Profil Singkat Muslimat Hidayatullah

Muslimat Hidayatullah (Mushida) adalah organisasi otonom yang berinduk pada ormas Islam nasional Hidayatullah yang dideklarasikan pada tahun 2000 bertepatan dengan Musyawarah Nasional (Munas) Hidayatullah pertama di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Pada periode pertama kepemimpinan Mushida, dipimpin oleh Sabriati Aziz sebagai ketua umum dan sekjen Irawati Istadi. Periode selanjutnya dipimpin oleh ketua umum, Reni Susilowati dan dibantu sekjen Amalia Husna Bahar.

Musyawarah Nasional IV Muslimat Hidayatullah di Kota Malang, Jawa Timur, kembali memberi amanah kepada Reni Susilowati Ketua Umum dan Leny Syahnidar Djamil sebagai Sekretariis Jenderal untuk periode 2015-2020.

Mushida merupakan organisasi otonom Hidayatullah, yang telah menjangkau seluruh provinsi dan memiliki Pengurus Wilayah (PW) serta ratusan Pengurus Daerah (PD) di seluruh Indonesia. Mushida bergerak dalam bidang dawah, pendidikan, sosial, ekonomi dengan fokus garapan adalah pemberdayaan wanita, keluarga dan anak.

Visi Mushida adalah “Membangun keluarga Qur’ani sebagai tonggak utama terwujudnya masyarakat bertauhid”. Untuk menggapai visi tersebut maka setiap program Mushida mengarah kepada pembentuk pribadi muslimah dalam menunjang perannya sebagai pribadi, istri, ibu dan sebagai anggota masyarakat.

Program pembinaan anggota berupa kegiatan majelis ta’lim yang dilaksanakan secara rutin. Pembinaan yang lebih intensif dilaksanakan melalui Halaqah Tarbiyah, kelompok belajar yang beranggotakan maksimal 10 orang dan dengan kurikulum yang telah ditentukan.

Selain Annisa, Korps Da’iyah Mushida (KDM) adalah divisi dari Mushida yang bertugas mempersipakan da’iyah yang akan diterjunkan langsung ke tengah-tengah masyarakat, dan senantiasa meningkatkan kuantitas dan kualitas da’iyah melalui berbagai kegiatan pengkaderan dan pelatihan rutin.

Di bidang pendidikan, Mushida mengemban amanah untuk mengembangkan lembaga pendidikan Hidayatullah pada tingkatan Taman Kanak-Kanak, Taman bermain, Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA). Untuk meningkatkan kualitas guru dilakukan pelatihan rutin, pembinaan manajemen, penerbitan bulletin hingga penyediaan tenaga guru.

Keluarga, diambil sebagai tema sentral perjuangan Muslimat Hidayatullah. Dari keluarga inilah dimulai pembangunan masyarakat. Peran muslimat sebagai istri dan ibu, pembentuk keluarga dan pendidik generasi penerus, merupakan investasi berharga yang akan menentukan nasib dan masa depan bangsa. Itu sebabnya mengapa perjuangan Mushida difokuskan ke arah ini.

Kesejahteraan keluarga, tidak hanya diukur secara fisik semata, tetapi juga diukur secara mental keruhanian. Maka pemberdayaan keluarga yang menjadi focus perhatian Mushida tidaklah semata meningkatkan kualitas keluarga secara fisik dan materi saja, tetapi juga peningkatan di bidang spiritual, akhlak, pengetahuan dan amal.

Dalam memerankan tugas sebagai istri dan ibu, maka para muslimat memegang peran utama dalam proses pemberdayaan keluarga ini. Mau tidak mau, orang pertama yang harus ditingkatkan kemampuannya dalam membina keluarga adalah dirinya sendiri. Karena pada akhirnya kualitas sebuah keluarga akan sangat tergantung dari kualitas ibu sebagai pengelolanya.

Maka dalam penjabaran program-programnya nanti, akan nampak besarnya kepedulian Mushida terhadap upaya-upaya peningkatan kualitas kehidupan keluarga melalui program unggulan parentingnya.

Selain ditujukan untuk meningkatkan kemampuan ibu dalam membina keluarga, juga meningkatkan kekompakan antara ibu dan ayah sebagai penanggung jawab utama dan pemimpin keluarga, dalam mengantarkan keluarganya menuju surga.
Copyright Mushida.org © 2018 | Kontak Kami