Sabtu, 03 September 2016

Sejarah Menakjubkan Nabi Dzulkarnain dan Kaitannya dengan Tembok China

Oleh Arviati Rohana*

MUKJIZAT adalah kehendak Allah Ta'ala yang diberikan kepada hamba yang dikehendaki-Nya. Salah satu diantara hamba Allah yang mendapatkan anugerah spesial untuk orang-orang shaleh tersebut adalah Nabi Dzulkarnain.

Namun, diantara kita masih banyak yang mungkin belum mengenal figur Dzulkarnain dengan berbagai keutamaannya sebagai manusia shaleh dan terkenal kecintaannya kepada Allah Ta'ala itu.

Berikut ini penulis mencoba menguraikan kembali sosok mulia ini yang kami kami kutip dari beberapa sumber dengan referensi (maraji') utama yaitu buku "Ya'juj dan Ma'juj" terbitan Al Mahira yang ditulis oleh Hamzah abu zaid bin Hamdi.

Dinasti Zhov: Guang Zhov = Tseng zhow adalah salah satu sumber yang mengarah pada nama Nabi Dzulkarnain. Dzu: ذ و ا: : orang yang memiliki.

Qornain: قر نين berarti dua tanduk. Disebutkan bahwa maksud dua tanduk adalah dua kepang rambut yang berkorelasi dengan sejarah rambut orang Cina.

Nabi Dzulkarnain adalah nabi dan rasul yang diutus oleh Allah ke negeri Cina. Ia berasal dari Mesir anaknya Raja Amenhotep II alias Fir’aun orang yang memusuhi Nabi Musa.

Nabi Musa pernah hidup satu istana dengan Nabi Dzulkarnain ketika dia diambil anak oleh  Asiyah istri Fir’aun.

Bisa dikatakan bahwa Siti Asiyah mengenal Islam dari Nabi Dzulkarnain yang dalam Al Qur’an disebut dengan orang beriman yang membela Nabi Musa. Ketika dihadapkan dengan para penyihir istana, nabi Dzulkarnain pula yang menghadapi para penyihir.

Setelah raja Fir’aun meninggal tenggelam di Laut Merah, nabi Dzulkarnain menjadi raja penerus Fir’aun tetapi ia membawa Islam seperti nabi Musa sehingga para dukun dan penyihir berbondong-bondong menyerangnya.

Allah memerintahkan nabi Dzulkarnain atau Akhnotan pergi ke tempat terbit dan tenggelamnya matahari yaitu pulau Maladewa, sebuah pulau kecil di tengah lautan Samudra Pasifik dan pulau Kiribati, pulau kecil di tengah laut.

Lalu Allah perintahkan berdakwah ke negeri Cina tepatnya ke pulau Henan ibukotanya Guang Zhou/ Thengzhou. Disanalah ia bertemu dengan raja Cina Chang Man yang negerinya sedang diserang oleh Negara-negara Ya’jouj (Ma'juj) dan Ma’jouj (Ma'juj).

Apa itu Ya'jouj dan Ma'jouj. Ya berarti penghuni. Jouj berarti di wilayah asia. Ma diartikan sebagai  menjijikkan, dan jouj berarti penghuni manusia kuda yaitu orang-orang koboi Siberia yang sangat kejam dan suka minum darah sehingga disebut bangsa menjijikkan.

Raja Chang minta tolong kepada nabi Dzulkarnain untuk membuat tembok besar Cina (Great Wall) untuk menghalangi serangan bangsa Siberia, Monggol, Tajikistan, Urbekistan dll yang disebut sebagai Ya’jouj.

Sedangkan bangsa-bangsa Asia seperti Korea, Vietnam, Jepang, Rusia, German, Armenia disebut sebagai Ma’Jouj.

Jadi, satu-satunya bahasa Cina yang diangkat oleh Allah dalam  bahasa Al Qur’an di  surat Al Kahfi  adalah kata Ya’jouj dan Ma’jouj.

Nabi Muhammad SAW pernah ditanya para sahabat maksud dari surat Al Kahfi tentang keberadaan Ya’jouj dan Ma’jouj sebagai bangsa perusak. Beliau menjawab mereka adalah orang yang matanya sipit rambutnya tipis juga ada yang tebal wajahnya rata seperti permukaan palu.

Selain itu Rasulullah Muhammad juga menerangkan, sosoknya mereka kulitnya kuning agak kecoklatan. Juga diterangkan Nabi Dzulkarnain, pada saatnya nanti tembok Cina akan runtuh, meleleh dengan takdir Allah.

Apabila tembok Cina terlihat agak kekuningan dan seperti besi bukan batu, itu karena nabi Dzulkarnain membuat dengan campuran timah dan besi panas. Wallaahu A'lam Bishawab.*
________
*) ARVIATI ROHANA, penulis adalah anggota Pengurus Daerah Muslimat Hidayatullah Kota Surabaya, Jawa Timur. Artikel ini telah dimuat sebelumnya di situs viral muslim masa kini www.pinopini.com
Copyright Mushida.org © 2018 | Kontak Kami