan materi yang dijelaskan tetapi dengan cara yang santun," katanya di hadapan peserta yang umumnya adalah guru atau pendidik.

Beliau mendorong kolaborasi pembinaan keluarga muslimat Hidayatullah dengan dunia pendidikan sebagai dunia kerja. Yakni bagaimana sebagai seorang pendidik sukses mendidik murid – muridnya dan juga sukses sebagai ummahat di rumahnya.

"Tantangan ini harus disambut agar seorang pendidik baik perannya sebagai suami atau istri di rumah benar benar bahagia sehingga mampu menjalankan kedua amanah tersebut dengan baik," pesan beliau.

Acara seminar ini dibuka oleh Ketua Yayasan Hidayatullah Bengkulu Ust. Aidil Abror Rams dan dimoderatori langsung oleh ketua DPW Bengkulu Ust Subur Pramudya. (ybh/hio)

Minggu, 30 Oktober 2016

Mengembalikan Inspirasi Al Qur’an yang Hilang dalam Keluarga


AL-QUR'AN memang inspirasi yang tidak pernah habis. Semakin menyakinkan kita apabila ummat Islam kembali menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidupnya kejayaan akan menjadi milik ummat Islam.

Demikian dikatakan anggota Majelis Pertimbangan Pusat Muslimat Hidayatullah (MPP Mushida), Irawati Istadi, saat menjadii pemateri dalam Seminar Nasional diselenggarakan PW Mushida DIY-Jawa Tengah bagian selatan di UII FTSP Yogyakarta, Sabtu (29/10/2016).

"Peradaban Islam pernah gemilang. Sejatinya dan selamanya Islam adalah Rahmatan Lil’alamin. Dengan kedekatan kita kepada Qur'an, kita sangat yakin Peradaban Islam akan terwujud lagi," kata Irawati.

Irawati menjelaskan, berbicara tentang peradaban suatu ummat maka kita tidak akan bisa terlepas dari peran suatu keluarga. Sebab keluarga adalah unit terkecil dari suatu peradaban.

"Apabila dalam keluarga keluarga kaum muslimin sudah tertanam kuat Al Qur’an maka peradaban Islam yang luhir dan mengayomi akan terwujud," imbuhnya.

Diterangkan Irawati, mengembalikan Al Qur’an yang hilang dalam keluarga di sini bukan berarti rumah tangga ummmat Islam tidak mempunyai mushaf Al Qur’an melainkan banyak dalam rumah kaum muslimin yang mempunyainya tak jarang lebih dari satu.

"Tapi yang dimaksud di sini adalah ruh dari Al Qur’an itu,” katanya.

Kalau kita melihat sejarah para sahabat dan ulama ulama dahulu betapa mereka bagaikan bintang bintang yang cemerlang. Ruh Al Qur’an begitu hidup dalam jiwa jiwa generasi Islam terdahulu.

"Al Qur’an yang berhasil ditanamkan oleh generasi terdahulu telah melahirkan generasi generasi gemilang di usia yang sangat muda," imbuhnya.

Diantaranya, misalnya, sebut Irawati, ada anak muda pada usia 11 tahun bernama Zaid bin Tsabit berhasil menguasai bahasa Ibrani (Bahasa Yahudi) hanya dalam 17 hari

Pada usia 17 tahun Imam Bukhari mendalami hadits dari para gurunya dan pada usia itu pula Abu Hamid al-Isfirayini menjadi mufti. Dan ratusan tokoh muslim masa lampau lainnya yang berhasil menjadi figur teladan.

"Lalu kalau kita bandingkan dengan generasi sekarang sangat jauh keadaannya. Kebanyakan generasi kita pada  usia usia itu belum sepenuhnya mandiri ada yang masih sekolah ada yang larut dalam kehidupan hedonis bahkan ada yang keluar dari norma norma agama," kata Irawati.

Lalu bagaimana kita mewujudkan generasi sebagaimana generasi awal? Menurut Irawati Istadi, pertama, tanamkan pendidikan iman pada anak.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar,” (QS. Luqman (31) ayat 13).

Dan Ibrahim mewasiatkan (ucapan) itu kepada anak-anaknya,demikian pula Ya’qub.”Wahai anak-anakku! Sesungguhnya  Allah telah memilih agama ini untukmu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”(Al Baqarah:132)

Dari ayat tersebut, Irawati menerangkan bahwa  sangat jelas pendidikan pertama yang di lakukan adalah pendidikan keimanan. Setelah itu kemudian baru pengenalan syariat Allah lainnya.

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan. Dan rendah dirilah ketika berjalan dan pelankan suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Qs Lukman 17-19).

Pentingnya Metode 

Pada kesempatan tersebut Irawati menekankan bahwa dalam mendidik anak selain materi, metode juga sangat penting untuk keberhasilan penddidikan.

Menurutnya, banyak metode atau cara yang dapat kita ambil dalam Al Qur’an dan sunah Rasul. Salah satu metode pendidikan yang ada dalam Al Qur’an adalah dialog.

Begitu pentingnya dialog antara orang tua dan anak dan inilah yang banyak di gunakan oleh para Nabi dan generasi salafus shaleh dalam mendidik anak anaknya.

Irawati membeberkan rahasia 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam Al Qur'an yang tersebar dalam 9 surah. Ke- 17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:


  • * Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
  • * Dialog antara ibu dengan anaknya (2 kali)
  • * Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)


Dalam dialog dengan anak, jelas Irawati, kita harus Sabar menghadapi pertanyaan anak . Betapa sering kita menghadapi pertanyaan pertanyaan anak yang terkadang pertanyaannya tidak masuk akal. Tapi itulah anak anak kita harus sabar melayaninya.



Dalam QS;Al Baqarah;260 terjadi dialog yang  mana Nabi Ibrahim menanyakan pada Allah bagaimana caranya menghidupkan orang sudah mati. Bukannya Nabi Ibrahim tidak percaya akan kekuasaan Allah, tapi ia hanya ingin memantapkan hatinya bila bisa menyaksikan langsung Kekuasaan Allah menghidupkan orang yang sudah mati.

Dalam ayat ini kalau di hubungkan dengan parenting, menurut Irawati, sebagai orang tua kita harus memiliki kesabaran ekstra dalam menghadapi dialog dialog dengan anak anak.

Dia menekankan bahwa dalam berdialog atau berkomunikasi kepada hendaklah kita fokus pada kalimat positif.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS.Ibrahim:24-25)

Ayat ini mengisyarakat kita untuk pandai pandai menjaga lisan bila berkata kepada Anak. Jangan sampai keluar kata kata negatif apabila anak berbuat sesuatu yang tidak berkenan di hati kita.

"Kita ingat ketika ibu Imam Masjidil Haram marah saat masa kecil sang Imam. Kata-kata yang keluar sang ibunda adalah kata kata bijak sehingga beliau ketika dewasa menjadi Imam Masjidil Haram," imbuhnya.

Fokus pada Penghargaan

Irawati Istadi mengutip hikmah firman hadits Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam yang artinya: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan nilai kebaikan dan kejahatan, kemudian Dia menjelaskannya. Maka barangsiapa berniat mengerjakan kebaikan tetapi tidak dikerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat untuk berbuat kebaikan lalu ia mengerjakannya, Allah mencatatnya sebagai 10 sampai 700 kali kebaikan atau lebih banyak lagi. Jika ia berniat melakukan kejahatan, tetapi ia tidak mengerjakannya, Allah mencatatkan padanya satu kebaikan yang sempurna. Jika ia berniat melakukan kejahatan lalu dikerjakannya, Allah mencatatnya sebagai satu kejahatan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut Irawati, kita harus jujur bahwa banyak orang tua yang selalu menginggat keburukan anak dari pada kebaikannya. Sehingga banyak orang tua memberikan reaksi negatife pada anak.

Sedangkan ketika anak berbuat baik jarang mendapat penghargaan yang sesuai. Akhirnya anak mempunyai konsep negative terhadap diri mereka.Padahal konsep diri positive sangat penting untuk perkembangan dan pertumbuhan anak kedepannya.

Selain hal penting sebagaimana tersebut di atas ada hal lain yang harus kita jadikan perhatian serius saat ini yaitu tentang gadget. Kita lihat fenomena  sekarang banyak anak anak bahkan masih balita sudah di pegangi orang tua mereka dengan gadget.

"Padahal para karyawan pembuat gadget melarang anak anaknya bermain gadget ketika usia usia dini. Karena bisa merusak fungsi anak," tegasnya memberikan contoh kasus.

Di antara peserta peserta seminar lalu menanyakan, apa yang harus di lakukan para orang tua untuk membuat anak tidak gila gadget. Karena orang tua merasa tertolong dengan adanya gadget karena membuat mereka bisa duduk tenang tidak rewel.

Menurut Irawati yang juga mantan pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, orang tua harus menyiapkan kegiatan pengganti yang menarik anak sehingga anak tidak tertarik ke gadget lagi.

"Seharusnya setiap rumah mempunyai kurikulum tersendiri untuk mendidik anak anak ketika mereka di rumah, jadi bukan hanya sekolah yang punya. Karena apabila kita sudah mempunyai kurikulum dan perencanaan yang rapi anak anak akan mempunyai kegiatan yang menarik sehingga waktu mereka termanfaatkan dengan hal hal yang positive. Akhirnya ketertarikan anak akan gadget bisa berkurang," jelas Irawati.

Di akhir presentasi Irawati yang juga penulis produktif buku buku parenting ini memaparkan tentang Home education di mana orang tua berperan sebagai pendidik utama.

Rumah, menurut Irawati, harus menjadi sebagai Home Based Pendidikan. Pendidikan hendaknya disesuaikan dengan jiwa anak di mana dimasa anak anak bersifat wajib bagi orang tua mengarahkan pendidikan anak-anaknya.

"Dan ketika anak sudah baligh cara komunikasi kita kepada anak tentu berbeda. Kita beri anak kesempatan berfikir untuk segala hal aktifitas yang anak lakukan. Ke depannya kita berharap bisa bertanggung jawab terhadap apa yang di lakukan anak," ujarnya memungkasi.

Acara seminar ini dihadiri oleh puluhan peserta dari berbagai unsur. Kegiatan ditutup dengan silaturrahim dan ramah tamah. */ Sri Lestari 

Jumat, 07 Oktober 2016

Tidak Harus Keras, Begini Tips Menghukum Anak dengan Efektif

Oleh Nayla Firdaus

SEORANG anak belia melakukan kesalahan. Lalu ayahnya langsung memukulnya. Ia lantas lari ke kamar tidur, menangis dan tertidur.

Tidak lama setelah itu ia mengalami mimpi buruk dan berteriak bangun. Ibunya malah menamparnya dengan dalih berusaha menenangkannya.

Saat itulah ayahnya berkata “Dasar anak manja, Kamu yang merusaknya dengan menuruti segala kemauannya”.

Ibunya pun menimpali “Justru kamu yang merusaknya! Kamu berubah kasar. Padahal dulu sayang berlebihan padanya!”.

Di tengah situasi kacau seperti ini, Ayah mengakui dirinya dengan berkata “Saya memang tidak pantas menjadi seorang ayah. Bagaimana saya bisa merawat anak sementara saya tidak berpengalaman”.

Ibu juga menjawab dalam hati “Saya juga benar-benar sedih. Saya tidak mau punya anak lagi”.

Tindakan-tindakan seperti di atas mengesankan bahwa mereka tidak cakap dalam menjalankan tugas sebagai ayah dan ibu.

Mendidik anak tidak memerlukan segudang teori. Hal yang diperlukan adalah memahami segudang persoalan, Saling melempar tuduhan juga merupakan kesalahan fatal.

Imam Al Ghazali menyinggung sebuah metode indah dalam menangani kesalahan sebagai berikut:

“Ketika anak melakukan kesalahan sekali, kesalahan ini harus dilupakan, Jangan beberkan masalah ini jika ia terlihat tidak berani mengulang kesalahan yang sama, Terlebih jika ia berusaha untuk menutupi kesalahan tersebut. Karena, menampakkan kesalahan seperti ini mungkin mendorongnya bersikap berani dan tidak peduli jika kesalahannya dibeberkan”.

Ketika anak kembali mengulangi kesalahan, anak harus ditegur empat mata. Besarkan tindakan yang ia lakukan dan sampaikan padanya, “Jangan pernah lagi kau ulangi perbuatan seperti itu. Jangan lagi kau terlihat melakukan perbuatan seperti itu karena kesalahanmu akan dibeberkan ke banyak orang”.

Jangan terlalu sering menegurnya. Teguran yang terlalu sering disampaikan tidak akan membekas di hatinya dan membuatnya mudah melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

Ayah harus menjaga wibawanya kala berkata pada anak. Jangan mencelanya selain sesekali saja. Hukuman harus diberikan langsung setelah kesalahan diberikan. Jangan terlalu berat hingga membuat anak merasa terdzolimi. Jangan juga menyakiti perasaannya.

Fakta menunjukkan, celaan biasa dan ringan yang disampaikan dengan nada datar lebih berpengaruh dalam diri anak dibandingkan dengan pengaruh yang ditimbulkan oleh hukuman fisik yang keras.

Semakin sering hukuman diberikan kepada anak, pengaruhnya akan semakin kecil, bahkan mungkin semakin membuatnya membangkang terhadap segala perintah di kemudian hari.

Hukuman yang diberikan harus sesuai dengan tingkatan usianya. Tidak adil jika hukuman fisik atau celaan diberikan kepada anak usia dua tahun. Mengerutkan wajah sudah cukup untuk usia tersebut. Anak pada saat itu belum memaknai arti hukuman.

Anak usia tiga tahun bisa dihukum dengan cara mengambil mainannya ketika ia melakukan kesalahan. Itupun harus dilakukan setelah melakukan persetujuan dengan si anak. Dan dengan cara yang datar tanpa mengeraskan intonasi suara, sehingga anak tidak merasa tertekan dan terbebani.

Jenis Hukuman

Terlebih dulu harus diingat, bahwa hukuman harus menjadi cara terakhir dalam mendidik anak ketika nasehat, arahan, bimbingan, perlakuan yang lembut dan teladan yang baik tidak mendapat pengaruh yang besar terhadap diri anak.

Memukul bukanlah satu-satunya cara untuk memberikan hukuman. Karena kadang memukul tidak membawakan hasil positif, bahkan mungkin saja justru menimbulkan hasil yang sebaliknya.

Oleh karena itu, teguran justru akan lebih memberikan pengaruh yang positif sebagai ganti dari pemukulan.

Hukuman juga bisa dilakukan dengan tidak memberikan sesuatu yang disukai anak, misal uang saku. Namun, hal ini hanya boleh dilakukan dalam waktu sementara.

Jangan menyuruh anak ke kamar tidur saat ia melakukan tindakan yang tidak bisa diterima, sehingga akan tertanam dalam benaknya bahwa kasur dan tempat tidur termasuk salah satu jenis hukuman.
Imbasnya, anak menjadi enggan ke kamar tidur pada malam hari.

Tidak baik jika anak menangis seorang diri tanpa pendampingan dari orang tua ketika ia merasa terganggu atau terluka. Lebih baik ia tetap berada di tengah orang tuanya sampai situasi membaik.

Dalam kondisi apapun, tidak diperkenankan mengunci dan mengurung anak di dalam kamar. Kamar yang gelap atau terkunci akan sangat membuatnya ketakutan dan memicu guncangan hebat padanya.

Pengaruh tindakan tersebut mungkin akan terlihat beberapa tahun lamanya. Dalam bentuk keresahan, ketakutan, atau kebimbangan dalam kepribadian.

Ketika kita merasa benar-benar harus menghukum anak secara fisik, cukup minta ia duduk di kursi sisi kamar atau berdiri di sudut kamar untuk sementara waktu, sesuai dengan kesanggupan usianya.

Ada beberapa orang tua menyediakan kursi khusus di pojok kamar untuk hukuman ini. Katakan padanya dengan tenang namun tegas untuk duduk di tempat tersebut tanpa bergerak dan tidak boleh meninggalkan tempat tersebut sebelum diijinkan.

Biasanya beberapa menit saja sudah cukup membantu menenangkan perasaannya. Sebagian orang merasa heran ternyata cara sederhana ini sangat berpengaruh dalam menenangkan sekaligus menghukum anak tanpa harus menyakiti dan membuatnya merasa tertekan.

___________
*) NAYLA FIRDAUS, penulis adalah anggota Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Selatan
Copyright Mushida.org © 2018 | Kontak Kami