Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2018

Mengenalkan Konsep Dasar Pembelajaran Calistung di PAUD

Oleh Dzumirrah*

PENDIDIKAN merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh setiap individu dalam upaya peningkatan dan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas bagi penerus bangsa.

Mengingat begitu pentingnya pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas maka hadirlah suatu lembaga pembelajaran yang dimulai sejak usia dini yaitu lembaga pendidikan pra-sekolah.

Pelaksananaan pendidikan ini dijabarkan dalam undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 28 bahwa Pembelajaran Anak Usia Dini (PAUD) diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar, melalui jalur pendidikan formal, non-formal dan informal.

Jalur pendidikan formal adalah lembaga yang memberikan pelayanan pendidikan PAUD bagi anak usia 4-6 tahun seperti Taman Kanak-kanak (TK) atau Raudhatul Athfal (RA) atau bentuk lain yang sederajat.

Tujuan utama pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah untuk membentuk anak-anak yang berkualitas yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya untuk kehidupan jangka panjang.



Penyelenggaraan pendidikan anak pra-sekolah lebih lanjut dijelaskan dalam Pasal 1 ayat 14 sebagai suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun.

Penyelenggaraannya dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan selanjutnya.

Kesiapan seorang anak dalam menerima pendidikan lanjutan sangat diperlukan guna mencapai keberhasilan dalam menjalani setiap tahapan pendidikan yang berlangsung.

Kemampuan anak harus dipersiapkan dengan baik dan matang sehingga membuat anak siap untuk menempuh segala persoalan yang akan dihadapinya semasa sekolah.

Berdasarkan garis-garis besar program kegiatan belajar taman kanak-kanak, tujuan program kegiatan belajar anak PAUD adalah untuk membantu meletakkan dasar ke arah perkembangan sikap, pengetahuan, wawasan, keterampilan dan daya cipta yang diperlukan oleh anak didik dalam penyesuaian diri dengan lingkungan dan untuk mempersiapkan memasuki pendidikan dasar.

Dalam hal ini, selama menempuh pendidikan di PAUD, anak-anak dibina dan dibimbing dalam mengembangkan berbagai aspek perkembangan sejak dini seperti pembiasaan yang meliputi moral, nilai-nilai agama, sosial, emosional dan kemandirian.

Prinsip dasar belajar di PAUD adalah belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar, karena bermain merupakan bagian terpenting dari kehidupan anak-anak. yang lebih cenderung mengekspresikan sesuatu dengan bermain, sehingga dapat menjadi media bagi anak untuk mempelajari hal-hal yang konkrit agar daya cipta, imajinasi, dan kreativitas anak dapat berkembang.

Bermain dan berkreativitas yang bersifat konkrit dapat memberikan momentum alami bagi anak untuk belajar sesuatu sesuai dengan tahap perkembangannya dan kebutuhan spesifik anak.

Masa anak usia dini sering disebut masa emas yaitu masa di mana anak mulai peka dan sensitif untuk menerima berbagai rangsangan, anak memiliki otak yang mampu berkembang sampai 80% dari seluruh kemampuan anak.

Dalam hal ini, ada beberapa tahapan perkembangan anak dan salah satunya adalah aspek perkembangan kognitif. Perkembangan kognitif merupakan proses mental atau aktivitas pikiran dalam mencari, menemukan, mengetahui dan memahami informasi.

Salah satu bidang pengembangan aspek kognitif anak di lembaga Pendidikan Anak Usia dini (PAUD) adalah dengan mengenalkan mereka cara Membaca, Menulis dan Berhitung (Calistung).

Persoalan baca tulis hitung atau calistung saat ini memunculkan fenomena tersendiri dalam dunia pendidikan anak pra-sekolah. Selama ini PAUD didefinisikan sebagai tempat untuk mempersiapkan anak-anak memasuki masa sekolah yang dimulai di jenjang sekolah dasar.

Kegiatan yang dilakukan di PAUD pun meliputi kegiatan bermain dengan mempergunakan alat-alat edukatif. Menurut Permendiknas RI Nomor 58 Tahun 2009 bahwa pelajaran membaca, menulis, dan berhitung tidak diperkenankan di tingkat taman kanak-kanak, kecuali hanya pengenalan huruf-huruf dan angka-angka.

Pada dasarnya orangtua menginginkan buah hatinya agar bisa cepat menulis, membaca, dan berhitung pada usia dini. Lebih cepat bisa membaca, menulis dan berhitung menjadi kebanggaan tersendiri bagi orangtua terhadap anaknya.

Kekhawatiran orangtua akan anak-anaknya tidak mampu mengikuti pelajaran di sekolahnya nanti jika sedari awal belum dibekali keterampilan baca tulis hitung dan akan berpengaruh pada biaya sekolah yang bertambah kalau akhirnya harus mengulang kelas.

Hal itu membuat para orangtua akhirnya menyekolahkan anaknya di PAUD yang mengajarkan baca tulis hitung.

Kesadaran orangtua dan praktisi pendidikan terhadap pentingnya keterampilan Calistung pada anak-anak usia taman kanak-kanak semakin meningkat. Keterampilan calistung dipandang sebagai “pembuka dunia”.

Dengan menguasai keterampilan calistung yang memadai, anak-anak tidak akan mengalami kesulitan untuk mempelajari bidang studi lainnya di kelas-kelas yang lebih tinggi saat memasuki jenjang sekolah dasar.

Perbedaan definisi belajar menjadi pangkal persoalan dalam mempelajari apapun, termasuk belajar calistung. Selama bertahun-tahun belajar telah menjadi istilah yang mewakili kegiatan yang begitu serius, menguras pikiran dan konsentrasi.

Karena itu, permainan dan nyanyian tidak dikatakan belajar walaupun mungkin isi permainan dan nyanyian adalah ilmu pengetahuan.

Belajar baca tulis hitung melalui kegiatan bermain dan bernyanyi kini tidak lagi perlu dihindari karena banyak penelitian membuktikan metode pembelajaran melalui permainan menjadi salah satu metode yang efektif dalam pembelajaran, khususnya di sekolah anak usia dini (PAUD).

Persoalan terpenting yang perlu diperhatikan oleh guru adalah strategi merekonstruksi cara belajar calistung sehingga anak-anak menganggap kegiatan belajar mereka tidak ubahnya seperti bermain dan bahkan memang berbentuk sebuah permainan yang akan memberi kesan yang mendalam pada diri anak.

Di samping itu perlu disadari, jika calistung diajarkan seperti halnya orang dewasa belajar, besar kemungkinan akan berakibat fatal. Anak-anak bisa kehilangan gairah belajarnya karena menganggap pelajaran itu sangat sulit dan tidak menyenangkan.

Pembelajaran calistung bisa membaur dengan kegiatan lainnya, tanpa harus membuat anak-anak terbebani dengan materi yang diberikan.

Adakalanya tidak diperlukan waktu ataupun momentum khusus untuk mengajarkan calistung. Anak-anak bisa belajar membaca lewat poster-poster bergambar yang ditempel di dinding kelas.

Setiap satu atau dua minggu, gambar-gambar diganti dengan yang baru, dan tentu akan muncul lagi kata-kata baru bersamaan dengan perjalanan waktu.

Dalam waktu satu atau dua tahun, anak-anak bisa membaca tanpa guru yang merasa tertekan untuk mengajari mereka menghafal huruf atau mengeja.

Demikian pula halnya dengan pelajaran berhitung. Mengenalkan kuantitas benda adalah dasar-dasar matematika yang lebih penting daripada menghafal angka-angka, dan hal itu sangat mudah diajarkan pada anak usia dini.

Poster berbagai benda berikut lambang bilangan yang mewakilinya bisa kita tempel di dinding kelas. Sambil bernyanyi, guru bisa mengajak anak-anak berkeliling kelas untuk membaca dan melihat bilangan.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal, Kemdikbud, Lydia Freyani Hawadi mengungkapkan bahwa dalam mengajarkan calistung kepada anak usia dini atas dasar anak tersebut memang tertarik serta memiliki kemampuan dan metode pembelajarannya harus berdasarkan prinsip bermain serta menyenangkan.

Bermain adalah dunianya anak, yang dilakukan melalui kegiatan bermain, anak-anak melakukan interaksi sosial dengan anak-anak dan orang dewasa, melakukan berbagai peran sosial, membangun pengetahuan, mengembangkan keterampilan fisik-motorik, mengembangkan kemandirian, kemampuan berkomunikasi lisan, mengekpresikan emosi, mengembangkan kreativitas, serta aspek-aspek perkembangan lainnya.

Pendekatan filosofis masa kini memandang bukan pelajarannya saja yang harus dipersoalkan, tetapi bagaimana cara guru menyajikannya juga harus mendapat perhatian.

Hal ini sejalan dengan konsep pembelajaran calistung yang dijabarkan dalam Surat Edaran Departemen Pendidikan Nasional mengenai penyelenggaraan pendidikan taman kanak-kanak dan penerimaan siswa baru sekolah dasar bahwa pembelajaran “calistung” seharusnya dilaksanakan melalui pendekatan bermain karena bermain merupakan cara terbaik untuk mengembangkan potensi anak didik.

Selain itu, Surat Edaran Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan No: 2519/C.C2.1/DU/2015 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) juga menegaskan bagi para pelaksana pendidikan di PAUD untuk tidak mengajarkan materi calistung secara langsung sebagai pembelajaran sendiri-sendiri (fragmented) kepada anak-anak karena dikhawatirkan anak-anak nantinya merasa terbebani dan timbul kebosanan selama kegiataan pembelajaran.

Dengan demikian, pendidikan Calistung sangat diperlukan bagi anak-anak semenjak usia dini, sehingga dapat menghasilkan generasi yang berkualitas.

Dalam hal ini, guru perlu mengenalkan konsep dasar calistung pada anak usia dini dengan menerapkan metode yang menyenangkan serta tidak berdampak buruk pada mental dan perkembangan anak.

__________
*) DZUMIRRAH, penulis adalah pengurus PW Muslimat Hidayatullah Provinsi NAD.

Jumat, 23 Maret 2018

Peran “Madrasatul Uula” dan Kebangkitan Generasi Zaman Now

Oleh Nurfaiqoh*

BUKANLAH suatu kebetulan bahwa Al-Qur’an menginformasikan kita di dalam surat Al-Qashash mengenai konflik antara Nabi Musa dan Firaun, lalu menjadikan wanita sebagai fokus titik tolak kebangkitan. Allah menyatakan,

“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi).” (Al-Qashash 5).



Maka, proses menjadikan orang-orang tertindas itu sebagai pemimpin merupakan inisiasi kebangkitan, yang dimulai dengan seorang wanita. Allah berfirman,

 “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan men jadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (Al-Qashash 7).

Dengan demikian, wanita menjadi titik fokus dari konflik kita dengan lawan-lawan kita. Potensi kemenangan dan kekalahan umat Islam sangat bergantung erat kepada wanita. Ini bukan kata-kata untuk ceramah ataupun puisi. Ini merupakan preposisi aksiomatik yang menjadi realita, dan harus mendapatkan perhatian lebih.

Ujian Zaman 

Kini saban hari kita disuguhi berita dan tayangan yang menyesakkan dada. Media senantiasa heboh dengan berita kejahatan yang menyesakan, kekerasan, dan adegan syahwat menjadi tontotan yang dapat diakses oleh semua usia termasuk anak anak zaman now.

Sehingga tak mengherankan jika kemudian pornografi dan pornoaksi hampir menjadi menu keseharian yang berdampak pada meningkatnya perbuatan asusila di masyarakat.

Belum lagi berita tindak kejahatan pembunuhan, perampokan, pencurian, tawuran antar pelajar dan lain-lain kian membuat hati semakin miris.

Ada fakta-fakta yang mencengangkan dari hasil penelitian di berbagai kota besar di Indonesia. Pada tahun 1980-an sekitar 5 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks pra-nikah. Berikutnya, di tahun 2000  jumlahnya meningkat menjadi 20-30 persen.

Lalu bagaimana pertumbuhan angka pelaku zina di tahun 2010, di mana dengan pesatnya kemajuan teknologi, anak-anak makin mudah mengakses informasi yang tidak patut, termasuk paparan pornografi dan pornoaksi.

Menurut pemerhati kepengasuhan anak, Seto Mulyadi atau Kak Seto, sejak beredarnya video porno, lebih dari 60 persen anak SMP sudah melakukan hubungan badan (okezone.com, 18 Juni 2010). Jika angka ini memang akurat, tentu saja menjadi fenomena yang sangat memprihatinkan.

Kurikulum Rabbani

Allah SWT berfirman:

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (Qs. Ar-Ra’d : 11).

Ayat tersebut mengharuskan kita untuk melakukan antisipasi dan perbaikan nasib anak-anak kita untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Sebelum menjawab pertanyaan ini, mari kita telusuri dari sisi psikologis, apa penyebab tercabutnya iman di dalam diri.

Ahli psikologi mengemukakan bahwa rasa percaya pada anak sudah mulai terbentuk ketika anak baru lahir sampai dengan usia 1,5 tahun.

Secara terminologis (isthilahiy), kata “iman” berarti “percaya.” Ahli psikologi mengemukakan bahwa rasa percaya pada anak sudah mulai terbentuk ketika anak baru lahir sampai dengan usia 1,5 tahun. Masa usia ini adalah masa penentu apakah anak akan memiliki rasa aman (percaya) atau bahkan rasa tidak aman (tidak percaya).

Bagaimana rasa aman pada anak bisa terbentuk? Anak mencari keamanan dengan mencari kasih sayang dari lingkungan sekitarnya, jika ia mendapatkannya maka ia akan berkembang menjadi individu yang memiliki rasa percaya terhadap dirinya dan juga terhadap orang lain.

Berkembangnya rasa aman dalam diri seorang anak merupakan pondasi awal terbentuknya individu yang sehat secara mental, dalam hal ini individu yang memiliki inisiatif, mampu berkarya, mampu membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain dan juga individu yang mampu menentukan perilaku sendiri dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku.

Jika rasa aman itu sangat penting, apa yang dapat dilakukan orang tua agar anak memiliki rasa aman? Sederhana saja, berikan perhatian dan kasih sayang kepada anak sejak anak lahir.

Segera berikan respon ketika bayi menangis karena semua bayi bisa mengembangkan rasa percaya pada orang lain ketika memiliki ibu/pengasuh  yang merespon cepat tangisan mereka. Ketika mendapatkan respon cepat, bayi akan memiliki rasa aman dan nyaman.

Selain memberikan respon yang cepat terhadap tangisan bayi, memeluk, menyentuh, dan berbicara pada bayi adalah cara lain membentuk rasa aman.

Tindakan-tindakan seperti itu, apabila dilakukan oleh orang tua terhadap bayi membuat bayi berpikir bahwa dunia adalah tempat yang menyenangkan. Tempat di mana orang lain dapat dipercaya, tempat di mana bayi mendapat bantuan ketika membutuhkannya.

Lalu apa hubungannya rasa aman dengan iman? Yang harus kita ingat, anak belajar percaya pada sesuatu yang nyata terlebih dulu, misalnya terhadap kasih sayang yang ditunjukkan orang tua.

Setelah itu, baru kemudian anak percaya pada sesuatu yang abstrak, misalnya percaya akan adanya Allah, akan adanya hisab atas perilaku yang diperbuat, sehingga anak takut ketika akan melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar aturan terutama aturan Allah.

Jika ibu terlalu lama memberikan respon atau tidak mempedulikan tanda-tanda ketidaknyamanan bayi, misalnya ibu membiarkan bayi menangis lama baru kemudian diberi susu, memberikan susu botol tidak sambil digendong.

Mengacuhkan bayi karena sibuk dengan pekerjaan di rumah, memarahi bayi ketika mereka menangis, maka bayi akan merasa dunia adalah tempat yang “dingin” dan “kejam,” sehingga mereka tidak memiliki rasa aman atau percaya.

Maka tidak menutup kemungkinan, di masa yang akan datang ia melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan aturan Allah karena ia tidak bisa percaya pada sesuatu yang sifatnya konkret (kasih sayang manusia), maka ia sulit percaya pada sesuatu yang sifatnya abstrak (hisab atas perilaku yang diperbuat). Ini berarti keimanannya lemah.

Memberikan rasa aman pada anak sejak lahir-1,5 tahun merupakan salah satu upaya pencegahan dini terhadap rusaknya moral anak di masa depan.

Sekolah Kasih Sayang

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa memberikan rasa aman pada anak sejak lahir-1,5 tahun merupakan salah satu upaya pencegahan dini yang dapat dilakukan oleh orang tua terhadap rusaknya moral anak di masa depan.

Nasib generasi di masa mendatang bisa diubah jika kita mau mengubahnya. Mulailah dengan mengubah anak kita terlebih dahulu dengan cara yang sederhana dengan memberikan rasa aman pada anak kita semenjak lahir sehingga mereka percaya bahwa hanya dari lingkungan rumahlah ia mendapatkan kasih sayang.

Bahwa ia tidak perlu mencari kasih sayang dari orang lain dengan cara-cara yang tidak wajar (melakukan hubungan seks-pranikah misalnya).

Selain itu dengan memiliki rasa aman, akan lebih memungkinkan bagi anak untuk memiliki rasa percaya atau keimanan kepada Allah, tapi tentu saja tidak terlepas dari bimbingan orang tua

Kokoh Awalnya, Indah Akhirnya

Setiap muslimah harus menyadari posisi mereka. ketahuilah bahwa kalian adalah intisari dan benteng umat. Para muslimah harus membekali diri dengan ilmu dan keimanan yang kokoh.

Muslimah yang bodoh dan loyo adalah musuh untuk dirinya, suaminya, keluarganya, dan komunitasnya. Jangan terpedaya jebakan setan yang terejawantahkan dalam adat dan kebiasaan jahiliyah.

Karena kebiasaan sosial jahiliyah yang rapuh adalah senjata para musuh Islam dan kaum liberal untuk ‘menjinakkan’ wanita muslim. Untuk menghancurkan Islam, mereka menghancurkan dahulu para muslimah.

Para musuh Islam membingkai usaha jahat mereka dengan bahasa-bahasa menyihir, semisal gerakan feminisme dan emansipasi wanita.

Sesungguhnya jalan kepada pembentukan pribadi muslimah sejati bukanlah jalan yang mulus dan indah. Tetapi jalan yang penuh pendakian dan rintangan, jalan yang penuh onak dan duri, jalan melawan arus globalisasi jahiliyah.

Hendaknya kita pahami betul hal ini. Seorang muslimah yang baik adalah muslimah yang menjadikan muslimah di zaman Rasulullah SAW sebagai cermin dan teladan kita.

Yakinlah bahwa kerja keras, keimanan, dan konsistensi kita akan dibalas keridhaan dan pahala Allah SWT. Kabar yang sungguh membahagiakan.

________
*) NURFAIQOH, penulis adalah Ketua Departemen Pendidikan PW Mushida Wilayah Sulawesi Tenggara

Selasa, 03 Januari 2017

Malaysia di Ambang Krisis Populasi?

KADAR kesuburan di seluruh dunia terutamanya di negara maju dan membangun telah menurun. Malaysia tidak terkecuali dari menyaksikan perubahan ini. Jika 30 tahun dahulu mempunyai empat ke lima anak adalah kebiasaan tetapi pada hari ini purata kelahiran setiap keluarga hanyalah satu ke tiga anak.

Mengikut perangkaan yang dikeluarkan oleh PBB, kadar kesuburan rakyat Malaysia semakin merosot di mana antara 2010 ke 2015 kadar kesuburan adalah 1.97 dan pada 2020 dijangkakan menurun sehingga 1.9 dan 1.72 pada 2050.

Ini bermakna satu keluarga secara purata akan hanya mempunyai 1.9 anak dan jika keadaan ini dibiarkan berlarutan ianya akan menyebabkan piramid populasi yang tidak stabil.

Kadar kesuburan 1.9 adalah di bawah “replacement fertility” 2.1 di mana kelahiran dua anak hanya akan menggantikan ibu dan ayah yang akan meninggal dan menyebabkan populasi tidak berkembang.

Negara-negara seperti Korea, Jepun, German mempunyai kadar kesuburan di bawah 1.5 dan ini mengundang pelbagai masalah sosial termasuk tenaga kerja yang rendah dan golongan muda yang terpaksa menyara golongan tua yang mendominasi populasi.

Perkara ini terjadi kerana arus modenisasi yang menyebabkan ramai menangguhkan kehamilan sehingga usia berumur dan seterusnya mengalami kesukaran untuk hamil.

Daripada pengalaman peribadi saya mengendalikan kes- kes kesuburan juga didapati ramai yang mendapatkan rawatan berusia lebih dari 35 tahun.

Justeru itu bagi negara-negara yang mempunyai pertumbuhan populasi yang kecil, berbagai insentif diberikan oleh kerajaan untuk menambahkan pertumbuhan penduduk. Ini termasuk rawatan kesuburan seperti IVF atau Tabung Uji yang disubsidi serta pemberian insentif terhadap kelahiran.

Pemberian insentif kelahiran yang dilakukan oleh kerajaan negeri Terengganu melalui Yayasan Pembangunan Keluarga Terengganu iaitu memberi bantuan kewangan melalui Tabungan SSPN adalah satu langkah yang baik bagi menggalakkan kehamilan dan seterusnya menambahkan populasi.

Di harap akan ada insentif yang serupa untuk membantu pasangan yang sukar hamil bagi mendapat subsidi rawatan kesuburan. Melalui insentif ini sebanyak 100 ringgit tabungan SSPN akan diberikan kepada anak pertama dan 200 bagi anak 2-7.

Walaubagaimanapun, setiap kehamilan seharusnya dirancang dan dikehendaki serta dipastikan berada dalam keadaan yang selamat. Ini selari dengan konsep yang diperkenalkan oleh Kementerian Kesihatan Malaysia yang dikenali sebagai PrePregnacy Care (PPC) di mana kesihatan ibu akan dipastikan berada dalam tahap optima sebelum ibu menempuh kehamilan.

Saya berharap juga agar insentif lain akan di ambil kira pada masa akan datang seperti insentif penjagaan anak, insentif fleksibiliti kerja supaya ibu boleh terus memberikan khidmat kerjaya profesianalisme mereka tanpa menyampingkan tugas utama sebagai ibu dalam rumahtangga yang sejahtera.

Dr Murizah Mohd Zain
Pakar Perubatan Reproduktif
Dan Pakar Perunding Obstetrik dan Ginekologi
Ketua Wanita ISMA Alor Setar

Sumber: wanitaisma.net

Senin, 25 April 2016

Spesial for Annisa, Inilah 5 Penting yang Perlu Diketahui Calon Penulis

Oleh Mustabsyirah Syammar

SEBAGAI calon penulis, terkadang kita ditimpa oleh perasaan seperti ini:

"Ah, menulis bukan bakatku...."
"Aku bukan keturunan penulis, jadi wajar jika aku tidak pandai membuat tulisan...."
"Tulisanku jelek, berantakan, gak jelas. Aku malu mempublikasikannya...."
"Aku gak punya pengalaman di dunia tulis menulis...."
"Aku sibuk, gak ada waktu untuk nulis...."

Dan berbagai alasan lainnya, yang mengerucut pada satu kesimpulan yakni memiliki ketidakpercaya dirian untuk menulis.

Tidak sedikit orang yang ingin menyalurkan idenya, pikirannya, perasaannya, namun terkendala ketika menuliskannya. Belum menulis, sudah merasa minder duluan. Sebab merasa tulisannya belum layak untuk dibaca oleh khalayak, merasa tulisannya belum bisa dikatakan tulisan yang hebat, dan merasa tulisannya masih berantakan.

Pikiran-pikiran negatif itulah yang terkadang membatasi kita untuk menyegerakan menulis atau menyelesaikan suatu naskah tulisan. Padahal kita sendiri menyadari bahwasanya kita memiliki potensi yang besar untuk menulis.

Ya, benar. Kita semua memiliki potensi untuk menulis. Sebab, menulis bukanlah suatu bakat yang hanya dimiliki oleh penulis-penulis terkenal saja. Tetapi, menulis merupakan suatu keterampilan yang dimiliki hampir semua orang.

Keterampilan merupakan kemampuan untuk menggunakan akal, fikiran, ide dan kreatifitas dalam mengerjakan, mengubah ataupun membuat sesuatu menjadi lebih bermakna sehingga menghasilkan sebuah nilai dari hasil pekerjaan tersebut.

Keterampilan tersebut pada dasarnya akan lebih baik bila terus diasah dan dilatih untuk menaikkan kemampuan sehingga akan menjadi ahli atau menguasai dari salah satu bidang keterampilan yang ada. Contohnya saja keterampilan dalam bidang menulis.

Menulis dapat menjadi suatu keahlian bagi seseorang jika sering dilatih. Namun, jika tidak sering dilatih, maka menulis hanyalah sebatas kemampuan yang pada umumnya dimiliki semua orang, tidak sampai pada tingkat ahli.

Hampir semua orang pasti pernah menulis. Entah menulis diary atau buku harian, memo, nota, surat, sms, email, artikel, essay, sampai menulis sebuah buku. Hal tersebut menunjukkan, bahwasanya keterampilan menulis lahir dari suatu hal yang sederhana, seperti mencurahkan perasaan di buku harian atau blog pribadi, menyurati teman, menyampaikan pesan, berbagi resep makanan, dll.

Namun, dari hal yang sederhana tersebut, dapat menjelma menjadi hal yang tidak lagi sederhana, seperti menggerakkan massa, menjadi duta wisata, menggalang opini publik, bahan riteratur dunia, dll. Hal tersebut dapat terjadi jika keterampilan menulis senantiasa dilatih dengan intens.

Latihan yang intens tersebut, menjelma laksana bola es kecil yang menggelinding dari atas bukit. Makin lama makin membesar, hingga mengandung kekuatan yang besar pula.

Pun demikian dalam berdakwah. Bagi para muslim dan muslimah, penting kiranya untuk melatih keterampilan menulis yang dimiliki.

Sebab, esensi tulisan dalam aktivitas dakwah juga memiliki kekuatan yang cukup krusial dalam menjawab permasalahan ummat. Hal ini tergambar jelas pada perhatian masyarakat yang semakin tinggi terhadap aktivitas-aktivitas di media sosial yang hampir sebagan besar berinteraksi lewat tulisan.

Jika aktivis dakwah tidak gesit mengambil setir dalam hal ini, maka masyarakat akan semakin jauh dari nilai dakwah sebab terlalu banyak melahap sajian-sajian yang kering akan nilai Islam bahkan menyesatkan. Naudzubillah.

Seorang penulis yang bertindak sebagai narasumber dalam suatu seminar literasi pernah menyampaikan bahwa sebuah gagasan seburuk apapun, seculun apapun, sejelek apapun tetaplah menjadi tulisan jika dituliskan. Maka dari itu, menulislah. Sebab menulis itu sekali lagi bukan berbicara tentang bakat, namun berbicara tentang keterampilan.

Ada 5 hal penting yang perlu diketahui oleh calon penulis, yakni:

Pertama, jangan terlalu banyak berpikir tentang teori menulis. Tulis saja apa yang sedang kita pikirkan. Seperti halnya belajar naik sepeda, tidak perlu memikirkan bagaimana teori yang baik untuk mengendarai sepeda. Kayuh saja sepedanya, latihan terus hingga kita mendapati diri kita dapat mengayuh sepeda dengan lancar. Begitupula dengan menulis.

Tidak usah merasa terlalu dipusingkan dengan berbagai teori menulis. Tulis saja apa yang sedang kita pikirkan. Latih terus keterampilan menulis kita. Hingga kita mendapati diri kita dapat menulis dengan baik dan lancar.

Imam Bukhori, beliau pernah bangun dari tidurnya di suatu malam. Dia pun menyalakan lampu dan mencatat ilmunya yang terlintas di benaknya, lalu ia mematikan lampu kembali. Kemudian ia bangun lagi dan melakukan hal yang sama.

Demikian, sampai hal itu terjadi kurang lebih dua puluh kali dalam semalam. Begitulah cara ulama membiasakan dirinya dalam menulis.

Kedua, berlatihlah menulis hal-hal yang ringan. Manfaatkanlah media sosial yang ada seperti facebook, twitter, blog, dsb. Sebab media-media tersebut cepat mendapat respon dari pembaca. Respon-respon tersebut dapat berupa apresiasi, kritikan, masukan, atau saran yang dapat kita jadikan bahan perbaikan terhadap tulisan kita.

Sehingga kualitas tulisan semakin meningkat. Hindari copy paste atau plagiasi. Berpijak di atas karya sendiri meskipun jelek itu lebih mulia, dari pada merasa bangga berpijak di atas karya orang lain.

Ketiga, jangan menulis sesuatu yang tidak Anda kuasai. Jadilah penulis cerdas yang berwawasan luas. Perbanyaklah membaca, bergaul dan lakukanlah rihlah (perjalanan) sebagai bekal.

Dengan membaca, akan memperkaya otak akan ilmu dan mempermudah pemanggilan referensi saat menulis. Dengan bergaul, akan menemukan banyak inspirasi, informasi, ide, pengalaman dari teman-teman di sekitar kita yang dapat dijadikan penguat dalam tulisan.

Dengan melakukan rihlah (perjalanan), dapat merilekskan pikiran, dan juga membuka wawasan terhadap fenomena alam, keberagaman sosial, dan banyak tempat yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk memperkaya sebuah tulisan.

Keempat, tidak usah pusing memikirkan gaya menulis. Gaya menulis akan datang dengan sendirinya seiring dengan jam terbang. So, jangan pikirkan gaya dulu. Tulis saja, komitmenkan dan disiplinkan.

Kelima, hati-hati menggunakan peliuk-liukan bahasa. Maksud peliuk-liukan bahasa adalah penggunaan bahasa yang rumit biar kelihatan intelek.

Ingat, tujuan kita menulis adalah agar orang lain paham tentang apa yang kita tulis, bukan membuat orang sakit kepala karena tidak mengerti maksud dari tulisan kita.

Demikianlah 5 hal penting yang patutnya diperhatikan oleh calon penulis. Dan yang terpenting dari kelima hal penting di atas adalah bersabarlah dalam proses.

"Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak." (Ali bin Abi Thalib)

_______
*) MUSTABSYIRAH SYAMMAR, penulis adalah pengurus Annisa Muslimat Hidayatullah Kota Samarinda, Kalimantan Timur. 

Selasa, 01 Maret 2016

Mencetak Walijah Melalui Halaqah

KUNCI menjadi seorang Muslim adalah mengucapkan syahadatain (dua kalimat syahadat). Yaitu berucap asyhadu an laa ilaaha illallaah wa asyahadu anna muhammadan rasuulullah.

Ketika kalimat tauhid telah dilisankan, setelahnya segala konsekuensi syahadat harus dipenuhi oleh orang beriman.Mulai dari implementasi syahadat yang paling ringan yaitu menyingkirkan gangguan yang menghalangi suatu jalan hingga berperang di jalan agama (jihad fi sabilillah).

Setidaknya ada 77 perkara keimanan yang harus dikerjakan oleh seorang beriman. Demikian disebutkan oleh Imam al-Baihaqi dalam Kitab Syu’abul Iman yang diringkas oleh Imam al-Qozwaini.

Tentu tak semudah membalik telapak tangan dalam mengarungi proses keimanan yang bercabang hingga 77 tingkatan itu. Ibarat sebuah titian, ia adalah perjalanan yang pasti disesaki oleh gelombang tantangan dan rintangan yang membadai.

Sebagai makhluk sosial, maka potensi yang dipunyai tak cukup menjadi bekal jika tidak melibatkan bantuan orang lain. Apalagi kalau orang itu sampai bangga dan merasa cukup untuk ditolong oleh saudaranya.

Sebaliknya, setiap manusia niscaya membutuhkan kawan yang bisa seiring sejalan. Ada teman yang dapat menasehati kala diri lupa, ada sahabat untuk berbagi di masa senang dan susah.

Pun dalam membangun komitmen berdakwah dan berjuang untuk agama Islam, umat Islam berhajat untuk saling menguatkan buhul ukhuwah. Seorang Muslim membutuhkan saudaranya Mukmin yang lain agar menyatu dalam kekuatan yang satu. Saling bersinergi merekatkan potensi yang berserak di bawah kepemimpinan Islam.

Hal ini dijelaskan oleh Fathi Yakan dalam bukunya “Madza Ya’ni Intimai Ila al-Islam”. Ia mengatakan, orang-orang yang mengaku beriman namun enggan dalam memperjuangkan Islam adalah orang yang linglung. Keyakinan mereka adalah formalitas yang jauh dari realita kehidupan, meskipun beriman kepada Allah dan Hari Akhir serta melakukan aktifitas kerohanian.

Menurut Fathi Yakan, berjuang untuk Islam hukumnya wajib sejak syahadat pertama kali diucapkan. Olehnya mendapatkan teman setia yang dapat mengingatkan kala tergelincir serta saling menjaga komitmen berIslam adalah sebuah keniscayaan sekaligus pekerjaan yang tidak mudah.

Persaudaraan dalam Islam saja tidaklah cukup. Sebab kawan setia yang dimaksud adalah sahabat yang dapat saling menopang dengan semua yang dia miliki. Mulai dari harta, raga, bahkan jiwa demi perjuangan Islam.

Dalam hal ini Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi teladan luar biasa bagi seluruh umat Islam. Sepanjang hidupnya Abu Bakar melakoni peran sebagai sahabat setia Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam (Saw). Mulai dari Rasulullah menerima wahyu pertama di gua Hira hingga berujung di hari wafat Nabi.

Sebagaimana Nabi Muhammad juga berhasil mempersaudarakan sahabat Muhajirin (pendatang dari Makkah) dengan kaum Anshar (penduduk Madinah) sesaat bakda peristiwa Hijrah tersebut.

Lebih jauh, syariat Islam mengatur pertemanan orang-orang beriman dalam kehidupan mereka. Allah tidak ridha sekiranya orang beriman mengambil selain mereka sebagai kawan setia dalam memperjuangkan Islam.

Allah berfirman:

ام حسبتم ان تتركوا ولما يعلم الله الذين جاهدوا منكم ولم يتخذوا من دون الله ولا رسوله ولا المؤمنين وليجة والله خبير بما تعملون

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi teman yang setia selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah at-Taubah [9]: 16).

Allah menyiratkan akan menimpakan terus ujian dan cobaan bagi siapa saja yang mengaku beriman hingga mereka tersaring dan terpilih sebagai sebenar-benar orang mukmin.

Yaitu orang-orang yang berciri khas tak mau berkawan setia kecuali dengan Allah, Rasulullah, dan orang-orang beriman lainnya.

Ayat di atas juga menyebut kata ‘walijah’. Sebuah kata yang berasal dari akar kata ‘walaja-yaliju’ yang berarti masuk. Ia disebut walijah bagi seorang Muslim jika orang itu masuk sedalam-dalamnya pada kehidupan sahabatnya, menjalin cinta dan kesetiaan bersamanya.

Ibnu Mandzur berkata, walijah adalah bithanah, khashshah, dikhlah dan dakhilah al-mawaddah (Lihat kamus Lisan al-Arab).

Mencetak walijah melalui halaqah

Bagi orang beriman, budaya halaqah adalah tradisi yang sudah dikenal sejak masa para sahabat hidup bersama Nabi.

Sejarah mencatat, Rasulullah mengawali halaqah dalam pembinaan para sahabat sejak di rumah al-Arqam bin Abi al-Arqam.

Halaqah yang dimaksud adalah kumpulan yang terdiri dari beberapa orang yang duduk melingkar untuk menuntut ilmu dan mempelajari agama.

Model menuntut ilmu semacam ini terus berkembang model dan jenisnya. Tercatat budaya halaqah kian tumbuh subur di masa Daulah Abbasiyah seperti yang tersebar kini di sejumlah pondok pesantren tradisional di Indonesia.

Dalam sistem halaqah tersebut, seseorang yang dianggap punya kompentensi ilmu lalu dipercaya sebagai murabbi (pembina halaqah) dan beranggotakan beberapa orang lainnya (mutarabbi). Biasanya anggota halaqah berjumlah sekitar 5-10 orang.

Istimewanya, sistem halaqah tersebut bukan hanya tempat menimba ilmu saja, tapi juga sebagai tempat mencetak orang-orang yang ingin menyempurnakan keimanan mereka.

Peran seorang murabbi dalam halaqah tidak hanya sebagai transformer (pemindah) ilmu namun juga berfungsi pencetak kader yang loyal terhadap Allah, Rasulullah, serta punya wala’ dan bara’ bersama orang-orang beriman lainnya.

Tugas besar sekaligus mulia itu tentu tidak mudah bagi setiap murabbi. Sebab ia harus melebur bersama para mutarabbi (binaan halaqah) dengan segenap hati, pikiran, dan perasaannya.

Dengannya, ia lalu dapat diterima, didengar dan dicintai oleh sesama anggota halaqah. Demikian itu sekaligus menjadi tahap seleksi yang membuktikan mana di antara anggota yang bersungguh-sungguh menjaga dan membangun komitmennya terhadap dakwah Islam.

Sejatinya dinamika yang terjadi dalam halaqah adalah miniatur suatu jamaah atau komunitas masyarakat. Olehnya tak salah, jika keluarga biasa disebut sebagai pondasi awal atau sekeping batu bata dalam membangun peradaban Islam, sedang halaqah adalah wadah dalam menjaga agar batu bata ini tetap teguh memikul tanggung jawab sebagai seorang mukmin.

Halaqah yang hanya terdiri dari beberapa anggota tersebut juga berfungsi menjadi wadah efektif mencetak walijah-walijah yang siap berjalan seiring dalam berdakwah dan membangun peradaban Islam.

Untuk itu diharapkan hati murabbi dan para mutarabbi bisa berpadu dalam suatu halaqah. Sejalan waktu, niscaya akan tersingkap anggota yang hanya ikut-ikutan atau sekedar turut ramai, misalnya.

Di saat yang sama, para walijah itu akan hadir membuktikan kesetiaan mereka. Sebuah komitmen yang tak hanya berdasar kepentingan materi, tapi murni sebagai pertautan hati yang terbangun semata karena iman.

Uniknya, masalah hati bukan urusan yang bisa dibuat atau dikarang begitu saja. Hati adalah perkara yang hanya bisa diatur oleh Allah. Dialah Zat yang dapat menautkan hati orang-orang beriman agar tetap istiqamah di jalan yang diridhai-Nya.

Hati-hati mereka lalu saling menjaga dan menasihati, saling mencintai serta mengikat janji setia dalam keadaan senang ataupun susah. Mereka siap mengorbankan jiwa dan raga demi dakwah dan kepentingan agama Islam.

Allah berfirman:

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً مَّا أَلَّفَتْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَـكِنَّ اللّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (Surah al-Anfal [8]: 63).

______
*) SARAH ZAKIYAH, penulis adalah pengurus PP Muslimat Hidayatullah; seorang guru sekolah dasar tinggal di Depok, Jawa Barat. 

Senin, 01 Februari 2016

Menjadi Muslimat Laksana Emas, Sudahkan?

MENJADI Pasir atau  emas adalah pilihan. Bagaimana seseorang hanya menjadi sebutir pasir yang tiada harganya diantara lautan pasir di pantai?

Bagaimana seseorang bisa mnjadi emas yang begitu diburu siang dan mlam meski tersembunyi di belantara hutan, di tumpukan bebatuan, dalam genangan lumpur yang menjijikkan?

Mengapa sebutir pasir tidak berharga?  Mengapa sebiji emas begitu tak ternilai harganya? Karena emas adalah zat yang diciptakan Allah sebagai perhiasan yang selalu menarik minat siapapun yang melihatnya. Karena pasir memang diciptakan Allah hanya sebagai pelengkap keindahan pantai.


Karena sebutir emas harus melalui proses yang amat panjang, melelahkan, bahkan penuh derita dan duka untuk bisa mnjadi sebuah bentuk perhiasan. Emas begitu taat saat dibentuk dan ditempa.

Tidak demikian dengan pasir, pasir memiliki sifat melawan. Cobalah genggam pasir dengan kuat, niscaya ia akan mencari celah hingga sebutir demi sebutir lepas dari genggaman. Atau, letakkan pasir di telapak tangan, niscaya ia akan terbang seiring hembusan angin.

Atau, buatlah istana pasir, ketika pasir itu masih basah, istana pasir akan berdiri dengan megah. Tapi bgitu mengering, maka runtuhlah istana pasir itu. Kader Hidayatullah adalah emas diantara butiran pasir di pantai.

Back to ourselves

Jika kita merasa bahwa kita adalah emas. Sudahkah kita menjalani seluruh ujian ketaatan dengan sebenar-benar sam'an wa tha'atan?

Terimakah kita dengan segala amanah, tempaan, ujian di lembaga ini dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan?

Jika kita merasa bahwa kita adalah emas, sudahkan kita berhasil melewati proses panjang ketaatan dengan menahan ego, keinginan, kepentingan pribadi?

Jangan menyebut diri kita emas jika nyatanya kita hanyalah sebutir pasir di pantai yang tak bernilai.
Jangan menyebut diri kita emas jika ternyata kita masih terbang tertiup angin dan badai. Karena emas tidak akan diterbangkan oleh angin. Karena emas tidak akan terhempaskan oleh badai.

Mengutip pernyataan Ustadz Abdul Mannan pada Munas IV Mushida yang diselenggarakan di Malang, 7-9 Januari 2016 lalu, "Siapkan mental untuk diatur oleh pimpinan".

Inilah ujian di Hidayatullah yang akan membedakan apakah kita emas atauakah hanya bongkahan pasir.

Wallahu a'lam bi shawwab

_____
UMMU AL FATIH, penulis adalah pengurus PD Muslimat Hidayatullah 
NTT.

Selasa, 05 Januari 2016

Ketika "Cieee" Tak Semata Candaan

KATA “cieee” adalah frasa yang sudah terbilang mainstream dan sangat populer di masyarakat saat ini. Kata ini telah familiar dituturkan tidak saja anak muda, mahasiswa, pelajar, aktivis, tetapi juga sering terdengar di sudut-sudut dusun.

Entah siapa memulainya, yang jelas kata “cieee” telah menjadi semacam selorohan untuk menggoda, bercanda, usil menjahili, atau sekedar ingin memuji.

Namun, terkadang, yang dianggap kecil atau sederhana bisa berubah makna jika diucapkan secara berlebihan. Ia bahkan membahayakan dan sanggup merusak hubungan persaudaraan sesama manusia.

“Cieee” hanya satu kata. Tapi ia boleh jadi akan menghanguskan amal shaleh seseorang. Pastinya frasa ini hanya mewakili sekian banyak padanan kata atau kalimat serupa lainnya.

Ketika seseorang hendak membiasakan ibadah sunnah, shalat sunnah misalnya. Lalu sontak kawannya menyorakinya dengan kata “cieee, ada yang lagi shalat sunnah” atau bentuk kalimat godaan lainnya.

Meski awalnya semata guyon atau hanya mengggoda, namun candaan terus menerus bisa menggores memicu timbulnya sesuatu di dalam hati kawan tersebut. Perasaan ingin dipuji diam-diam merayap tumbuh tanpa disadari.

Niat melakukan amal shaleh yang mulanya murni karena Allah mulai tercemari dengan kata cieee yang dilontarkan saudaranya.

“Cieee” hanya satu kata. Tapi ia sanggup merontokkan ukhuwah. Dalam berukhuwah, candaan terkadang dibutuhkan untuk mencairkan suasana dan merekatkan ukhuwah.

Namun canda yang berlebihan atau tidak pada tempatnya juga bisa merontokkan ukhuwah yang terjalin. Dalihnya mungkin baik ingin seru-seruan atau sekedar bercanda.

Namun, karena mendapat sorakan “cieee” terus menerus, ada kalanya seseorang menjadi jengah dan berubah jadi jengkel. Alih-alih suasana “seru” justru canda yang berlebihan atau tidak pada tempatnya hanya membuat orang lain merasa terganggu.

Hati-hati, hal ini penting diperhatikan. Sebab tak sedikit seseorang menarik diri dari amal kebaikan atau kegiatan sosial justru akibat ulah orang-orang di sekitarnya yang selalu menyorakinya, meski dengan niat bercanda atau seru-seruan.

Yang ironis, jika seorang muslimah urung berhijab gara-gara sorakan “cieee” yang saban hari didengarnya. Sebagaimana seorang Muslim yang jadi malas ikut shalat berjamaah dan kegiatan pengajian di masjid akibat ulah tetangganya yang bersorak “cieee” setiap waktu kepadanya.

“Cieee” hanya satu kata. Tapi ia sanggup menghembuskan fitnah. Fitnah bisa menghancurkan izzah (kemuliaan) Muslim dan iffah (kesucian) Muslimah.

Jangan bermain api dengan kata “cieee” untuk menggoda saudara seiman dalam urusan prinsip. Menjodohkan ikhwan “A” dan akhwat “B” misalnya yang lalu disoraki setiap saat dengan kata-kata “cieee”.

Perkara demikian adalah disukai oleh setan. Setan merasa punya dukungan untuk menggelincirkan seorang muslim dalam perzinahan dan perbuatan keji lainnya.

Tanpa dasar, ada rasa yang merekah di hati mereka berdua. Parahnya, virus itu makin menyebar berubah menjadi desas desus di lingkungan mereka. Ibarat api yang menjilat dedaunan kering. Api fitnah itu begitu cepat dan mematikan.

Padahal, hanya berawal dari kata “cieee” yang maksudnya bercanda. Namun, ketika ia berlebihan, sekali lagi, yang terjadi justru memberaikan ukhuwah serta merontokkan kemuliaan seorang muslim dan muslimah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya. Dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna. (Surah al-Mukminun [23]: 1-3).

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak berguna baginya.” (HR. At-Tirmidzi).

Sudah selayaknya setiap muslim menengok bilik-bilik hati masing-masing. Sebab ternyata ada ucapan dan perilaku yang terkadang dianggap remeh, justru bernilai besar di sisi Allah dan manusia.

Saatnya bermawas diri dari tipu rayu dan bisikan halus setan (talbis iblis). Rayuannya tak pandang bulu terhadap manusia apakah dia ulama atau awam, kiai atau santri, qari’ (pembaca) atau mustami’ (pendengar) al-Qur’an, ahli ibadah atau bukan.

Hendaknya sesama muslim saling menasihati dan menguatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Jikapun ingin bercanda, maka semuanya memiliki batas kewajaran dan tuntunan dari agama.

Dalam berinteraksi apalagi dengan sesama muslim, tentu ada adab yang harus diperhatikan. Ada manfaat yang mesti ditimbang sebagaimana ada mudharat yang wajib selalu dijauhi untuk diri dan orang lain.

____________
MUSTABSYIRAH,
penulis adalah pengurus Annisa Hidayatullah, Samarinda, Kalimantan Timur.

Senin, 14 Desember 2015

Peran Muslimat dalam Kepemimpinan Keluarga

Oleh Sulastri*

BERBICARA tentang wanita sebagai individu dan sebagai istri. Kadangkala peran wanita sering mengalami tumpang tindih karena keduanya pada satu waktu bisa berjalan bersamaan.

Dan, kedua hal tersebut, seringkali tidak disadari oleh para wanita. Disinilah letak kehebatan wanita dimana kemampuan generik itu tak dimiliki oleh umumnya lelaki.

Maka disinilah dibutuhkan kedewasaan dan kemampuan kaum wanita -terlebih lagi laki-laki- untuk memahami kondisi tersebut. Sehingga, semua akan berjalan baik. Kemampuan mengkolaborasi peran-peran mulia kodrati tersebut merupakan tantangan wanita shalihah.
   
Sebagai individu, wanita memiliki tanggungjawab terhadap diri sendiri. Sebab, sejatinya, setiap individu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya selama hidup di dunia.

Rasullullah Shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan ditanya terhadap apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dari keluarganya dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanya tentang orang yang dipimpinnya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya” (HR. Bukhori dan Muslim).
   
Sebagai individu, wanita juga memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu dalam rangka mengembangkan pengetahuan diri tentang apa saja, terlebih lagi ilmu agama (diniyah). Siapapun muslimat pasti mendabakan kehidupan yang bahagia dunia-akhirat dengan berpedoman pada syariat Islam.

Karena itulah, Allah dan Rasul-Nya memerintahkan tiap muslim dan muslimat untuk menuntut ilmu, seperti sabda Rasulullah yang artinya: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim dan muslimah“ (HR. Ibnu Majah).
   

Ketika seorang pria atau wanita telah tiba waktunya untuk menikah, maka mereka hendaknya sudah memiliki bekal untuk mengarungi lautan bahtera rumah tangga. Rasulullah pernah memberikan kriteria-kriteria wanita yang umumnya didambakan oleh kebanyakan pria yakni karena kecantikannya, keturunannya, kekayaannya, dan kebaikan agamanya.

Tetapi Rasulullah menegaskan: “Hendaklah engkau memilih wanita yang baik agamanya, niscaya engkau akan beruntung (HR. Bukhari dan Muslim).
     
Wanita memiliki hak yang sama dengan pria dalam beramal shaleh dan tidak ada perbedaan di hadapan Allah Ta'ala dalam hal tersebut. Karena masing-masing akan mendapatkan pahala sesuai dengan amalannya.

Hal tersebut sebagaimana diterangkan dalam firman Allah dalam surah An Nisa ayat 124 yang artinya:

“Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak didholimi sedikit pun“.
     
Dalam firman Allah Ta'ala yang lain, juga menegaskan demikian. Seperti dinukil surah Al Ahzab ayat 35 yang artinya:

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, perempuan dan laki-laki mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”.
     
Pentingnya Ilmu

Wanita mukmin yang berilmu dengan yang tidak berilmu tentu tidaklah sama. Maka demikian, wanita yang berilmu bila sudah menikah akan menjalani hidupnya dengan sadar bahwa dirinya telah menjadi istri dari suami yang telah menikahinya.

Pada saat wanita sudah menikah maka status diri sudah berubah menjadi istri dan oleh karena itu wanita sudah berkewajiban untuk berkhikmad kepada suami hanya karena Allah semata bukan manusia. Dalam firman Allah yang artinya:

“Dan diantara tanda-tanda (kebesaranNya) ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya. Dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS. Ar Rum: 21).
     
Dalam surah Qur'an yang lainnya Allah Ta'ala berfirman yang artinya:

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-istri. Dan, mereka (istri-istri) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS. An Nissa’: 21).

Betapa jelas firman Allah tersebut bahwa pernikahan merupakan ikatan yang kuat dalam rangka membentuk keluarga yaitu baik suami maupun istri yang tidak ada paksaan dalam mengikat janji suci antar keduanya. Susah-senang dijalani bersama tanpa menyalahkan satu sama lain.

Pernikahan terjadi karena sudah ada kesepakatan bersama untuk saling percaya. Di dalam proses perjalanan menjalani hidup berkeluarga, kadang tidak selalu seperti yang diharapkan. Oleh karenanya, dibutuhkan komitmen suami-istri agar satu sama lain tidak terlalu mudah menuntut pada pasangannya.

Harus disadari bahwa masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu juga dengan hak dan kewajiban. Istri memiliki hak dan kewajiban terhadap suami begitu juga sebaliknya. Akan tetapi, bisakah bangunan keluarga dibangun di atas pondasi hak dan kewajiban semata? Tentu tidak.

Oleh karenanya, pasca mengikat janji suci, hubungan istri terhadap suami adalah lahir dan batin yang mesti terikat secara total. Dan, itu artinya, dalam suka dan duka, istri harus setia mendampingi suami dan juga sebaliknya. Demikianlah, karena tujuan hidup berkeluarga baik bagi suami maupun istri tidak sebatas mencari kebahagian atau kesenangan semata.
     
Rasulullah bersabda tentang istri yang shalihah dambaan para suami:

“Jika dilihat suami menyenangkan, jika diperintah suami dia taat, jika suaminya sedang pergi ia mampu menjaga harta dan kehormatan, dan tidak akan pernah memasukkan ke dalam rumahnya lelaki yang bukan mahramnya“ (HR. Abu Daud).
     
Dengan demikian, wanita diciptakan Allah dengan tujuan agar wanita mampu memberikan ketentraman kepada laki-laki. Manakala suami sedang dalam kondisi tidak tenang, resah, dan gelisah, maka istri harus mampu memberikan ketenangan, hiburan, dan siap menjadi tempat bagi suaminya untuk berkeluh-kesah mengungkapkan perasaannya.

Istri merupakan pelabuhan bagi suami. Disanalah tempat suami menyandarkan kapal sebagai tempat istirahat, menghilangkan segala kepenatan selepas berlayar dengan berbagai problem selama dalam pelayaran.

Istri merupakan partner bagi suami dalam mengarungi samudera kehidupan yang terbentang luas. Semakin ke tengah semakin besar pula gelombang yang menerjang. Oleh karenanya dibutuhkan kerja sama yang baik agar sampai tujuan dengan selamat. Karena sejatinya setiap muslim hidup mulia di dunia dan bahagia di akhirat. Insya Allah.
____________
SULASTRI, penulis adalah Ketua DPW Muslimat Hidayatullah Jawa Timur.



Kamis, 03 Desember 2015

Munas IV Mushida dan Peradaban Islam

Oleh Dewi Maslikah

ADALAH Khadijah binti Khuwailid. Beliau wanita mulia, istri dari manusia paling mulia sejagad raya, yang patut kita jadikan teladan sebagai Muslimah sejati.

Khadijah dipilih Allah untuk mendampingi Rasulullah karena berbagai kelebihan yang dimiliki. Kemuliaan nasab dan akhlak, kedermawanan, ilmu dan pengorbanannya. Khadijah adalah wanita terbaik pada masa itu.

Khadijah adalah penopang dakwah Rasulullah dalam memperjuangkan agama Allah. Beliau adalah pendukung utama Rasulullah dalam hal materi dan non materi. Keikhlasan, kesetiaan, cinta, harta, bahkan jiwa siap beliau dermakan sehingga Islam dapat tegak di muka bumi.

Sungguh pantas kiranya, ketika Rasulullah bersabda: "Ada 4 wanita paling mulia derajatnya di sepanjang sejarah manusia. Yaitu Asiyah istri firaun, Maryam ibunda Nabi Isa, Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Rasulullah. Mereka adalah wanita penghulu surga. Masya Allah.

Kembali pada masa sekarang, kembali kepada diri kita pribadi, sebagai muslimah sejati, kader dan daiyah Muslimat Hidayatullah, sudahkah kita berkorban untuk agama ini?

Sudahkah kita menjadi penopang gerakan dakwah suami kita? Sudahkah kita menjadi pendukung utama gerakan dakwah suami kita? Sudahkah kita mengorbankan harta dan jiwa kita demi tegaknya peradaban Islam, cita-cita mulia kita bersama?.

Mari kita bangkit sebagai penggerak dan bukan sekedar penggembira. Mari menunjukkan karya nyata kita, dengan mendidik anak-anak kita memahami Al-Qur'an sehingga kelak mereka menjadi generasi sholeh yang menjaga izzah Islam. Generasi yang kelak bisa menegakkan peradaban Islam setidaknya dalam lingkup pribadinya.

Sungguh, di balik figur lelaki yang hebat adalah seorang wanita yang hebat pula, Insya Allah. Wanita itu adalah kita, Muslimat Hidayatullah.

Membangun peradaban Islam tidak melulu dalam skala yang terlalu melangit. Bahkan peradaban Islam bisa ditegakkan melalui medium-medium terkecil. Demikianlah pesan yang juga pernah disampaikan oleh Ustadz Abdul Mannan selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah saat menutup Munas III Mushida dan Kongres Tokoh Perempuan Daerah di Jakarta tahun 2010 lalu.

Beliau berpesan bahwa dengan berperan mewujudkan keluarga muslim sakinah dan mawaddah merupakan bagian peraga penting tercapainya sebuah peradaban.

Melalui program-program yang selama ini menjadi konsentrasi Mushida yaitu pendidikan dan dakwah terutama pendidikan Tingkat Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) serta pembinaan keluarga Muslimah. Diharapkan kemudian pengurus Mushida perlu memperhatikan program itu karena bagaimanapun keluarga adalah tiang negara.

Dekadensi moral yang menyerang generasi muda bisa dicegah dengan pendidikan intensif di lingkungan keluarga. ”Apalagi usia dini paling sensitif dengan doktrin-doktrin agama, disitulah Mushida harus berperan,” demikian pesan Ustadz Mannan yang juga merupakan tokoh senior Hidayatullah.

Akhirnya, kami mengucapkan selamat ber-Musyawarah Nasional yang ke IV Muslimat Hidayatullah yang tinggal menghitung hari. Semoga Allah senantiasa meridhai setiap gerak langkah kita. Aamiin.

___________
DEWI MASLIKAH, penulis adalah Ketua DPW Muslimat Hidayatullah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

Senin, 24 Agustus 2015

Superioritas Muslimat Hidayatullah

FAKTANYA bahwa, wanita memiliki "superioritas" yang barangkali tidak dipunyai kaum Adam.

Superioritas itu adalah tingginya respon sosial dan emosionalitas mereka terhadap komunitasnya dan juga lingkungan sekitarnya.

Saya melihat genologi kultur tersebut sangat terinternalisasi di kalangan Muslimat Hidayatullah, khususnya di Depok, Jawa Barat, dimana saya berdomisili.

Inilah tradisi spontanitas yang menurut saya luar biasa yang barangkali juga telah menjadi kultur Muslimat Hidayatullah di mana pun berada. Mengenai hal ini saya akan ceritakan lebih lanjut. Next.

Belum lama ini, atau tepatnya pertengahan Februari lalu hingga Maret 2015, saya diserang sakit typus. Sebelum sakit ini benar-benar terdiagnosis sebagai virus types oleh dokter, kurang lebih 2 pekan saya sempat meriang, nyeri persendian, muntah, panas dingin, pilek berat, dan batuk.

Saya sama sekali tidak menyangka jika ternyata ini gejala typus. Sebab, kadang-kadang saya merasa segar di sore hari dan akhirnya tetap turun bermain futsal. Walaupun masih terasa sakit kepala dan pilek, saya anggap ini sakit flu biasa yang akan sembuh dengan sendirinya setelah olahraga.

Justru, saya berfikir mungkin ini chikungunya. Chikungunya biasanya gejalanya nyeri tubuh persendian dan ini yang saya rasakan sangat dominan. Tubuh terasa berat diajak berkompromi. Kalau berwudhu dinginnya bukan main.

Akhirnya, setelah cukup lama terbaring dan tidak bisa beraktifitas banyak di luar rumah, istri mendesak saya untuk periksa ke dokter. Sejak awal istri saya memang sudah mendesak dilakukan medical checkup karena khawatir ada apa-apa, atau malaria begitu.

Tapi ah saya pikir ini sakit biasa saja, paling-paling kalau dibawa mandi jam 3 dini hari akan kembali segar lagi keesokan harinya.

Namun, anehnya, beberapa kali saya mandi di jam-jam sebelum shubuh tersebut, keesokan harinya malah sakit kepala dan panas kepala.

Padahal biasanya kalau diserang flu berat, obat andalan saya cukup mandi dan siram kepala sebanyaknya sebelum shubuh. Tetapi kali ini ternyata tidak mempan.

Akhirnya saya periksa diantar pakai motor oleh sahabat baik saya, Irdo, ke Klinik Naura Medika di Depok Timur.

Waduh, rupanya sangat tidak nyaman naik motor dikala sakit seperti ini. Perut rasanya sakit sekali. Tulang punggung juga begitu.

Di klinik saya banyak berkonsultasi dan memuntahkan semua keluhan yang kurasakan di depan dokter.

Di situ juga dokter, sayangnya saya lupa namanya, seorang laki-laki, menyuruh dilakukan cek darah. Dan, kesimpulannya, saya sakit typus!

*******************

Anda tahu, pihak yang sejak awal memberikan perhatian serius terhadap saya dan keluarga karena ketidakstabilan fisik ini, adalah ibu-ibu Muslimat Hidayatullah.

Bahkan, Ketum PP Mushida, Ibu Reni Susilowati sempat beberapa kali bertandang ke rumah dengan membawa berbagai jenis makanan dan buah termasuk obat-obatan alami untuk memupus typus ini.

Sekitar 3 hari berturut-turut ibu-ibu dari Mushida datang silih berganti yang diterima oleh istri saya. Saya hanya bisa meringkuk di kamar.

Tidak ketinggalan Sekjen PP Mushida, Ibu Amaliah Husna Bahar, yang bahkan datang menjemput saya menggunakan mobil untuk checkup ulang ke rumah sakit dan adapun soal biaya, "Tidak usah dipikirkan," kata beliau.

Juga atas arahan dan dukungan Ketua Annisa Hidayatullah, Ibu Neny Setiawati, yang
begitu intens akhirnya kami juga dapat melakukan pemeriksaan darah untuk memastikan sakit apa yang sedang mendera ini. Terimakasih, ibu-ibu sekalian.

Saya merasa sangat terharu dengan perhatian-perhatian yang luar biasa tersebut. Saya akhirnya dalam hati malu sendiri yang selama ini tak jarang memandang negatif setiap kegiatan halaqah Muslimat Hidayatullah.

Mereka memang pasti "mattoge" atau apalah namanya kalau sudah ngumpul, tetapi di balik itu mereka adalah para muslimah yang penuh kepedulian dan penuh simpati.

Dukungan mereka spontanitas karena memang tradisi ini sudah lumrah di kalangan Muslimat Hidayatullah Depok.

Memang, di waktu bersamaan istri saya sedang hamil tua. Tapi, saya yakin, bukan kondisi itu yang menjadi asbab Muslimat Hidayatullah segera memberikan simpati dukungan buat kami yang -sekali lagi- sangat luar biasa.

Sebab, sejauh yang saya ketahui, tradisi solidaritas ini telah menjadi kultur di dalam tubuh Muslimat Hidayatullah. Itu yang saya ketahui dan saya yakin budaya ini masih langgeng hingga kini di mana pun Mushida berada. Insya Allah. 

Di awal tuturan ini, saya memberi tanda petik pada kata "superioritas", yang bermakna bahwa betapa ibu-ibu yang telah melahirkan kita adalah wanita yang teramat luar biasa jasanya yang kadangkala tak selalu mendapat apresiasi.

Mereka memang superior yang seiring dengan kodrat kewanitaannya. Tapi, yang pasti, mereka tidak berarti memaksa diri menjadi dominan lalu mengesampingkan keluhuran ajaran Islam dalam strata sosial. Inilah sesungguhnya keunggulan wanita yang terkadang sepi -kalau tidak mau disebut lupa- dari penghargaan kita, para suami.

Superioritas muslimah ini terbingkai indah dalam beludru lembut yang seturut merawat ketajaman intelejensi dan sensitifitas kegamaan mereka.

Mereka tak butuh panggung mengeskpresikan diri untuk mempresentasi kecakapan akademis, kiprah-kiprah nyata mereka di berbagai sektor khususnya pendidikan sudah cukup menjadi bukti otentik kesejarahan yang mereka ukir.

Tidak berlebihan rasanya kalau saya mengatakan mereka inilah para wanita tangguh yang bahkan berusaha terus menyetarai kiprah-kiprah ummahat di masa dahulu kala. Mereka tampaknya memang tak terlalu peduli dengan materi, kendati kerapkali harus pulang di senja hari.

Saya tahu, gaji mereka di sekolah tak seberapa, bahkan hanya secerca. Tapi demi generasi pelanjut risalah suci, mereka rela berjibaku dengan berbagai beban tugas-tugas bahkan kadang hingga dini hari. Apalagi kalau bukan buat RPP. :)        

Saya betul-betul sangat kekurangan kosa kata untuk mengutarakan kalimat penghargaan dan terimakasih setingginya untuk semua pihak yang telah membantu kami terutama Muslimat Hidayatullah selama masa-masa kritis tersebut.

Akhir kata, hanya Allah Subhanahu Wata'ala yang layak memberikan balasan terbaik atas kebaikan Ibu sekalian. Kami memastikan tidak bisa membalas kebaikan-kebaikan tersebut dengan setimpal. Sungguh.

___________
ABDULLAH, penulis adalah suami dari seorang anggota Muslimat Hidayatullah Depok. 

Jumat, 24 April 2015

Keyakinan yang Menepis Segala Keraguan

Oleh Sarah Zakiyah*

PERJALANAN manusia mencari tuhan telah dimulai sejak manusia itu ada, sama lamanya dengan pencarian jati diri manusia itu sendiri.

Kajian tentang manusia dan tuhan mungkin terus berlanjut hingga berakhirnya kehidupan dunia. Persepsi tentang tuhan yang dihadirkan pun bermacam-macam. Tengoklah misalnya pendapat sarjana barat Karen Armstrong, penulis buku Sejarah Tuhan, yang menyebut tuhan sebagai figur kabur yang hanya bisa diidentifikasi dengan abstraksi intelektual.

Ulama Islam pun banyak sekali membahas tentang masalah ini. Mulai dari tulisan mereka yang  menyangkal syubhat Tauhid hingga kaidah-kaidah yang dijadikan landasan dalam memahami Tuhan.

Lalu pertanyaannya, apa sebenarnya yang menjadi sebab sehingga pembahasan ini seperti tak kunjung usai? Mari kita bahas sedikit di sini.

Keberadaan manusia, alam, dan seisinya mengusik akal untuk mengetahui siapa pencipta. Manusia ingin menemukan gerangan siapa desainer di balik keberadaan-Nya. Akal manusia yang pada dasarnya limited terus berusaha mengungkapkannya dalam kata dan menjelaskannya dengan segala hal yang dapat dirasakan dan dilihat inderawi.

Manusia-manusia yang mengedepankan logika berusaha mememukan tuhan yang ghaib (abstrak) dan memaksa melakukan interpretasi ilmiah agar tuhan bisa dibuktikan keberadaannya secara kasat mata (konkrit). Usaha-usaha imanensi tanpa keyakinan Tauhid terhadap hal ihwal transenden pun pada akhirnya tak menyimpulkan apa-apa selain kebingungan.

Pembahasan ini makin meruncing saat manusia berkubang dalam lumpur kejahiliaan, keadaan di mana manusia menolak petunjuk dari Allah. Penolakan itu karena hawa nafsu menjadi lentera utama yang diletakkan di depan menjadi penuntun mereka menelusuri jalan kehidupan ini.

Keesaan Allah diingkari karena menurut mereka akal dan logika tidak menjumpai tuhan secara konkrit. Pada tingkatan yang parah, kita menyaksikan dan membaca betapa banyak pernyataan yang mereka ucapkan tentang keingkaran mereka, misalnya; “Tuhan telah Membusuk, “Menggugat keberadaan Tuhan”, “Tuhan telah mati”, dan lain sebagainya.

Inilah keadaan jahiliyah yang lebih parah dari kejahiliaan yang ada pada kaum badui sebelum kedatangan Muhammad Rosulullah SAW. Mengapa demkian? Karena kaum yang hidup di zaman nabi adalah umat yang tak mengenal ilmu, sedangkan sekarang ilmu pengetahuan dapat dengan mudah didapatkan.

Ilmu yang seharusnya menjadi alat mendekatkan diri kepada Allah yang transenden, malah mereka jadikan barometer ada atau tidak adanya Allah. Ma’adzallah!. 

Inilah kesalahan terbesar akal, yang saat ini dijadikan barometer segala hal oleh manusia. Lupa akan hakikat diri bahwa ia ada karena ada Dzat yang membuatnya ada. Hawa nafsulah yang mengusai hati dan jiwa manusia membutakan fitrah yang mereka miliki.

Keangkuhan intelektual telah menulikan telinga dan menumpulkan hati nurani manusia hingga mereka tak dapat menyaksikan kebenaran sebagaimana Allah firmankan dalam QS. Al-Jatsiyah:

“Maka apakah kamu memperhatikan orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Ilah / sesembahan, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya, maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat, apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”.

Kemampuan akal manusia yang limited tidak akan bisa menjangkau eksistensi Allah Ta’ala sebagai Dzat yang tidak terbatas (unlimited). Tafsir liar tentang tuhan yang keluar dari akal manusia yang terbatas kemampuannya itu adalah suatu keharaman dalam agama.

Rasulullah Shollallahu alaihi wa sallam bersabda memperingatkan sebagaimana termaktub dalam Mu’jam Ath-Thobari dari sahabat Ibnu Umar Radhiyallaahu anhu:

“Berfikirlah kalian akan tanda-tanda kekuasaan Allah, dan janganlah berfikir tentang Dzat Allah“.

Segala cara yang ditempuh untuk menghadirkan Allah secara konkrit tak akan membuahkan hasil. Sebab, kemampuan akal manusia terbatas. Dan, mengerahkan segala usaha untuk hal ini akan membawa pada kebinasaan manusia.

Abu Ja’far Athohawi dalam Al-Aqidah Athohawiyah mengatakan, “Allah itu tak akan mampu digapai oleh khayal, tak akan sampai akal memikirkan dan tak akan pernah meyerupai makhluk-Nya“.

Dalam literatur klasik Islam telah dijelaskan bahwa untuk mengetahui tentang sesuatu langkahnya adalah kita harus menyaksikannya secara langsung tetapi ini tidak mungkin dilakukan pada Allah sebagai Dzat transenden. Dalam surah Al An’am: 103 Allah berfirman: “(Allah ) tak dapat ditembus penglihatan dan Dialah yang dapat menembus segala penglihatan,”. 

Sehingga, mengukur, mengqiyaskan, atau menyerupakan Allah dalam figur konkrit adalah sesuatu yang terlarang. Ini pun mustahil bagi Allah karena Allah tidaklah menyerupai apapun. Ini sebagaimana firman-Nya dalam surah Asysyura ayat 11: “Tidak ada sesuatu pun yang menyerupaiNya , dan Dialah Maha Mendengar Maha Mengetahui“.

Konsep mengenal Tuhan adalah menghukumi sesuatu dan mengetahuinya dari jejak yang terlihat dan dapat disentuh. Seperti inilah mengenal Allah, tak perlu melihat Dzat-Nya, cukup tanda-tanda keberadaan-Nya yang dapat dilihat pada diri manusia sendiri, alam semesta dan jagad raya.

Demikianlah perintah Allah kepada manusia agar memahami dzatnya yang mulia. “Tidakkah mereka merenungkan apa yang ada pada diri mereka (Ar Ruum:8). “Tidakkah mereka memperhatikan apa yang ada pada  kerajaan langit dan bumi" (Al ‘Araf:185). 

Akhirnya, tak sepatutnyalah manusia menafikan keberadaan Allah karena Allah tak dapat ditembus panca indera. Bukankah keberadaan siang hari tetap ada walaupun mata kelelawar tak dapat menembusnya.

Begitulah keberadaan Allah. Dia ada tapi hati manusia yang tertutup dengan dinding kesombongan yang tak patut ada, menghalanginya dari melihat Allah.

Ibnu  Athoillah dalam Al-Hikam memberi hikmah :

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ كُلَّ شَيْءٍ

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ فِي كُلَّ شَيْءٍ

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ  بِكُلَّ شَيْءٍ

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي ظَهَرَ لِكُلَّ شَيْءٍ

كَيْفَ يَتَصَوَّرُ أَنْ يَحْجُبُهُ شَيْءٌ وَهُوَ الَّذِي أَظْهَرَ مِنْ كُلَّ شَيْءٍ

“Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab (tertutupi oleh sesuatu), sedangkan Dia yang menamapakkan segala sesuatu

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab (tertutupi oleh sesuatu), sedangkan Dia tampak pada segala sesuatu

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab (tertutupi oleh sesuatu), sedangkan Dia tampak pada sebab segala sesuatu

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab (tertutupi oleh sesuatu), sedangkan Dia tampak untuk segala sesuatu

Bagaimana bisa dikatakan bahwa Allah terhijab (tertutupi oleh sesuatu), sedangkan Dia lebih tampak dari segala sesuatu“


____________

SARAH ZAKIYAH, penulis adalah Pengurus PP Muslimat Hidayatullah.

Rabu, 25 Maret 2015

Muslimah WAH!

BELUM lama ini saya menemukan sebuah artikel di internet. Artikel tersebut mengulas tentang peran wanita dalam dunia kerja. Artikel yang berjudul “11 Alasan Sah Kenapa Cewek Perlu Bekerja, Bukan Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga” cukup menggelitik. Setidaknya ada beberapa poin yang menurut saya menarik dicermati.

Diantaranya disebutkan bahwa budaya kita masih kental dengan patriarki, yaitu menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial dan dianggap memiliki otoritas terhadap perempuan, anak-anak, dan harta benda. Itulah sebabnya, kata artikel tersebut, kita seringkali menyepelekan perempuan.

Mengutip survei sebuah perusahan riset, GallUp, yang berdiri sejak 1969, bahwa pada 1000 responden, artikel itu menyebutkan, tercatat 28% kasus depresi dialami para ibu rumah tangga sedangkan hanya sekitar 17% yang dialami ibu rumah tangga yang bekerja.

Elizabeth Mendes, kepala editor dari Gallup dalam artikel itu bilang, bahwa pekerjaan memang bisa jadi sumber kebahagiaan bagi para ibu. Hal ini lantaran kesibukan di tempat kerja bisa membuat para ibu terhindar dari emosi-emosi negatif seperti marah, sedih, stres, atau khawatir.

Artikel itu juga merilis penelitian yang dipublikasikan American Psychological Association yang menemukan sedikit bukti bahwa keputusan ibu untuk bekerja akan mempengaruhi perkembangan perilaku anak, menjadi nakal misalnya. Argumen ini untuk mematahkan kepercayaan bahwa pilihan ibu untuk bekerja bisa mempengaruhi pertumbuhan emosi anak.

Kesimpulannya, artikel ini mendorong wanita untuk bekerja di luar rumah. Menurutnya, selama ibu punya jam kerja yang normal dan bisa menyeimbangkan antara pekerjaan dan komitmen sebagai orang tua, keputusan untuk bekerja bukanlah masalah bagi tumbuh kembang emosi anak.

Anomali
Tentu kita boleh saja tidak setuju dengan pandangan di atas. Apalagi data studi kasus yang diajukan bersumber dari perilaku hidup di Amerika Serikat. Kultur sosial di Barat tentu saja berbeda dengan kondisi dan tradisi kita di Indonesia dengan adat ketimurannya.

Agama kita seseunggunya telah memiliki panduan paripurna yang mengatur bagaimana sebenarnya kedudukan laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya Islam tidak membeda-bedakan kedudukan antara pria dan wanita. Kita semua sama derajatnya di sisi Allah Subhanahu Wata’ala, yang membedakan adalah takwanya.

Dalam konteks apa yang dikemukakan di awal, Allah Ta’ala denan terang memerintahkan para wanita muslim untuk tetap menjaga kehormatannya dengan tidak meninggalkan rumah sebagaimana dalam firman-Nya pada Surah Al Ahzab ayat 33:

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan perihal ayat ini yakni larangan kepada wanita atau para istri untuk tidak meninggalkan rumah kecuali ada kebutuhan dan alasan yang dibenarkan syariat. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/409).

Dalam Islam, kedudukan laki-laki adalah sebagai kepala keluarga. Sehingga, di pundak laki-lakilah tanggung jawab utama pemenuhan kebutuhan lahir batin keluarga. Agama kita juga sangat proporsional dalam membagi tugas rumah tangga di mana sang bapak selaku kepala keluarga mengemban utama dalam di luar rumah seperti mencari nafkah. Sementara ibu memiliki tugas utama yang mulia, yakni memanajeri segala urusan kerumahtanggaan.

Proporsionalitas yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala tersebut tak lain adalah merupakan bangunan relasi gender yang adil, sepadu, dan kolaboratif. Adapun perspektif absurd yang dikonstruksi oleh Barat dilandasi oleh sentimen gender yang menuntut persamaan dalam segala hal. Sentimen yang dipengaruhi oleh sejarah kelam Barat itu kemudian lebih menyiratkan siklus kontestasi serta kompetisi yang bertujuan mencerabut fitrah kemanusiaan dan kewanitaan.

Padahal, Allah Ta’ala dengan jelas telah menerangkan bahwa secara lahiriah antara laki-laki dan perempuan itu berbeda. Secara fisik, laki-laki lebih kuat ketimbang wanita. Karenanya, laki-laki di dalam Islam berkewajiban mencari nafkah. Norma-norma ini terkandung dalam firman-Nya:

Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka” (QS. An-Nisa: 34).

WAH dan SAH!
Memang, bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syariat.

Dinukil dari perkataan ulama terkemuka, Syaikh Abdul Aziz Bin Baz, beliau mengatakan “Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Allah jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hambanya untuk bekerja sebagaimana dalam firman-Nya:

“Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! maka Alloh, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu“ (QS. At-Taubah:105)

Dalam sejumlah literatur, dijelaskan bahwasanya perintah Allah dalam ayat di atas mencakup pria dan wanita. Bahkan dalam firman-Nya yang lain, Allah Ta’aala dengan terang memerintahkan umat Islam untuk berbisnis. Dia yang Maha Mulia memerintahkan hamba-Nya, baik laki-laki maupun perempuan, untuk selalu berikhtiar dan bekerja, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar, akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela diantara kalian” (QS. An-Nisa:29).

Kendati demikian, tentu saja tetap ada koridor dan adab Islam yang mesti diperhatikan dalam mencari nafkah atau berbisnis baik dalam konteks berniaga ataupun menjual jasa keahlian yang dimiliki.

Kegiatan usaha sebagaimana diatur dalam agama kita harus bebas dari perkara mungkar. Termasuk dalam hal ini, seorang wanita yang bekerja hendaknya tidak berikhtilath (bercampur) dengan pria dan tidak pula menimbulkan fitnah.

Serta, tetap dalam panduan syariah di mana pekerjaan yang dilakoni muslimah jangan sampai mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah, ada izin suami, dan hendaknya pekerjaan yang digeluti sesuai dengan tabiat wanita seperti dokter, pengajar, perawat, penulis artikel, buku, dan lain sebagainya.

Namun, untuk tetap terjaganya kehormatan dan tak terbengkalainya kewajiban-kewajiban utama, ulama mendorong mukminat yang memiliki minat serta bakat bekerja menambah nafkah keluarga untuk terlebih dahulu mencari pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah.

Saat ini salah satu yang mungkin dilakukan muslimah untuk bekerja tanpa harus rutin keluar rumah adalah berbisnis online. Perkembangan teknologi informasi dan internet saat ini begitu massif. Ini beriring dengan pertumbuhan bisnis di dunia virtual. Sementara pengguna internet di Indonesia sendiri jumlahnya kini lebih 80 juta dan lebih 3 miliar penggunanya di seluruh dunia dari 7 miliar penduduk dunia.

Tidak ada salahnya muslimah untuk memanfaatkan peluang ini untuk bekerja tanpa harus keluar rumah. Selain menjadi muslimah WAH (Work at Home), dengan berbinis lewat internet, ini juga SAH!. Stay at Home!.

Umumnya umat Islam, khususnya muslimah, masih antipati terhadap teknologi internet bahkan cenderung menjadi pengguna pasif. Memang, internet bagai dua sisi mata pisau. Ada negatifnya, tapi sisi positifnya juga tidak sedikit. Namun kebanyakan kita masih terpaku pada persepsi yang relatif keliru bahwa internet berbahaya sehingga harus dijauhi.

Padahal, tidaklah demikian. Faktanya, hampir semua aspek duniawi dalam hidup kita selalu ada sisi negatifnya yang dianggap berbahaya. Sehingga kalau internet dijauhi karena banyak mudharat membahayakan, sebaiknya kita juga menghindari naik motor karena sewaktu-waktu kita bisa saja jatuh atau tertabrak. Jadi, intinya, mari menjadi pengguna internet yang pintar, cerdas, dan bijak.

Tidak sedikit muslimah yang bisa sukses berbisnis di dunia maya tanpa harus meninggalkan kewajiban di rumah. Ada yang berjualan busana muslim yang beromset ratusan juta rupiah, ada yang menjadi penulis artikel, ada yang berjualan kue dalam kemasan, bahkan ada yang menciptakan aplikasi online untuk umat. 

Tetapi, tentu saja, untuk membangun usaha rintisan (startup) internet membutuhkan konsep yang bagus serta komitmen yang kuat. Sebab, setiap usaha apa pun yang dilakukan, selalu menuntut adanya inovasi dan kerja keras terus menerus agar tetap familiar dan disukai pengguna.

Lebih dari itu, kita dituntut untuk membangun relasi, setidaknya dengan sahabat-sahabat kita yang memiliki visi dan minat bisnis yang sama. Semoga dari situ, tablet /iPad/ smartphone yang sehari-hari kita pegang tidak cuma untuk update status ataupun foto selfie, tapi juga mulai berdiring melaporkan notifikasi transaksi bisnis halal dan thayyib. Insya Allah. */

_______________
AINUDDIN CHALIK,
penulis adalah wartawan Hidayatullah.com. Pasca sunting artikel ini juga telah dimuat di Majalah Hidayatullah Edisi Maret 2015.

Sabtu, 12 Februari 2011

Muslimat Hidayatullah Harus Terus Berperan di Semua Sektor

MUSHIDA.ORG -- Dalam aktivitasnya, Hidayatullah maupun Muslimat Hidayatullah (Mushida) menekankan pada kegiatan di bidang pendidikan, dakwah dan sosial. Pemprov Kaltim mengharapkan agar semua bidang dan program kerja yang menjadi perhatian organisasi keagamaan ini.
Copyright Mushida.org © 2018 | Kontak Kami