Meneguhkan Kiprah Kebangsaan Muslimat Hidayatullah

Pengabdian teguh meluas Muslimat Hidayatullah untuk agama dan bangsa Indonesia.

Sekuntum Bunga untukmu Wahai Pecinta Keluarga

Muslimat Hidayatullah menyadari beratnya tantangan kepengasuhan anak di masa mendatang.

Saudara Muslimahku Tetaplah Teguh Imanmu

Engkau tak sendiri, tetaplah tegar. Rahmat Allah SWT bagimu atas kesabaranmu

Berita Terbaru

Siaran Pers

Pengurus Pusat

Album Kegiatan

Annisa News

Senin, 07 Januari 2019

Pentingnya Sinergi Peran Kepengasuhan Ayah dan Bunda

ANAK harus dekat dengan ayah, juga ibunya. Jika memungkinkan porsi kedekatan dengan ayah dan ibunya harus sama. Kedekatan yang menciptakan anak-anak kita agar jauh lebih dekat dengan Rabb-Nya.

Ketika suami sedang emosi tinggi kepada anaknya, seorang ibu seharusnya menjadi tempat berlabuh anaknya ketika si anak sedang labil juga emosinya.

Dan ketika sang ibu sedang emosi kepada anaknya, maka sang ayahlah yang berperan menjadi tempat curhat bagi anaknya. Bukan orangluar, bukan tetangga, bukan temannya, apalagi curhat di sosial media.

Ketika sang ibu sedang emosi kepada anaknya, seharusnya ada ayah yang mendengarkan keduanya. Ketika sang ayah yang khilaf emosi, kemana ibu yang seharusnya mendampingi.

Namun jangan hanya ibu yang setia berperan mendampingi. Kemana sang ayah pergi? Akhirnya anak hanya dekat pada ibunya, tak mau dekat dengan ayahnya. Akhirnya hanya ibu yang menjadi sosok idolanya, ayahnya hanya menjadi sosok "ada dan tiada, maka sama saja".

Dan pula jangan hanya ayah yang dianggap idola bagi anaknya. Akhirnya anak menjadi tidak betah di rumah tersebab ibunya.

Ketika ayah tegas...
Peran ibu seharusnya lembut....
Ketika ibu yang tegas...
Ayah harus lembut...

Agar anak bisa belajar bahwa tak semua masalah manusia bisa di selesaikan dengan cara lembut kadang harus tegas, begitupun sebaliknya.

Agar orangtua adalah hakim yang paling bijak untuk semua persoalan anak ...
Tak menghakimi...
Tak mudah tersulut emosi...
Tak memaksakan kehendak...
Namun semua bisa terselesaikan dengan cara bijak...

Bukan hanya ibu yang bijak. Ayah juga bijak. Sehingga anak-anaknya di kemudian hari juga menjadi pribadi yang bijak. Bukan sosok yang memaksakan kehendak.

Jadi orangtua, jangan pernah mencari alasan ketika di nasehati anak. Jika salah, maka bilang saja salah. Jika benar, bilanglah benar.

Jangan sampai di kemudian hari anak-anak kita mencari cari alasan ketika salah, akhirnya berusaha mencari pembenaran, karena tanpa sadar, sesungguhnya orangtuanya sendiri yang  mengajarkannya.

Katakan padanya. Salah dan benar adalah manusiawi. Ketika benar jangan tinggi hati merasa akan benar terus. Ketika salahnya ketahuan, mintalah maaf secara gentle, tak perlu malu, bertobatlah.

Bilang juga padanya. Menang dan kalah adalah hal yang biasa. Justru lebih penting mengalah ketika sebenarnya kita mampu untuk menang jika itu demi sebuah kebaikan. Jangan menjatuhkan kehidupan oranglain jika hanya untuk memperturunkan Ego dan emosi.

Satu lagi...

Jika kita mampu mengerjakan sesuatu, kita pun harus faham bahwa oranglain pun bisa jadi lebih mampu, agar kelak kita tak menjadi sosok bahwa "hanya kitalah yang paling bisa dan mampu, paling baik, paling tau, paling faham, paling pintar, paling cerdas".

Padahal, semua hal tersebut orang pun berproses agar bisa melakukannya untuk menjadi mampu dan bisa. Semoga kita tak menjadi pribadi yang merugikan oranglain di masa-masa mendatang.

DEDE AGUSTINA

Minggu, 25 November 2018

Wangimu Silatnas

Oleh Bunda Cinta

Kutulis catatan ini. Saat suara khas penuh kharisma bapak pimpinan sedang mendayu di mesjid agung Ar Riyadh.

Kutulis bait demi bait menggambarkan pikiran jiwaku saat itu. Saat bapak pimpinan mengatakan satu kata untuk Silatnas adalah tercerahkan.

Maka kutulis. Kedatangan kita disilatnas bukan sekedar bertemu teman lama. Mengenang masa lalu yang penuh sejuta cerita.

Reuni dan bercanda ria dengan teman almamater. Melepas kangen dengan sanak keluarga.
Bukan sekedar ingin mencium kembali aroma wangi Gutem tercinta.

Bukan hanya sekedar itu. Namun ada yang lebih besar dari itu.

Kita datang ke Gutem dalam rangka Silatnas, adalah untuk mengecas kembali jiwa-jiwa yg haus akan semangat. Mencerahkan hati-hati yang layu di tempat tugas.  Membangkitan kembali ruh perjuangan yang hampir redup.  Membakar kembali raga-raga yg hampir padam akan beratnya rutinitas di tempat tugas.

Maka semua diatur panitia dan tuan rumah dengan segenap kegiatan-kegiatan berbobot dan bermutu.
Meminta kita yang antrian panjang mandi bergegas tak tertinggal tausiyah pagi dan maghrib.

Mengambil spirit perjuangan dari para asatidz yang tak pernah lelah dalam perjuangan mereka. Walau lelah mengelilingi tempat tempat yang jauh dari halaqoh kita.

Dari bapak pimpinan bahwa anak kambing akan dimakan serigala saat terlepas dari jamaah. Sungguh tak ada yang boleh berlepas diri dari jamaah, kebersamaan dan persaudaraan. Walau sekecil apapun bentuknya.

Belum lagi tausiyah Ustadz Abah Anwari yang membahas mengenai bahwa ritme dan jantung Hidayatullah sebagai gerakan berislam yang selaras dengan spirit Nubuwwah. Insya Allah menguatkan kepercayaan dan semangat kita dalam berjuang di lembaga kita Hidayatullah.

Belum lagi semangat yang ditularkan oleh ustadz terviral di zaman kita, Ust Naspi Arsyad, yang mengatakan yang muda yang harus bergerak dan melangkah cepat, tak boleh kalah dengan prestasi para pendahulu kita dalam memberi konstribusi buat Islam.

Belum lagi tausiyah di sesi-sesi yang lain. Masya Allah, sangat membakar semangat kita.

Buat kawan perjuangan...
Yang masih asyik dengan say hallo dengan kawan tak peduli program.
Mumpung masih ada waktu tuk mengenyam
Semua tausyiah dari materi yang pagi maupun malam
Ayooo kuatkan kaki dan jangan lupa makan.

Perjuangan kita di daerah sangatlah rapuh tanpa spirit perjuangan
Pertahanan kita didaerah akan bobol tanpa adanaya garis komando
Pertahanan kita didaerah akan patah tanpa barisan ukhuwah dan kepercayaan kita pada lembaga ini.

Sabtu, 24 November 2018

Gelar Silaturahim Daiyah, Muslimat Hidayatullah Anugerahkan Award 3T

BALIKPAPAN - Terjun ke gelanggang dakwah berarti melebur diri untuk siap berkorban demi umat. Dibutuhkan kerjasama dan sinergi dari berbagai pihak untuk mewujudkan suksesnya pelayanan umat tersebut.

Sekurangnya, itulah kesamaan visi misi yang menyatukan para daiyah ketika berkumpul di acara "Silaturahim Daiyah 3T, Terpencil, Terluar, dan Terdalam" di Kel. Teritip Balikpapan Timur, baru-baru ini.

Acara yang dipelopori oleh Pengurus Pusat (PP) Muslimat Hidayatullah tersebut berlangsung semarak, diikuti lebih dari lima ratus orang daiyah yang datang dari seluruh penjuru Indonesia.

Selain reuni dan temu kangen, peserta silaturahim juga saling menguatkan dan merapikan barisan guna menghadapi tantangan dakwah yang dijalani.

"Alhamdulillah. Silaturahim ini menjadi pengobat rindu kami yang bertugas di pelosok daerah," ucap Munawwarah, daiyah yang sudah 20 tahun lebih berdakwah di berbagai wilayah Sumatera.

Dijelaskan Hapseni, Ketua Departemen Dakwah PP Mushida, selain silaturahim, agenda ini diupayakan untuk menyusun program bersama sekaligus evaluasi agenda sebelumnya.

"Tentu ini bukan kumpul-kumpul biasa. Di dalamnya membicarakan dakwah dan persatuan di tengah umat serta peluang kerjasama dan sinergi dengan semua pihak," paparnya singkat.

Di akhir acara, Panitia yang disebut Majelis Murabbiyah (MM) memberikan penghargaan (award) kepada enam daiyah yang dianggap menginspirasi dalam dakwahnya. Khususnya kategori 3T di atas. Yakni Terpencil, Terluar, dan Terdalam wilayahnya.

Mereka adalah Arfi (Jawa Timur), Nurlaila (Sulawesi Barat), Maryam (Sulawesi Selatan), Syarifah (Sulawesi Selatan), Nur Hidayah (Kalimantan Utara), dan Armiah (Kalimantan Timur).

"Alhamdulillah. Jujur saya merasa tidak pantas menerima award. Saya berdakwah karena ingin semua orang mengenal Allah dan bahagia dengan agamanya," ungkap Arfi menerangkan motivasi dakwahnya.

Saat ini, Arfi membina dan menjadi penyuluh agama Islam untuk dua puluh dua majelis taklim di sela kesibukannya mengurus keluarga di rumah. Mulai dari pengajian di kalangan istri dosen hingga anak-anak jalanan di kawasan pemulung dan tempat pembuangan sampah di kota Surabaya.

Lain kisah dari Nurlaila, daiyah asal Mamuju, Sulawesi Barat. Jatuh dari motor dalam misi dakwah adalah hal biasa baginya

Selain faktor usia kendaraan yang menua, kondisi jalan yang licin dan terjal menjadi sarapan Nurlaila setiap waktu.

"Saya tidak punya alasan tidak mendatangi mereka. Semangat masyarakat menuntut ilmu begitu tinggi. Ini tanggung jawab saya," pungkas Nurlaila tegar.

Tim Warta Mushida

Jumat, 23 November 2018

Mengutamakan Tamu Silatnas dari Jauh, Kafilah Sangatta Kontrak Rumah

SETELAH pertemuan bersama Bapak Pimpinan Hidayatullah KH Abdurrahman Muhammad, masing-masing peserta kafilan Silatnas Hidayatullah dari berbagai daerah di Indonesia menyebar mencari posisi wenak di pinggir empang (pe-em).

Saat tim Warta Mushida melihat-lihat ternyata ada beberapa halaqoh bercengkrama bersama dengan peserta lainnya seraya menikmati makan siang bersama.

Kami pun menghampiri dan berkenalan, berbincang-bincang dengan halaqoh Sangatta. Saat menanyakan wilayah penginapannya dimana.

Mereka serentak menanggapi kalau mereka tidak menginap di dalam kampus Hidayatullah Gunung Tembak yang menjadi pusat acara, melainkan mengontrak di luar kampus.

Kami pun menanyakan alasannya, mengapa? Salah satu di antara mereka menjawab, "kami kan tuan rumah disini, jadi biarlah kami mengususkan penginapan dalam kampus untuk saudari-saudari dari Halaqoh di luar Kalimantan Timur," terang Fauziah sambil tersenyum. Subhanallah, indahnya persaudaraan.

TIM WARTA MUSHIDA

Peneliti ISA: Peduli Baitul Maqdis Bukti Iman yang Menyala

Mementingkan urusan sekaligus mencintai Baitul Maqdis adalah indikasi keimanan yang menyala dalam jiwa orang beriman.

Hal itu ditegaskan oleh Santi WE. Soekanto, peneliti Institut Al-Aqsha untuk Riset Perdamaian (ISA) dalam paparannya saat Talk Show yang digelar di Balikpapan, beberapa waktu lalu.

"Beriman kepada Allah berarti mementingkan, mencintai, dan memikirkan tempat-tempat yang dipentingkan, dicintai, dan dipikirkan oleh Allah. Salah satunya ialah Baitul Maqdis," ujar Santi Soekanto.

Menurut relawan Sahabat Al-Aqsha (SA) itu, Baitul Maqdis punya kedudukan istimewa secara nash tekstual dan rekam jejak sejarah umat Islam.

Di antaranya, lanjutnya, Baitul Maqdis merupakan pusat berkah dunia sekaligus kiblat pertama umat Islam. Baitul Maqdis juga menjadi tanah pilihan Allah untuk ditempati sejumlah Nabi utusan Allah.

Lebih jauh, masih dalam paparan peneliti, Baitul Maqdis juga menjadi tempat berkumpulnya Nabi dan Rasul saat Nabi Muhammad diperjalankan dalam peristiwa Isra dan Mikraj. Ia penting dan strategis bagi orang beriman sejak masa dahulu hingga Akhir Zaman kelak.

"Itulah mengapa kita harus senantiasa mencintai, membela, dan memperjuangkan Baitul Maqdis yang tengah dijajah Yahudi Zionis saat ini," jelas wartawan senior tersebut.

Untuk diketahui, acara Talk Show digelar di sela rangkaian semarak kegiatan Silaturahim Nasional (Silatnas) Hidayatullah yang berlangsung 22-25/11 di Kampus Gunung Tembak, lalu.

Tim Warta Mushida

Rabu, 12 September 2018

PW Muslimat Hidayatullah Maluku Utara Sambangi Annisa Tobelo

TOBELO - Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Maluku Utara menyambangi adik-adik Annisa di Tobelo, Halmahera Utara. Rombongan kecil ini berada di Tobelo selama 5 hari.

Alhamdulillah sebuah kesyukuran bisa berkumpul dengan orang-orang shaleh dai daiyah se Maluku Utara di Desa Togoliua, Kecamatan Tobelo Barat, Kabupaten Halmahera Utara. Sebuah desa yang di apit oleh desa yang berpenduduk sangat minoritas muslim.

"Kegiatan halaqah Qubro PW Muslimat Hidayatullah Maluku Utara yang biasa kami lakukan setiap 3 bulan sekali d DPD 2 bergilir. Alhamdulillah di DPD Tobelo Halmahera Utara ini ada dua keluarga muda dai yang bertugas. Mereka berdakwah melalui pendidikan," kata Qibtiya, salah seorang pengurus PW Annisa Hidayatullah Maluku Utara.

Qibtiya mengatakan, Alhamdulillah kini sudah berdiri SMP dan SMA di desa tersebut.

Qibtiya dan rombongan merasa terharu dengan sambutan hangat yang luar biasa dari tuan rumah adalah hal membuat pihaknya sangat bahagia.

"Walau mereka masih punya bayi kecil kecil mereka menerima kami sebagai tamu dengan sepenuh hati.  Alhamdulillah usai halaqah Qubro teman teman rombongan pulang ke daerah masing masing dengan gembira," ujarnya.

"Alhamdulillah banyak sekali oleh-oleh yang bisa mereka bawa. Saya dan keluarga kecil saya masih tertinggal di sini karena ada tugas yang belum saya selesaikan yaitu mengaktifkan kegiatan Annisa Hidayatullah di semua daerah yang memiliki santri putri sesuai hasil Rakerwil Mushida yg telah kami laksanakan pada bulan Februari kemarin," kata Qibtiya.

Qibtiya diberi kesempatan waktu 2 hari untuk menuntaskan materi Annisa Tsaqofiyah dan Jasadiyah. Sehari full kegiatan mulai pagi materi tentang kelembagaan, Annisa, Materi Kepanduang dan sore hari ditutup dengan Outbound Jejak Rasul.

Lanjut malam hari yang bertepatan dengan Malam Tahun Baru Islam 1 Muharram 1440, digelar agenda refleksi Muharram yang diisi oleh Qibtiya yang turt dibantu sang suami.

"Alhamdulillah di sini saya banyak belajar bagaimana ketika kita sudah siapkan segala materi presentasi menggunakan media sehingga tidak ada dalam fikiran saya untuk bertanya apakah di Tobelo ada LCD. Sehingga setengah jam sebelum acara dimulai saya baru dapat info kalau di sini tidak layar proyektor. Masya Allah, padahal materi saya siapkan dengan laptop semua.
Akhirnya segera putar otak mencari cara untuk menyampaikan materi secara manual tanpa alat bantu," kisah Qibtiya.

Pada kesempatan tersebut Qibtiya juga menyampaikan materi tentang Annisa Musida dan melakulam refleksi Tahun Baru Islam dengan mengajak para muslimah Annisa untuk tetap bersemangat menuntut ilmu dalam rangka mengembangkan potensi diri untuk membangun umat, bangsa dan negara.*

FOTO-FOTO:






Info Lainnya

Copyright Mushida.org © 2018 | Kontak Kami