Meneguhkan Kiprah Kebangsaan Muslimat Hidayatullah

Pengabdian teguh meluas Muslimat Hidayatullah untuk agama dan bangsa Indonesia.

Sekuntum Bunga untukmu Wahai Pecinta Keluarga

Muslimat Hidayatullah menyadari beratnya tantangan kepengasuhan anak di masa mendatang.

Saudara Muslimahku Tetaplah Teguh Imanmu

Engkau tak sendiri, tetaplah tegar. Rahmat Allah SWT bagimu atas kesabaranmu

Berita Terbaru

Siaran Pers

Pengurus Pusat

Album Kegiatan

Annisa News

Rabu, 20 Maret 2019

Gelar Rakernas 2019, Muslimat Hidayatullah Kuatkan Tarbiyah Dakwah

Muslimat Hidayatullah yang merupakan organisasi otonom pendukung (orpen) Hidayatullah, menyelenggarakan Rapat Kerjas Nasional (Rakernas) III Tahun 2019 di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Jawa Timur, yang dibuka pada Selasa (19/3/2019). Pada Rakernas ini, tema yang diangkat adalah “Menguatkan Mainstream Tarbiyah Dakwah Muslimat dalam Mendukung Ketahanan Keluarga Indonesia”.

Ketua Umum Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah (PP Mushida), Reni Susilowaty, mengatakan ketahanan keluarga menjadi isu sentral yang menjadi prioritas gerakan Muslimat Hidayatullah.

Karena itu, lanjut dia, target-target kegiatan Muslimat Hidayatullah tidak saja penyadaran terhadap peran penting wanita atau ibu dalam mewujudkan ketahanan keluarga, tetapi juga berupaya mempromosikan nilai-nilai agung peradaban Islam dalam membangun ketahanan keluarga yang mengintegrasikan keterlibatan anggota keluarga khususnya ayah dan masyarakat secara luas.         

“Dalam hal ini, antara wanita dan pria bukan sebagai mitra setara, melainkan sebagai mitra sinergis dalam rangka mewujudkan ketahanan keluarga yang berkeadaban dan berketuhanan dengan menjunjung tinggi ajaran agama,” kata Reny dalam keterangannya kepada media, Rabu (20/3/2019).

Reny mengatakan, penguatan tarbiyah dakwah Muslimat Hidayatullah bersesuaian dengan tuntutan zaman di mana kita menghadapi tantangan yang dinamis dengan kompleksitasnya masing-masing. Tentu hal itu merupakan rintangan yang tidak ringan.

Sehingga, lanjut Reny, fenomena tersebut mesti dihadapi dengan satu sikap kedewasaan namun tetap  dengan kewaspadaan. Seperti dalam menghadapi dinamika  gaya hidup seperti –misalnya- dengan lahirnya istilah generasi millenial dan kaitannya dengan ledakan bonus demografi  bangsa kita. 

“Karena itu dalam melakukan pembinaan generasi millenial, penting juga menyertakan pengetahuan dan pemahaman keagamaan. Ini penting untuk menguatkan imunitasnya sebagai generasi muda yang memilliki prinsip yang teguh,” ujar Reny. 

Pemerintah melalui Undang-undang yang ada pun, sebut Reny, telah mengamanatkan pentingnya melakukan upaya mengokohkan ketahanan  keluarga sebagaimana dinukil Pasal 48 UU No. 52 Tahun 2009, tentang Pembinaan Ketahanan Remaja dilakukan dengan memberikan akses informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan tentang kehidupan berkeluarga.

“Membangun keluarga yang berkualitas  bukan saja soal memahami kesehatan reproduksi, ketercukupan ekonomi apalagi menuntut kesetaraan antar laki-laki dan perempuan. Keluarga berkualitas adalah terbangunnya harmoni, terjalinnya hubungan yang sinergis dan tersemainya kasih sayang dalam keluarga serta tegaknya nilai-nilai luhur Islam dalam keseharian. Bahagianya dunia akhirat,” tukasnya.

Melalui Rakernas ini, Reny mengatakan, Muslimat Hidayatullah ingin terus meneguhkan kiprah dalam rangka mengokohkan ketahanan keluarga Indonesia dan menghindarkan bangsa ini dari pengaruh negatif globalisasi seperti permisifisme, feminisme, liberalisme dan sekularisme. 

“Kokohnya negeri yang kita cintai ini diawali dengan kokohnya ketahanan setiap keluarga Indonesia. Dan yang amat berperan penting di sini adalah orangtua khususnya ibu sebagai madrasatul ula, pendidik yang pertama dan utama. Bersama Mushida, insya Allah, kita tegakkan peradaban bangsa,” tukasnya.

Pada kesempatan pembukaan tersebut, Reni Susilowaty menyapa para ibu-ibu senior Muslimat Hidayatullah dan para ibu senior pengawal Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Reny berharap Rakernas III yang juga menjadi Rakernas terakhir di tahun kepengurusan 2015-2020 ini berjalan lancar.

Ketua Panitia Rakernas III Mushida, Retnowati, mengatakan, Rakernas ini dirangkai dengan dua acara yang akan dilaksanakan secara paralel, yaitu Trainng For Trainer (TOT )Sirah Nabawiyah dan Pelatihan Kepemimpinan Ummahat. Dia menambahkan, dari 33 Pengurus Wilayah, ada 3 PW Muslimat Hidayatullah yang berhalangan hadir, yakni Sumatera Barat-Riau, Sumatera Selatan dan Maluku Utara.

FOTO-FOTO:






Sabtu, 02 Maret 2019

PW Mushida Jabodebek Minta RUU P-KS Harus Selaras dengan Pancasila

DEPOK - Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah (Mushida) Jabodebek sejalan dengan semangat Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) apabila untuk mencegah terjadinya kejahatan seksual seperti perkosaan dan pencabulan.

Namun, Mushida Jabodebek menegaskan, pengesahan RUU P-PKS harus selaras dengan Pancasila sebagai falsafah bangsa dan dan tak menjadi tunggangan untuk melegalisasi penyimpangan yang berlawanan dengan Pancasila seperti pelacuran, lesbian, gay, biseksual dan transeksual (LGBT).

Ketua PW Mushida Jabodebek, Siti Marsiti, mengatakan dalam setiap pasal dalam RUU PKS memang tak tertuang bahwa perzinahan dan LGBT tidak dilarang. Namun, ia menilai, bunyi dari Pasal 1 dan 11 RUU PKS itulah yang seolah-olah mengizinkan perzinahan dan LGBT.

"Karena ini untuk kepentingan nasional khususnya keluarga Indonesia yang peduli terhadap keluhuran peradaban bangsa, maka tentu kita perlu memberi kritik terhadap RUU PKS ini. Jangan sampai bias dan kontra Pancasila," kata Marsisi dalam keterangan persnya, Sabtu (2/3/2019).

Mengutip studi Center for Gender Studies (CGS), Marsiti menyebutkan, pengaruh feminisme dalam kampanye penghapusan kekerasan seksual dalam RUU PKS ini tampak jelas dari penggunaan kata-kata “relasi kuasa atau relasi gender” dalam definisi kekerasan seksual yang menyiratkan peperangan terhadap konsep patriarki.

Kekerasan seksual yang dimaksud para feminis merupakan bentuk dari  gender-based violence atau kekerasan berbasis gender, yaitu mencakup orientasi seksual, identitas gender, dan ekspresi gender. (Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual, Februari 2017).

Filosofi yang mendasari munculnya konsep kekerasan seksual adalah pandangan bahwa kebebasan sejati perempuan hanya bisa diwujudkan apabila perempuan dapat mengontrol tubuhnya sendiri, my body is mine.

CGS menemukukan bahwa salah satu elemen penting patriarki adalah kontrol terhadap aktivitas seksual dan reproduksi dari tubuh perempuan. Pandangan tersebut merupakan ciri khas “worldview” kaum feminis radikal. Apabila masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim mampu memahami ajaran dan nilai-nilai universal Islam maka mereka akan tegas menolak konsep kekerasan seksual yang ditawarkan feminisme.

Karena itu, Marsiti menyarankan agar RUU PKS dikaji ulang secara lebih konfrehensif agar selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa yang menjunjung tinggi nilai agama dan norma-norma Pancasila. Ia pun menyesalkan stigma sejumlah pihak yang menuding kritikus RUU PKS ini dilakukan oleh kelompok konservatif Islam.

"Kritik atau penolakan terhadap RUU PKS hanyalah implikasi dari gejala sosial yang mengemuka. Kenapa kritik yang sebetulnya konstruktif malah diidentifikasi sebagai konservatisme. Jadi tidak perlu paranoid," imbuhnya.

Justru, lanjut dia, adanya suara berbeda dari mayoritas masyarakat tersebut mestinya menjadi pertimbangan sebagai beleid agar RUU PKS tetap sejalan dengan nilai etika bangsa Indonesia yang Berketuhanan yang Maha Esa dan berkemanusiaan yang beradab.

Jumat, 15 Februari 2019

Annisa SMP-SMA Hidayatullah Timika Terbitkan Buku Kumpulan Puisi

KEREN! Itulah satu kata untuk para siswa SMP-SMA Hidayatullah Timika yang berhasil menghimpun ragam puisi karya para pelajar di sekolah ini yang kemudian dibukukan dan diterbitkan secara indie oleh Penerbit Cerita Kata (PCK).

Buku yang sudah memasuki masa pre-oder mulai 15-28 Februari 2019 ini berjudul "Rinai Aksara Surga" yang merupakan karya sejumlah santriwati dari SMP-SMA Hidayatullah Timika, Provinsi Papua.

Terbitnya buku ini juga berkat dorongan dari Departemen Annisa Muslimat Hidayatullah Wilayah Papua yang selama secara intensif memberikan pendampingan bagi para remaja putri ini.

Diantara penulis buku kompilasi kumpulan puisi ini, ada nama Nur Lailatul Jannah, Aine Mayla, Sarah, dan masih banyak lagi lainnya.

Buku ini tentu pas banget buat dibaca oleh para putri kader Annisa. Selain menikmati untaian prosa dan rinai aksara karya temen-temen kamu dari Papua, diharapkan buku ini juga mendorong kamu untuk berkarya yang sama mengembangkan bakat menulis.

Yuk, mari dukung mereka agar lebih bersemangat dalam berliterasi dengan membeli karya-karya mereka yang luar biasa.

Menariknya, selama masa pre-order, harga buku ini dibanderol hanya Rp.60.000 (belum termasuk ongkir) dan dapatkan hadiah 1 buah ganci cantik. Pengen punya buku ini? Hubungi Laila 0811-4990-035 (SMS/WA Only)

Minggu, 10 Februari 2019

Kader Mushida Gorontalo, Sulut dan Maluku Utara Ikuti Marhalah Wustha

DALAM rangka meningkatkan kapasitas dalam rangka mengemban tugas sebagai daiyah di berbagai amal usaha, Pengurus Wilayah Muslimat Hidayatullah Sulawesi Utara dan bekerjasma dengan Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah, menggelar kegiatan pelatihan mutu diri atau Marhalah Wustha yang digelar di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Bitung selama tiga hari, 8-10 Februari 2019.

Kegiatan yang berlangsung khidmat sekaligus sebagai ajang temu silaturrahim ini mengusung tema "Mencetak dan Meningkatkan Kualitas Kader Muslimat Hidayatullah Menuju Keluarga Qur'ani" ini mengundang pengisi acara yakni Ketua Umum DPP Hidayatullah KH Dr Nashirul Haq, Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah Drs Ahkam Sumadiana.

Selain itu, acara ini semakin menarik dan menambah antusias peserta karena menghadirkan narasumber instruktur nasional Muslimat Hidayatullah Ustadzah Amalia Husna Bahar yang dikenal juga sebagai pakar sejarah dan Ustadzah Sarah Zakiyah yang selain ibu rumah tangga juga merupakan pegiat pendidikan.

Puluhan peserta perwakilan dari berbagai daerah Mushida tiga daerah provinsi ini mengikuti acara ini dengan seksama. Saat pesan dan kesan, peserta merasa bersemangat, bertambah wawasan, dan kecintaan terhadap gerakan dakwah Hidayatullah.

"Kami ingin selalu ada acara rutin seperti ini yang men-charge energi ruhiyah kami sebagaimana di Marhalah Wustho ini," kata salah seorang peserta dari Maluku Utara.

Letak wilayah mereka dan kondisi geografis antar daerah kepengurusan yang terbilang jauh menjadi salah satu sebab keterlambatan informasi tentang ke-Hidayatullahan dan kemuslimatan. Para peserta berjanji membaca semua referensi yang berkaitan tentang manhaj dakwah Hidayatullah khususnya metolodogi sistematika wahyu.*/

Selasa, 29 Januari 2019

Kampus Ponpes Hidayatullah Liang Tuan Rumah Training Annisa se-Maluku

KAMPUS Pondok Pesantren Hidayatullah Liang, Ambon, menjadi tua rumah acara training motifasi dan bina aqidah Annisa se-Provinsi Maluku yang diaadakan oleh Departemen Annisa PW Muslimat Hidayatullah Maluku yang digelar selama 2 hari, pada tanggal 28-29 Januari 2019. 

Acara ini diikuti dengan sangata antusias oleh sedikitnya 55 kader Annisa yang merupakan perwakilan Annisa Hidayatullah daerah se-Maluku.

Kegiatan ini dibuka oleh Ketua Yayasan Hidayatullah Liang Ambon, Ustadz Muhammad Fatih, sekaligus menyampaikan sambutan pengarahannya. Dalam sambutannya, Ust Fatih menyampaikan pentingnya peran wanita sebagai tiang negara dan penegak peradaban.

"Wanita mejadi point penting dalam peradaban. Dimana wanita-wanitalah yg menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Di tangan-tangan wanitalah  akan mencetak generasi-genarasi pelanjut tentu dengan kerjasama dengan pasangannya," kata Ust Fatih.

Beliau menekankan, tentu untuk melahirkan wanita-wanita yang shalehah dimulai dari dini. Sebab keshalehan adalah habit yang harus dibiasakan sejak dini. Ia berpesan kepada para gadis-gadis remaja ini sebelum menjadi seorang ibu kalian harus menjadi seorang santriwati shalehah yang peduli syariat.

"Dengan adanya acara ini mudah-mudahan semakin menambah ilmu bagi kita semua untuk menjadi generasi terbaik pembangun peradaban Islam untuk kemaslahatan umat dan kebaikan bangsa Indonesia tercinta," tutup Ust Fatih.

Alhamdulillah, dalam acara ini selain diberikan materi yang sudah dipersiapkan oleh Pengurus Pusat Muslimat Hidayatullah dan dikemas dengan menarik membuat para peserta semangat mengikuti dari awal sampai akhir. Acara ditutup dengan acara malam renungan serta berpegangan tangan membangun komitmen bersama untuk menjadi generasi pelanjut Muslimah Hidayatullah yang unggul cerdas dunia akhirat.

MUSLIMAH PUTRI

Senin, 28 Januari 2019

Meski Terkendala Jarak, Kegiatan Training Annisa Papua Berjalan Semarak

Puluhan remaja putri mengikuti kegiatan pelatihan motifasi dan pengembangan diri yang digelar oleh Departemen Annisa PW Muslimat Hidayatullah Papua yang diselenggarakan di Kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Manokwari, Sabtu-Ahad (28-29/12/2019).

Acara tersebut berjalan cukup semarak kendati belum sepenuhnya optimal karena tak semua daerah Muslimat Hidayatullah se-Provinsi Papua dapat mengirimkan utusannya karena karakteristik kawasan ini yang memang tidak sederhana untuk ditempuh dalam waktu tertentu, selain juga karena pertimbangan biaya yang tidak sedikit.

Kendati hanya mendapatkan coaching dari Jakarta melalui sambungan visual teleconference dikarenakan letak wilayah mereka yang jauh, para peserta nampak antusias mengikuti beragam rangkaian acara pelatihan pengembangan diri ini.

Trainer yang dikepalai oleh Nusaibah Haryati pun mengaku amat berbahagia menyaksikan semangat para remaja putri ini. Para peserta mengaku ingin mendapatkan training-serupa serupa dan tak hanya berhenti di sini.*/

Info Lainnya

Copyright Mushida.org © 2018 | Kontak Kami